Israel Dihantam "Tsunami" Baru, Negara Bisa Terguncang Hebat

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: Pemandangan dari drone terhadap keluarga sandera dan pendukung mereka yang berunjuk rasa menjelang peringatan dua tahun serangan mematikan pada 7 Oktober 2023 di Israel oleh Hamas, yang menuntut pembebasan segera semua sandera dan diakhirinya perang di Gaza, di Tel Aviv, Israel, 4 Oktober 2025. (REUTERS/Rei Ash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang warga Israel yang meninggalkan negaranya terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, memicu kekhawatiran terhadap masa depan sosial, politik, dan ekonomi negara tersebut. Tren ini terjadi menjelang pemilihan penting yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini.

Studi Universitas Tel Aviv yang menggunakan data Biro Pusat Statistik Israel menemukan hampir 270.000 warga Israel meninggalkan negara itu selama 2023-2025. Jumlahnya mencapai lebih dari 86.500 orang pada 2023, sekitar 91.500 pada 2024, dan kembali berada di kisaran yang sama pada 2025.

Gilad Kariv, anggota oposisi sekaligus Ketua Komite Urusan Imigrasi, Penyerapan, dan Diaspora parlemen Israel, menyebut kondisi tersebut sebagai "tsunami" emigrasi. Menurut dia, pemerintah tidak menunjukkan langkah memadai untuk menghentikan arus keluar tersebut.


Pilihan Redaksi
  • Iran Ancam ke Negara Arab Teluk, Beri Ultimatum Keras Bila Lakukan Ini
  • Bos Mossad Diam-Diam Hubungi Negara Arab Ini, Tiba-Tiba Bidik Turki
  • Iran Buat Taktik Baru Lawan AS, Sebut Strategi Mematikan-Agresi Taktis

Data otoritas pajak Israel juga menunjukkan emigrasi pada 2023 dan 2024 lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Yang menjadi perhatian, warga yang pergi semakin banyak berasal dari kelompok berpenghasilan tinggi, berpendidikan, dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan perekonomian.

Ahli demografi Israel Sergio Della Pergola mengatakan gelombang kali ini berbeda dari periode sebelumnya yang biasanya dipicu persoalan ekonomi jangka pendek.

"Kali ini, tidak jelas peran apa yang dimainkan ekonomi," kata Della Pergola, seperti dikutip dari Al Jazeera, Kamis (20/8/2026). Ia menyebut ketidakpastian keamanan dan kekhawatiran terhadap arah politik Israel sebagai faktor penting.

Menurutnya, polarisasi politik juga semakin dalam setelah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendorong perubahan sistem peradilan pada 2023. Kebijakan tersebut memicu aksi protes besar, sementara perang setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 turut memperkuat kekhawatiran sebagian warga mengenai masa depan negara.

Profesor imigrasi dan demografi Lilach Lev Ari mengatakan profil emigran baru semakin didominasi keluarga muda berpendidikan tinggi dan berprestasi.

"Makin banyak, keluarga muda yang berpendidikan tinggi dan berprestasi tinggi meninggalkan negara ini," ujarnya, mengaitkannya antara lain dengan reformasi peradilan, situasi sosial-politik, dan perang.

Dampaknya dinilai berpotensi serius bagi ekonomi Israel yang sangat bergantung pada inovasi dan teknologi.

"Kami kehilangan beberapa orang yang kompeten, tetapi kami masih memiliki orang-orang baik di sini," kata Lev Ari, namun ia mengingatkan gelombang emigrasi tersebut telah berlangsung hampir tiga tahun dan terus meningkat.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Penampakan Sungai Barito Mengering, Berubah Bak Gurun Pasir

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Appi Bongkar Enam Penyebab Serapan APBD Makassar Rendah
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Changan Klaim Pesanan Nevo Q05 Sampai Ratusan Unit
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Bentuk Tim Aksi, Warga NTT di Jabodetabek Tak Sekadar Galang Donasi Gempa
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Shin Tae-yong Ungkap Hal yang Lebih Penting dari Kemenangan Persija atas Police Tero
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemenperin Pacu Hilirisasi Minyak Atsiri, Ekspor Sentuh Rp6,2 Triliun pada 2025
• 11 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.