JAKARTA, KOMPAS.com - Warga Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jakarta dan wilayah Jabodetabek menghimpun bantuan bagi masyarakat yang terdampak gempa di sejumlah wilayah NTT.
Gerakan solidaritas tersebut diwujudkan melalui pembentukan Tim Aksi Peduli Gempa Flores, yang melibatkan keluarga besar NTT, paguyuban, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, profesional, serta relawan.
Ketua Tim Aksi Peduli Gempa Flores, Gregorius Upi Dheo, mengatakan gerakan tersebut muncul setelah warga NTT di perantauan melihat besarnya dampak gempa yang melanda daerah asal mereka.
Baca juga: Warga NTT di Jabodetabek Bentuk Tim Aksi Peduli Gempa NTT
“Tim Aksi Peduli Gempa Flores lahir dari keprihatinan dan solidaritas bersama setelah melihat besarnya dampak gempa bumi yang melanda Flores dan sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur,” ujar Greg kepada Kompas.com melalui WhatsApp, Kamis (20/8/2026).
Gerakan tersebut juga mendapat dukungan dari Badan Penghubung Provinsi NTT, Ikatan Keluarga Besar NTT se-Jabodetabek, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan asal NTT.
Kantor Badan Penghubung Provinsi NTT di Jalan Tebet Timur Dalam Raya Nomor 42, Jakarta Selatan, digunakan sebagai salah satu titik konsolidasi untuk menerima bantuan berupa barang dan logistik.
Sementara itu, donasi dalam bentuk uang dihimpun melalui rekening resmi yang diumumkan oleh tim dan dikonfirmasi melalui sekretariat.
Baca juga: Update Gempa NTT: Korban Meninggal Dunia Bertambah Jadi 75 Orang
Greg mengatakan, seluruh bantuan yang masuk akan dicatat berdasarkan sumber, jenis, jumlah, dan waktu penerimaan. Data tersebut kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
Menurut dia, mekanisme tersebut diterapkan agar setiap bantuan dapat dipertanggungjawabkan sejak diterima hingga disalurkan kepada masyarakat.
“Setiap bantuan yang masuk harus bisa ditelusuri, setiap bantuan yang keluar harus bisa dipertanggungjawabkan,” kata Greg.
Bantuan Disesuaikan dengan Kebutuhan di LapanganDalam proses penyaluran, Tim Aksi Peduli terlebih dahulu memetakan kebutuhan masyarakat melalui informasi dari BPBD, pemerintah daerah, Badan Penghubung, jaringan relawan, serta penanggung jawab atau PIC di lapangan.
Informasi tersebut digunakan untuk menentukan jenis dan jumlah bantuan, termasuk wilayah yang menjadi prioritas. Langkah ini dilakukan agar bantuan tidak menumpuk di satu lokasi, sementara daerah lain masih kekurangan.
Baca juga: DKI Kirim Bantuan Rp 5,8 Miliar ke NTT: Ada Obat, Popok, hingga 202 Toren Air
“Prinsipnya adalah tepat kebutuhan, tepat sasaran, tepat lokasi dan tepat waktu,” jelas Greg.
Saat ini, kebutuhan yang dihimpun tim meliputi tenda dan terpal, makanan siap saji, beras, air minum, matras, selimut, obat-obatan, genset, peralatan dapur, family kit, serta kebutuhan bayi dan perempuan.
Sejumlah wilayah juga melaporkan kebutuhan tambahan berupa tandon air dan toilet portabel untuk mendukung kondisi pengungsian.





