Sikaporo, Si Cantik Berlapis yang Sarat Makna

celebesmedia.id
4 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di antara ragam kue tradisional Sulawesi Selatan, ada satu yang selalu mudah dikenali begitu tersaji di atas bosara, yakni Sikaporo.

Teksturnya lembut menyerupai puding, dengan dua lapisan warna hijau dan kuning yang berpadu manis, gurih, dan wangi pandan.

Namun Sikaporo bukan sekadar kudapan biasa. Dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, kue ini punya tempat khusus di perhelatan-perhelatan penting, terutama pernikahan.

Ia disajikan bersama kue-kue tradisional lain dalam bosara, wadah khas Bugis-Makassar, baik untuk menjamu tamu maupun sebagai bagian dari hantaran keluarga mempelai.

Sejumlah kajian, termasuk yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, turut mencatat kehadiran Sikaporo dalam rangkaian upacara pernikahan adat.

Konon, Sikaporo dulunya bukan kue sembarangan. Kue ini pada masa lalu hanya boleh dinikmati kalangan bangsawan, sebelum akhirnya menyebar dan menjadi milik masyarakat luas.

Kini, siapa pun bisa menjumpainya—tak hanya di pesta pernikahan, tapi juga di acara syukuran, jamuan tamu, bahkan sebagai jajanan dan oleh-oleh di berbagai daerah Sulawesi Selatan.

Perjalanan itu menarik untuk disimak. Bagaimana sepotong kue yang dulu eksklusif bisa berubah menjadi warisan kuliner yang akrab di lidah banyak orang. Meski begitu, jejaknya sebagai kue pernikahan tak pernah benar-benar pudar.

Yang membuat Sikaporo istimewa bukan cuma rasanya. Dua lapisan warnanya kerap dimaknai secara simbolis dalam kehidupan berumah tangga.

Beberapa sumber tentang tradisi Bugis-Makassar menyebut Sikaporo sebagai lambang kelembutan, kesederhanaan, kasih sayang, dan harapan agar pasangan pengantin menjalani hidup bersama dengan bahagia.

Tentu saja, makna ini tidak berlaku sebagai tafsir tunggal—filosofi kue tradisional biasanya diwariskan lewat cerita lisan keluarga dan komunitas, sehingga bisa berbeda dari satu daerah ke daerah lain.

Namun satu hal yang pasti, kehadiran Sikaporo di pesta pernikahan menjadikannya lebih dari sekadar sajian—ia adalah bahasa simbolik dalam sebuah upacara.

Teksturnya yang lembut sering diartikan sebagai gambaran sikap penuh kasih. Sementara dua lapisannya yang menyatu dalam satu kue melambangkan dua pribadi berbeda yang dipertemukan untuk membangun kehidupan bersama, penuh keharmonisan.

Tak ada oven yang terlibat dalam pembuatan Sikaporo—semuanya dimatangkan lewat kukusan bertahap, itulah yang membuat teksturnya begitu lembut dan lapisannya tampak rapi.

Resepnya sendiri bervariasi menurut daerah dan pembuatnya. Versi yang paling dikenal memisahkan putih telur untuk lapisan hijau dan kuning telur untuk lapisan kuning, dicampur santan dan gula agar gurih sekaligus manis.

Ada pula resep yang menambahkan tepung beras dan agar-agar untuk membantu membentuk tekstur.

Cara membuatnya membutuhkan ketelatenan. Adonan hijau—yang biasanya diberi pandan—dituang lebih dulu ke cetakan dan dikukus sampai cukup kokoh untuk menahan lapisan berikutnya.

Setelah itu, adonan kuning dituang perlahan di atasnya, lalu dikukus kembali hingga matang sempurna. Kue baru dikeluarkan dari cetakan setelah didinginkan, supaya tidak mudah pecah saat dibalik.

Cetakan berbentuk bunga jadi ciri khas penyajiannya, membuat Sikaporo tampak makin cantik di atas bosara.

Ada pula trik kecil yang tak boleh dilupakan, melapisi tutup kukusan dengan kain bersih, agar uap air tidak menetes dan merusak permukaan kue.

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, makanan sering kali menjadi lebih dari sekadar santapan—ia bisa menjadi doa, harapan, dan penghormatan bagi tamu.

Penempatan Sikaporo bersama kue-kue lain di atas bosara pun menegaskan eratnya hubungan antara kuliner dan tata upacara adat, seperti yang tercatat dalam berbagai penelitian tentang tradisi kuliner Sulawesi Selatan.

Itulah sebabnya, meski zaman telah berubah, Sikaporo tetap bertahan. Dari sajian eksklusif kalangan bangsawan, kini ia hadir di meja siapa saja.

Dari ruang-ruang upacara adat, kini ia juga dibuat di dapur rumah dan dijajakan sebagai kudapan sehari-hari.

Namun dua lapisan warna hijau dan kuningnya tetap membawa cerita yang sama—tentang kelembutan, kebersamaan, dan harapan akan kehidupan yang baik.

Pada akhirnya, kekuatan Sikaporo bukan sekadar pada manisnya rasa, melainkan pada kemampuannya menjembatani masa lalu dan masa kini. Dari meja bangsawan, ruang-ruang upacara adat, hingga meja makan keluarga hari ini.

Sepotong kue kecil, yang mengajarkan bahwa dalam tradisi Bugis-Makassar, makanan bisa menjadi cara sederhana untuk menitipkan doa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KAI Daop 1 Sudah Tutup 33 Perlintasan Liar: Bahayakan Warga & Perjalanan KA
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
IHSG Dibuka Menguat 0,25 Persen, 4 Saham Ini Jadi Rekomendasi untuk Dipantau
• 4 jam laludisway.id
thumb
Bareskrim Selesaikan Kasus Pandji Pragiwaksono soal Toraja Lewat Restorative Justice
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Kemenkes: ISPA 2026 tembus 400 ribu per minggu, karhutla berdampak
• 32 menit laluantaranews.com
thumb
Kementrans Tertibkan Aset Rp 2,679 Triliun, Pastikan Infrastruktur Kawasan Transmigrasi Bermanfaat bagi Masyarakat
• 17 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.