Pertumbuhan Ekonomi Saja Tak Cukup Jadi Tolok Ukur Keberhasilan Suatu Pemerintahan

idxchannel.com
6 jam lalu
Cover Berita

Pertumbuhan ekonomi dinilai tidak cukup dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pemerintah.

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tak Cukup Jadi Tolok Ukur Keberhasilan Suatu Pemerintahan. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Pertumbuhan ekonomi dinilai tidak cukup dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pemerintah. Sebab, pertumbuhan yang tinggi kerap dibarengi dengan persoalan ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan.

"Sejak reformasi, kita begitu setia pada satu keyakinan, keberhasilan itu diukur dari seberapa tinggi angka pertumbuhan. Semakin tinggi pertumbuhan, seolah semakin berhasil suatu pemerintahan," ujar Akademisi yang juga Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet dalam sesi diskusi yang digelar di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Baca Juga:
BPS Catat Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29% di Triwulan II 2026

Namun, dia menilai terdapat harga yang harus dibayar dari paradigma pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kata dia, sering kali mengorbankan pemerataan dan kelestarian lingkungan.

"Pertumbuhan yang tinggi itu seringkali ya mengorbankan pemerataan, dia juga mengorbankan kelestarian lingkungan," ujarnya.

Baca Juga:
BI Sebut Ketidakpastian Global Masih Tinggi, Pertumbuhan Ekonomi Dunia Diproyeksi 3,0 Persen

Alim mencontohkan kondisi ketimpangan di Indonesia yang masih tercermin dari rasio Gini di kisaran 0,38. Sementara itu, kelompok 40 persen penduduk terbawah disebut hanya menikmati tidak lebih dari 20 persen total distribusi pengeluaran nasional.

Baca Juga:
Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh Kisaran 4,9-5,7 Persen di Akhir 2026

"Angka pertumbuhan naik, tetapi jurang di baliknya saya kira tidak kunjung menyempit," kata dia.

Alim menilai paradigma pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan berpotensi menciptakan struktur ekonomi yang semakin timpang. Kelompok masyarakat terkaya dinilai lebih banyak menikmati manfaat pertumbuhan, sementara kelompok masyarakat berpenghasilan rendah justru menghadapi dampak yang lebih besar.

"Paradigma yang semata mengejar angka pertumbuhan saya kira cenderung melahirkan satu struktur ekonomi yang timpang. Dia menguntungkan kelompok 10 persen paling atas, sebaliknya ya merugikan 40 persen penduduk yang paling miskin," kata dia.

Selain ketimpangan, dia menyoroti dampak pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan sumber daya alam. Menurutnya, kerusakan lingkungan pada akhirnya bukan hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga dapat membebani perekonomian nasional.

"Pada saat yang sama, lingkungan dan sumber daya alam di berbagai sektor juga menanggung kerusakan. Dan ironisnya, kerusakan itu pada gilirannya justru menggerus perekonomian nasional kita sendiri," ujar dia.

Dia mencontohkan bencana banjir, kekeringan, hingga degradasi lahan. Menurut Alim, berbagai persoalan tersebut harus dilihat sebagai bagian dari persoalan ekonomi karena menimbulkan biaya dan kerugian bagi masyarakat maupun negara.

"Misalnya ada bencana banjir, kekeringan, dan juga degradasi lahan, saya kira bukan sekadar persoalan lingkungan semata. Dia bisa menjadi beban ekonomi yang cukup nyata juga," katanya.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral DC Gesek Rangka Mobil di GBK, Polisi: Dokumentasikan & Hindari Konfrontasi
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Jumat, 21 Agustus 2026: BMKG Prediksi Cerah
• 2 jam laludisway.id
thumb
Roy Suryo Sindir Kejaksaan dan Polisi "Tidak Dewasa", Kenapa?
• 14 jam lalucumicumi.com
thumb
Pangkalan AS Rusak Diserang Iran, Pentagon Kaji Pengurangan Pasukan di Timur Tengah
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Mulai 2027, Pemerintah Siapkan Skema PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu dan Peluang Jadi PNS
• 1 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.