Pembalap nasional sekaligus driving instructor, Rifat Sungkar, mengatakan pengendalian emosi perlu diterapkan dalam aktivitas berkendara sehari-hari. Menurutnya, emosi yang tidak terkendali dapat memicu rangkaian kejadian yang membahayakan pengguna jalan lainnya.
“Seorang pengemudi kalau masih dalam kondisi marah atau emosi, orang di jalan atau kendaraan lain bisa-bisa jadi sasaran benturan," kata Rifat dikutip dari situs resmi Mitsubishi.
Menurut Rifat, emosi saat berkendara tidak hanya berkaitan dengan kemarahan. Rasa terlalu percaya diri terhadap kemampuan mengemudi maupun kondisi teknis kendaraan juga perlu dikendalikan karena dapat membuat pengemudi meremehkan pengguna jalan lain.
“Karena biasanya pengemudi yang seperti itu, akan menganggap rendah pengemudi lainnya,” sambung Rifat. Defensive Driving untuk Kendalikan Emosi Salah satu cara yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko akibat emosi saat berkendara adalah defensive driving. Teknik ini mengutamakan pencegahan terhadap berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi selama perjalanan. Baca Juga:
Cara Mengoperasikan Super Select 4WD-II di Mitsubishi Pajero Sport dan Triton
Defensive driving tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengantisipasi kondisi lalu lintas, tetapi juga mencakup pengelolaan emosi dan kesediaan berbagi ruang dengan pengguna jalan lainnya.
Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan pengemudi untuk menjaga emosi tetap terkendali selama berkendara. 1. Menganggap jalan sebagai ruang bersama Jalan raya digunakan oleh berbagai jenis kendaraan dan pengguna jalan. Karena itu, pengemudi perlu memahami bahwa setiap orang memiliki hak menggunakan jalan dan harus saling berbagi ruang. 2. Mengatur waktu perjalanan Berangkat lebih awal dapat memberikan waktu tambahan ketika menghadapi kemacetan, perubahan kondisi lalu lintas, atau hambatan lainnya. Dengan begitu, pengemudi tidak mudah terburu-buru saat perjalanan. 3. Menganggap kemacetan sebagai bagian dari perjalanan Kemacetan merupakan salah satu kondisi yang dapat ditemui dalam perjalanan, terutama di wilayah perkotaan. Menerima kondisi tersebut dapat membantu pengemudi menjaga ketenangan dan tidak mudah frustrasi. 4. Tidak terprovokasi pengguna jalan lain Pengemudi sebaiknya tidak membalas tindakan pengguna jalan lain yang agresif atau membahayakan. Menjaga jarak dan memberikan ruang dapat menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan merespons dengan emosi. Baca Juga:
Populasi Kendaraan Listrik Indonesia Capai 468.231 Unit hingga April 2026 5. Mendengarkan musik dengan volume rendah Musik dengan volume yang tidak terlalu keras dapat membantu menciptakan suasana berkendara yang lebih rileks. Namun, pengemudi tetap perlu memastikan suara dari lingkungan sekitar masih dapat terdengar. 6. Mengajak teman saat perjalanan Perjalanan bersama teman dapat menjadi alternatif untuk mengurangi rasa bosan, terutama saat menempuh perjalanan jauh. Pengemudi tetap harus memastikan konsentrasi utama berada pada kondisi lalu lintas. 7. Memanfaatkan layanan bantuan kendaraan Pengemudi juga dapat menggunakan aplikasi My Mitsubishi Motors ID (MMID) untuk membantu mengurangi kecemasan ketika kendaraan mengalami masalah teknis dan membutuhkan bantuan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(UDA)





