Suara klakson dan deru kereta api terdengar keras saat Hamad (70) berbincang dengan kumparan di sebuah perlintasan sebidang sempit di Jalan Pangeran Jayakarta I, Bekasi, Jumat (21/8). Di tempat itu, Hamad sudah 26 tahun bertugas menjaga palang perlintasan kereta api.
Hamad mulai menjaga perlintasan tersebut sejak tahun 2000. Saat itu, jalur kereta yang melintas masih terdiri dari dua rel. Kini, jumlahnya bertambah menjadi empat rel.
Selama lebih dari dua dekade menjaga perlintasan, Hamad mengaku belum pernah mendapati kecelakaan terjadi tepat di lokasi tersebut.
"Alhamdulillah di sini belum ada. Belum ada. Di luar daripada palang pintu ini, banyak," kata Hamad.
Perlintasan tersebut digunakan warga untuk menyeberang dari satu sisi ke sisi lainnya. Penggunanya didominasi pengendara sepeda motor, pejalan kaki, anak sekolah hingga pedagang yang membawa gerobak. Mobil tidak diperbolehkan melintas.
Bagi Hamad, keberadaan penjaga palang bukan sekadar mengatur lalu lintas warga. Ia merasa tugas utamanya adalah memastikan orang-orang yang hendak menyeberang tetap aman ketika kereta melintas.
"Alasannya kita mengamankan orang yang mau lewat, motor. Kalau mobil enggak boleh mobil. Yang penting motor, orang pada penyeberang, anak-anak sekolah," ujarnya.
Namun, menjaga keselamatan di perlintasan tidak selalu mudah. Hamad masih kerap menghadapi warga yang memaksa ingin menyeberang ketika palang sudah ditutup.
Ia mengaku tetap menegur warga yang nekat. Menurutnya, warga hanya perlu bersabar beberapa menit sampai kereta melintas.
Hamad mengatakan, warga yang melihat kereta masih cukup jauh terkadang meminta izin untuk melintas karena terburu-buru. Dalam kondisi tertentu, ia masih memberikan kesempatan kepada satu sepeda motor untuk menyeberang. Namun, ia tidak akan mengizinkan jika jumlah pengendara sudah banyak.
"Cuma begitu lihat kereta, lihat masih jauh, masih satu, silakan lewat karena buru waktu. Satu motor, kalau banyak saya enggak kasih," ujarnya.
Menurut Hamad, situasi di perlintasan harus dilihat dengan cermat. Ia tidak ingin satu pengendara yang terburu-buru justru diikuti pengendara lain dan menimbulkan risiko.
Kekhawatiran itu pula yang membuat Hamad memilih bertahan menjaga perlintasan tersebut hingga sekarang. Selama bertugas sejak 2000 hingga 2026, ia berharap tidak terjadi kecelakaan di lokasi itu.
"Insyaallah mudah-mudahan enggak ada terjadi apa-apa. Alhamdulillah dari tahun 2000 hingga sekarang 2026, Alhamdulillah," tuturnya.
Meski begitu, Hamad menyadari keberadaan perlintasan tersebut sepenuhnya berada dalam kewenangan pihak PT KAI. Jika suatu saat diperintahkan untuk menutupnya, ia mengaku tidak bisa berbuat banyak.
"Kalau disuruh tutup, ya silakan ditutup. Kita enggak ada kekuatan," katanya.
Persoalannya, penutupan perlintasan akan membuat warga harus mengambil jalur yang lebih jauh. Menurut Hamad, warga yang selama ini menggunakan perlintasan tersebut harus menempuh perjalanan sekitar 1 hingga 2 kilometer untuk mencari akses alternatif, termasuk melalui kawasan Kranji dan Summarecon.
"Aturan dekat jadi jauh. Jadi memperlambat waktu," ujarnya.
Warga sekitar, Maksum (62), membenarkan pentingnya perlintasan tersebut bagi aktivitas masyarakat. Menurutnya, akses itu digunakan warga Harapan Mulya dan wilayah Medan Satria untuk berbagai keperluan, termasuk sekolah dan aktivitas ekonomi.
"Tidak mungkin lah, yang sekolah yang enggak punya kendaraan, enggak mungkin naik (flyover) Summarecon, naik (flyover) Kranji," kata Maksum.
Ia juga menyebut sejumlah petani memanfaatkan jalur tersebut sejak pagi untuk membawa hasil pertanian seperti bayam, kangkung, dan daun singkong menggunakan gerobak menuju pasar.
"Kalau pagi jam 4 mereka bawa gerobak, pasar pada umumnya," ujarnya.
Maksum mengatakan, selama ini tidak ada kecelakaan di perlintasan tersebut. Menurut dia, penjagaan dilakukan selama 24 jam.
"Kalau di sini enggak ada yang terjadi. Yang terjadi itu di belakang, di belakang Grand Mall, jauh dari sini," katanya.
Karena itu, jika perlintasan tersebut suatu saat harus ditutup, warga meminta adanya solusi agar akses masyarakat tetap tersedia, khususnya bagi sepeda motor dan gerobak.
"Ya warga cuma minta solusinya, solusi aja. Entah di (perlintasan) atas, entah (perlintasan) bawah. Minimal motor atau gerobak bisa melintas, itu aja. Ya, kasihan masyarakatnya," kata Maksum.
Maksum juga menyebut palang di lokasi tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat. Menurutnya, akses jalan menuju rel sudah lama digunakan warga dan telah mendapat perhatian dari pihak pemerintah setempat.
Ia mengaku koordinasi terkait perlintasan selama ini antara lain dilakukan dengan pihak kelurahan dan kecamatan. Bahkan, warga dan pihak terkait pernah membuat rompi bagi penjaga perlintasan.
"Kalau koordinasi mah, yang setahu saya dari zaman dulu yang tahu tuh cuma Kelurahan sama Kecamatan," ujarnya.
Bagi Hamad, selama perlintasan masih digunakan warga, tugasnya tetap sama. Menjaga palang, mengawasi pengguna jalan, dan sebisa mungkin mencegah warga mengambil risiko ketika kereta hendak melintas.
Di tengah suara kereta yang terus datang dan pergi, Hamad masih menjalankan rutinitas yang sudah dilakukannya selama 26 tahun. Ia telah menghadapi pengendara yang terburu-buru, menegur mereka yang memaksa menerobos, dan meminta warga bersabar beberapa menit ketika kereta melintas. Semua itu dijalankannya dengan niat tulus membantu dan untuk menjaga keselamatan warga yang melintas.





