Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab Sungai Barito di Kalimantan Tengah (Kalteng) mengering. BMKG menyebut wilayah Kalteng tengah memasuki puncak musim kemarau.
"Kalau dari curah hujan, pada Dasarian I Agustus 2026 di Kalimantan Tengah memang curah hujannya kategori rendah (0-10 mm/Dasarian)," kata Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab, kepada detikcom, Jumat (21/8/2026).
Dia mengatakan wilayah Kalimantan Tengah secara umum mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori menengah (11 sampai 20 hari berturut-turut tanpa hujan) dan kategori sangat panjang (31 sampai 60 hari berutur-turut tanpa hujan).
"Saat ini di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalteng memang dalam periode puncak musim kemarau," ucapnya.
Dihubungi terpisah, Peneliti Cuaca dan Iklim Ekstrem BMKG Siswanto menyebut kondisi Sungai Barito yang mengering bak gurun pasir, terkonfirmasi dari analisis kekeringan meteorologis oleh BMKG. Menurutnya, sebagian besar wilayah yang dilintasi Sungai Barito mengalami HTH kategori panjang hingga sangat panjang.
"Pemantauan deret hari kering atau hari tanpa hujan (HTH) BMKG memperlihatkan sebagian besar wilayah sudah banyak yang mengalami HTH kategori panjang hingga sangat panjang (lebih dari 20 hari hingga 1 bulan)," ujar Siswanto.
Seperti diketahui, Sungai Barito di Kalteng mengering. Debit air yang terus menyusut menyebabkan sejumlah bagian sungai mengalami pendangkalan hingga hamparan pasir dan daratan muncul di tengah aliran.
Pemandangan tak biasa itu terlihat di sekitar Jembatan Kalahien di Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Gosong pasir yang terbentuk di tengah sungai membuat aliran sungai terlihat terpecah dan sebagian kawasan menyerupai hamparan pantai.
Warga setempat, Rudi Hermansyah, mengatakan surutnya Sungai Barito terlihat cukup parah sejak awal Agustus. Menurutnya, munculnya daratan di tengah sungai menjadi salah satu tanda bahwa debit air mengalami penurunan signifikan.
"Kondisi tersebut tidak hanya mengubah bentang alam sungai, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas transportasi air. Sejumlah kapal pengangkut barang dan tongkang dilaporkan kesulitan melintasi bagian sungai yang dangkal," kata Rudi, dilansir detikKalimantan, Jumat (21/8/2026).
(fas/imk)





