Neraca Pembayaran Indonesia Defisit Rp 16 Triliun pada Kuartal II 2026

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 mencatat defisit US$ 0,9 miliar atau sekitar Rp 16,02 triliun, dengan asumsi kurs Rp 17.800 per dolar AS. Defisit tersebut jauh lebih kecil dibandingkan posisi pada triwulan I 2026 yang mencapai US$ 9,1 miliar atau sekitar Rp 161,98 triliun.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan kinerja NPI pada triwulan II tetap terjaga meski transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi. Kondisi tersebut ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat.

“Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga,” ujar Ramdan.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 sebesar US$ 145,6 miliar atau sekitar Rp 2.591,68 triliun. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

BI mencatat transaksi berjalan pada triwulan II 2026 mengalami pelebaran defisit menjadi US$ 12,5 miliar atau sekitar Rp 222,5 triliun. Defisit tersebut setara dengan 3,3% terhadap PDB, meningkat dibandingkan defisit pada triwulan I sebesar US$3,6 miliar atau sekitar Rp 64,08 triliun, yang setara dengan 1% PDB.

Menurut BI, pelebaran defisit transaksi berjalan dipengaruhi sejumlah faktor yang diperkirakan bersifat temporer. Salah satunya berasal dari meningkatnya defisit neraca perdagangan migas akibat kenaikan impor minyak seiring tingginya harga minyak dunia.

Selain itu, surplus neraca perdagangan nonmigas juga menurun akibat peningkatan impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi domestik yang masih tinggi.

Defisit juga dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca pendapatan primer sejalan dengan pembayaran pendapatan primer. Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Transaksi Modal dan Finansial Membaik

Di tengah pelebaran defisit transaksi berjalan, transaksi modal dan finansial justru mencatat perbaikan. BI mencatat transaksi modal dan finansial pada triwulan II 2026 membukukan surplus US$12 miliar, setara sekitar Rp 213,6 triliun. Posisi tersebut berbalik dari triwulan I 2026 yang mencatat defisit US$4,8 miliar atau sekitar Rp 85,44 triliun.

Investasi langsung mencatat surplus lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Denny mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.

Sementara itu, investasi portofolio juga mencatat surplus yang meningkat seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik.

“Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik,” kata Ramdan.

Di sisi lain, investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah sehingga turut mendukung peningkatan surplus transaksi modal dan finansial. 

BI Optimistis NPI Tetap Terjaga

BI memperkirakan prospek NPI ke depan tetap baik sehingga dapat menopang ketahanan eksternal Indonesia. Defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah seiring membaiknya prospek ekspor. 

Perbaikan tersebut didukung kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia. Selain itu, dampak positif dari penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) juga diperkirakan mendukung kinerja ekspor Indonesia.

Sementara itu, transaksi modal dan finansial diperkirakan tetap mencatat surplus. Aliran masuk modal asing diproyeksikan berlanjut seiring masih menariknya imbal hasil instrumen keuangan domestik serta prospek ekonomi Indonesia yang positif.

“Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” kata Denny.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Eks Waka BGN Pusung WA Menhan Sjafrie Sebelum Ditangkap: Bapak, Saya Difitnah
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Kronologi Sopir Alphard Hantam Motor Pakai Batu, Berawal dari Senggolan Berakhir Videonya Viral
• 19 jam lalugrid.id
thumb
Penjaga Denyut Energi NTT Tetap Melayani di Tengah Pemulihan Pascagempa
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
[FULL] Bareskrim Polri dan FBI Bongkar Modus Kejahatan Peretasan Email Perusahaan
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
PGUN Bantah Isu Akuisisi BYAN, Tegaskan Belum Ada Rencana
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.