Pedestrian Deck Dukuh Atas Dibangun November, Skema Pembiayaan Kreatif Disiapkan

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Pedestrian Deck atau jalur layang khusus pejalan kaki di area Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas disebut segera dibangun pada November 2026 setelah menyelesaikan proses tender lebih dulu.

“Saat ini sedang dalam proses tender kontraktor. Targetnya, pekerjaan konstruksi mulai dilaksanakan pada November 2026,” kata Rendy Primartantyo, Head of Corporate Secretary MRT Jakarta, kepada Katadata, Kamis (20/8).

Jembatan berbentuk cincin ini dirancang untuk menghubungkan empat kawasan terpisah di di kawasan TOD Dukuh Atas, yakni kawasan Stasiun MRT Dukuh Atas BNI dan KRL BNI City di sisi utara, Stasiun Sudirman dan LRT Dukuh Atas di sisi timur, Kompleks Wisma 46 BNI, dan kawasan Halte TransJakarta Galunggung dan Landmark. Fragmentasi area ini terjadi akibat perpotongan dua infrastruktur utama, yaitu Sungai Ciliwung dan Jalan Sudirman. 

Pedestrian Deck ini nantinya akan mengintegrasikan akses ke berbagai moda transportasi publik, seperti MRT Jakarta, KRL Commuter Line, LRT Jabodebek, Transjakarta, hingga kereta bandara. Pembangunannya dinilai bisa mempermudah dan mempercepat perpindahan antarmoda.

“Selain kawasan yang terfragmentasi, terdapat isu inklusivitas pejalan kaki dan interkoneksi yang belum optimal. Oleh karena itu, kami melihat adanya kebutuhan penghubung yang menyatukan seluruh kawasan transit Dukuh Atas,” ujar Rendy.

Terpisah, Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta Agus Trihan mengatakan proyek saat ini membutuhkan biaya besar.

"Nilainya kurang lebih sekitar Rp300 miliar," ujar dia, di Jakarta Selatan, Kamis (31/7)," ujarnya. Ia menambahkan, "Nilai itu hanya untuk pembangunan fisik. Tidak ada pembebasan lahan".

Pasalnya, Pedestrian Deck dibangun di area milik Pemprov DKI Jakarta dengan mekanisme sewa lahan. Alhasil, aset hasil pembangunan tetap menjadi milik MRT Jakarta sehingga tata kelola aset dinilai lebih sederhana.

"Kalau kita bangun dengan dana MRT Jakarta, asetnya menjadi milik MRT Jakarta. Karena lahannya milik Pemprov, skemanya MRT menyewa lahan sehingga pengelolaan aset lebih mudah," katanya.

Pendanaan proyek ini sepenuhnya berasal dari MRT Jakarta. Skema pembiayaannya sekitar 50 persen menggunakan dana investasi perusahaan, dengan sisanya direncanakan berasal dari pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya yang saat ini masih dalam proses pengajuan.

"Untuk pendanaannya akan dibiayai oleh MRT Jakarta sehingga tidak menggunakan pembiayaan dari APBD," jelas Agus.

Khusus untuk pendanaan proyek dari MRT Jakarta, Rendy memerinci itu bersumber dari Penyertaan Modal Daerah (PMD) Pemprov DKI Jakarta yang telah tersedia di PT MRT Jakarta.

“Proyek ini tidak menggunakan APBD DKI Jakarta secara langsung sebagai sumber pendanaan proyek,” kata dia.

Bagian dari Pengembangan TOD

Pembangunan Pedestrian Deck merupakan bagian dari penataan kawasan TOD Dukuh Atas yang memiliki cakupan cukup luas. Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 107 Tahun 2020 tentang Panduan Rancang Kota Kawasan Pembangunan Berorientasi Transit Dukuh Atas, luas kawasan TOD mencapai sekitar 146 hektare.

Dengan cakupan tersebut, pengembangan TOD Dukuh Atas diproyeksikan berlangsung dalam jangka panjang.

“Pengembangan kawasan dapat berlangsung dalam jangka waktu lima hingga 20 tahun ke depan,” Rendy melanjutkan.

Sejauh ini, MRT Jakarta sebagai operator utama fase 1 Lintas Utara–Selatan telah membangun dan merevitalisasi sejumlah infrastruktur di kawasan TOD Dukuh Atas. Di antaranya adalah Terowongan Jalan Kendal, Jembatan Penyeberangan Multiguna yang menghubungkan Stasiun LRT Jabodebek Dukuh Atas BSI dan Stasiun KCI Sudirman, Taman Kudus, trotoar Jalan Kendal, Jalan Pati, dan Jalan Blora, serta membangun Transport Hub.

Rendy mengatakan pengembangan kawasan TOD yang besar ini tentunya membutuhkan anggaran yang besar.

“PT MRT Jakarta (Perseroda) sangat mendorong skema pembiayaan kreatif, tidak murni dari APBD atau APBN,” jelasnya.

“Pembagiannya berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan atau keputusan/kesepakatan bisnis.”

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo dalam sejumlah kesempatan menyinggung pentingnya pembiayaan kreatif (creative financing) dalam pembangunan di Jakarta, termasuk pengembangan TOD Dukuh Atas.

Mengutip SmartCity Jakarta, creative financing merupakan pendekatan yang memperluas pilihan pemerintah dalam mencari, mengelola, dan mengombinasikan sumber pembiayaan pembangunan. Sebabnya, pembangunan infrastruktur kota pembangunan kota dan pembiayaan program-program tidak selalu dapat bergantung sepenuhnya pada APBD.

Skema pembiayaan kreatif ini dilakukan, contohnya, lewat Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), hak penamaan (naming rights), obligasi daerah, optimalisasi aset, pembiayaan melalui BUMD, investasi swasta, CSR, hingga pendanaan pemanfaatan ruang.

Pelibatan Masyarakat

Pengamat tata kota Nirwono Joga mengatakan pembangunan Pedestrian Deck TOD Dukuh Atas ini perlu disertai pelibatan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitarnya. Hal ini penting agar pembangunan TOD tidak hanya meningkatkan konektivitas transportasi, tetapi juga memberikan manfaat lebih luas bagi warga.

“Baik Pemprov DKI dan pihak MRT Jakarta harus melibatkan masyarakat sekitar kawasan TOD Dukuh Atas agar mereka tidak merasa semakin terpinggirkan dengan adanya pembangunan tersebut,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DEN Mendorong Energi Laut Segera Masuk Tahap Implementasi, Investor Dibidik untuk Garap Potensi Indonesia
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Kapolres Bulukumba Pimpin Ratusan Personel Bersihkan Kawasan Pantai Merpati
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Gempa 3,6 Magnitudo di Bantul: Getaran Terasa 3 Detik
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Andre Rosiade Kawal Aspirasi Warga Pessel, Jembatan Gantung Duku-Subarang Solok Segera Rampung
• 16 jam laludetik.com
thumb
BEI Siapkan ETF dan Single Stock Futures Saham Hong Kong
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.