Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menggelar pertemuan dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono di kantor DEN, Jakarta Pusat, Jumat (21/8/2026). Pertemuan tersebut terkait pembenahan tata laksana program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Satu hal yang ingin saya garisbawahi adalah setiap keputusan strategis harus berlandaskan pada data yang akurat, pengawasan ketat, dan keberanian melakukan koreksi jika ada kekeliruan," ujar Luhut seperti dikutip dari akun media sosial Instagram pribadinya.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu pun menyampaikan isi pembicaraannya dengan Presiden Prabowo Subianto setelah pidato kenegaraan yang disampaikan Jumat (14/8/2026).
"Bahwa meskipun MBG adalah program flagship beliau, tetapi ada tantangan terbesar, yaitu memastikan eksekusinya berjalan benar, konsisten, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," kata Luhut.
Luhut juga menekankan pentingnya refocusing lokasi SPPB ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pembangunan SPPG tidak boleh lagi sekadar mengikuti kemudahan berbisnis atau mencari lokasi yang mudah diakses.
Menurut Luhut, negara harus hadir lebih dahulu di tempat yang paling sulit dan paling membutuhkan. Penentuan lokasi wajib berbasis data yang akurat mengenai angka prevalensi stunting, kerentanan pangan, dan tantangan geografis.
"Sekitar 1.700 SPPG juga kini disiapkan berfokus di wilayah yang tingkat prevalensi stunting nya tinggi, seperti di Papua, Maluku, Nias, dan NTT," ujar Luhut.
Dalam kesempatan itu, Luhut mengapresiasi ketegasan Sudaryono untuk menutup sebanyak 1.300 SPPG yang belum memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan. Ketegasan seperti ini, menurut dia, diperlukan bukan hanya untuk mencari kesalahan, tetapi demi menjaga kualitas gizi anak-anak Indonesia sejak dari proses yang paling sederhana.
Lebih lanjut, Luhut memastikan DEN siap mendukung perbaikan tata kelola MBG dengan memberikan rekomendasi yang dibutuhkan serta memperkuat digitalisasi sistem BGN agar seluruh rantai pasok, kualitas makanan, hingga kinerja setiap SPPG dipantau secara transparan dan aktual.
"Karena untuk kualitas gizi masa depan anak-anak Indonesia, kita tidak boleh main-main. Setiap rupiah uang rakyat harus dipergunakan menjadi asupan bergizi dan menyehatkan bagi generasi penerus bangsa," kata Luhut.
(miq/miq)




