BANJARBARU, KOMPAS.TV - Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Harun Arrasyid mengungkap akan adanya penyesuaian jam pembelajaran anak sekolah di tengah situasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurutnya, langkah itu dilakukan sebagai respons menghadapi ancaman kabut asap di wilayah tersebut yang makin mengkhawatirkan.
"Jadi terkait tadi masalah edaran anak sekolah, mungkin nanti sudah ada edaran dari Dinas Pendidikan, akan ada dimundurkan jam pembelajaran sampai dengan 09.30," kata Harun dalam Kompas Petang KompasTV, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, tidak semua daerah di Banjarbaru mengalami kabut asap yang parah. Harun mengungkap berbagai daerah mengalami kabut asap secara variatif.
Ia menyebut daerah paling parah mengalami kabut asap di antaranya adalah Landasan Ulin Selatan, Landasan Ulin Tengah, dan Landasan Ulin Timur.
Baca Juga: Kebakaran Lahan Dekat Perbatasan RI-Malaysia di Kalbar, Asap Sampai ke Negara Tetangga | SAPA MALAM
Harun mengungkap kondisi kabut asap di wilayah tersebut cenderung lebih tipis pada sore dibandingkan pagi hari.
Ia menjelaskan, ada kemungkinan kabut asap lebih tebal pada pagi hari karena pengaruh embun.
"Namun begitu menginjak tengah hari kabut asap berangsur menghilang. Namun, itu tidak menutup indeks pencemaran udara yang masih tetap di atas ambang batas," jelasnya.
Harun mengungkap indeks polusi udara di daerah itu buruk selama dua hari terakhir, berkisar antara 170-an mikrogram per meter kubik sampai 480-an mikrogram per meter kubik.
Menurutnya, kategori kondisi polusi udara itu sudah sangat tidak layak dan tidak sehat.
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Banjarbaru & Palangka Raya | SAPA MALAM
Warga Banjarbaru, Erli Santi mengungkap kondisi anak-anak sekolah di daerah tersebut yang tetap bersekolah meski di tengah kabut asap. Namun, anak-anak sekolah berangkat lebih siang dari biasanya.
"Tetap berangkat sekolah, tapi siang, menghilangkan kabutnya dulu," ungkapnya dalam program sama.
Sebagai dampak kabut asap, Erli juga mengaku aktivitas sehari-harinya menjadi terganggu. Ia harus mengenakan masker saat beraktivitas sehari-hari.
Tidak hanya itu, Erli mengatakan kabut asap membuat jarak pandang terganggu dan menyebabkan mata pedih.
"24 jam kami di sini menghirup asap. Setiap pagi mulai kabut, nggak ada kelihatan apa-apa," ucapnya mengungkap kondisi yang terjadi di tempat tinggalnya.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- banjarbaru
- kalsel
- kabut asap
- karhutla
- sekolah
- jam belajar





