*lOleh : Andi Killang
C.E.O & Founder Malacca Institute
Hubungan ekonomi Indonesia dan Italia memiliki ruang yang jauh lebih besar daripada sekadar aktivitas ekspor dan impor.
Di tengah perubahan lanskap perdagangan internasional, fragmentasi rantai pasok global, meningkatnya standar keberlanjutan, serta kompetisi mendapatkan investasi dan teknologi, kedua negara perlu melihat hubungan ekonomi sebagai kemitraan strategis jangka panjang.
Selama ini, perdagangan sering dipahami secara sederhana : Indonesia mengekspor, Italia mengimpor, atau sebaliknya. Paradigma tersebut perlu diperluas.Pertanyaannya bukan lagi sekadar “Apa yang dapat kita jual kepada Italia?”, tetapi : “Apa yang dapat Indonesia dan Italia bangun bersama untuk menciptakan nilai tambah, investasi, teknologi, lapangan kerja, dan akses pasar yang lebih luas ?”
Dalam perpektif perdagangan internasional modern, value creation menjadi semakin penting dibanding sekadar volume perdagangan. Indonesia memiliki sumber daya, pasar domestik yang besar, posisi strategis di ASEAN, serta potensi pariwisata yang sangat kuat.
Italia memiliki keunggulan dalam teknologi manufaktur, desain, machinery, fashion, culinary, hospitality, industri kreatif, dan kekuatan sektor small and medium enterprises (SMEs).
Pertemuan kedua kekuatan tersebut dapat menciptakan model baru : Indonesian Resources + Italian Technology + Investment + Innovation = Sustainable Global Value Chain.
Dari ekspor komoditas menuju produk bernilai tambahIndonesia memiliki peluang memperkuat ekspor ke Italia melalui kopi, kakao, rempah, produk makanan, furniture, tekstil, alas kaki, produk kreatif dan berbagai produk manufaktur.
Namun, tantangan Indonesia adalah bagaimana tidak berhenti sebagai commodity supplier.
Kopi, misalnya, tidak harus berhenti pada ekspor biji mentah. Indonesia dapat membangun ekosistem yang menggabungkan specialty coffee, teknologi pengolahan, roasting, branding, packaging dan distribusi sehingga nilai ekonomi yang tercipta semakin besar.
Di sinilah kemitraan dengan perusahaan Italia menjadi menarik. Investasi harus menghasilkan transfer teknologi Italia juga memiliki peluang untuk meningkatkan investasi di Indonesia, bukan hanya untuk melayani pasar domestik, tetapi menjadikan Indonesia sebagai production and distribution hub menuju ASEAN.
Model yang perlu didorong adalah : Italian SME + Indonesian Partner + Joint Venture + ASEAN Market.Kemitraan semacam ini lebih strategis dibanding hubungan antara investor dan konsumen semata. Indonesia memperoleh investasi, teknologi, pengetahuan dan lapangan kerja; perusahaan Italia memperoleh akses terhadap pasar Indonesia dan kawasan ASEAN.
Pariwisata sebagai bagian dari perdagangan jasa. Sektor pariwisata juga perlu ditempatkan dalam perspektif international trade in services.
Wisatawan Italia yang datang ke Indonesia pada dasarnya membawa devisa dan menciptakan permintaan terhadap transportasi, hotel, restoran, budaya, ekonomi kreatif dan berbagai jasa lokal.
Karena itu, promosi pasar Italia tidak seharusnya hanya menjual Bali.Indonesia dapat menawarkan pengalaman Beyond Bali : Yogyakarta, Borobudur, Prambanan, Bromo, Ijen, Flores, Komodo, Sulawesi, Toraja, Wakatobi dan berbagai destinasi berbasis budaya serta alam.
Lebih jauh lagi, investasi Italia dapat diarahkan pada boutique hospitality, eco-resort, culinary tourism, wellness, heritage tourism dan sustainable tourism.
Sustainability menjadi faktor daya saing. Pasar Eropa semakin menuntut produk yang memiliki traceability, sustainability, environmental compliance dan standar kualitas.Karena itu, isu lingkungan tidak lagi semata-mata persoalan regulasi.
Ia telah menjadi bagian dari strategi daya saing perdagangan internasional.
Indonesia perlu mempersiapkan eksportir dan UMKM agar tidak melihat standar Eropa sebagai hambatan, tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas dan posisi produk Indonesia dalam global value chain.
Momentum Indonesia–Italia. Dalam pandangan saya, hubungan Indonesia–Italia seharusnya bergerak dari paradigma :Trade → Investment → Technology → Tourism → Sustainable Value Creation.
Artinya, perdagangan menjadi pintu masuk; investasi memperkuat kapasitas; teknologi meningkatkan produktivitas; pariwisata memperluas perdagangan jasa; dan sustainability memastikan hubungan ekonomi tersebut memiliki daya tahan jangka panjang.
Pada akhirnya, keberhasilan hubungan ekonomi Indonesia–Italia tidak seharusnya hanya diukur dari berapa miliar dolar nilai perdagangan, tetapi dari berapa banyak nilai tambah, investasi produktif, transfer teknologi, lapangan kerja, inovasi, wisatawan dan akses pasar baru yang berhasil diciptakan bersama.
Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi Italia. Italia juga tidak seharusnya hanya menjadi pasar bagi Indonesia.
Yang lebih strategis adalah menjadikan keduanya sebagai partners in value creation—membangun produk, investasi, teknologi, pariwisata dan rantai nilai bersama untuk Indonesia, Italia, ASEAN, dan pasar global.*“From Buying & Selling to Building Together.”*





