Setelah 10 Tahun, Frederico dari Belanda Kembali ke Suara Surabaya Mencari Ibu Kandungnya

suarasurabaya.net
1 jam lalu
Cover Berita

Sepuluh tahun lalu, Frederico (45 tahun) warga negara Belanda keturunan Indonesia pernah mendatangi Suara Surabaya. Tujuannya saat itu hanya satu, bisa menemukan dan mengetahui siapa ibu kandung yang tak pernah dikenalnya sejak dilahirkan di Surabaya.

Frederico tak punya satu pun ingatan tentang dua bulan pertama kehidupannya di Surabaya. Pria yang akrab disapa Bob itu dulu lahir di RSUD Dr. Soetomo pada 15 Februari 1981. Tapi, tak lama setelah dilahirkan, ia terpisah dari ibunya dan dibawa ke Panti Asuhan Bina Sejahtera yang dulu berlokasi di Jalan Ngagel, Surabaya.

Saat usianya sekitar dua bulan, Bob kemudian dipindahkan ke Kasih Bunda di Jakarta. Dari sana, ia menjalani proses adopsi hingga akhirnya dibawa keluarga barunya ke Belanda, dan tumbuh bersama orang tua angkatnya hingga dewasa.

Sejak saat itulah, ia tumbuh tanpa mengetahui siapa ibu kandungnya, seperti apa wajahnya, bagaimana kehidupannya, bahkan alasan keduanya harus berpisah ketika ia masih bayi.

“Tidak ada. Saya tidak ingat apa pun. Saya baru berusia dua bulan,” ceritanya saat berkunjung ke Radio Suara Surabaya menceritakan kisahnya, Jumat (21/8/2026).

Semakin bertambah usia, pertanyaan mengenai asal-usul justru semakin kuat. 10 tahun lalu saat ia masih berusia 35 tahun, Bob sudah berusaha mencari siapa orang tuanya. Kini, di usianya yang sudah 45 tahun, ia baru mengetahui bahwa pengalaman serupa juga dirasakan sejumlah orang Indonesia yang diadopsi dan tumbuh besar di Belanda.

“Usia saya 45 tahun. Banyak orang yang juga diadopsi dan seusia saya mulai berada pada fase kehidupan ketika mereka bertanya-tanya tentang hidup, tentang identitas, dari mana mereka berasal? Dan mengapa mereka memiliki karakter seperti sekarang?” ucapnya.

BACA JUGA: 10 Tahun Berlalu, Wahyudi Warga Belanda Kembali ke Suara Surabaya Cari Keluarga Kandung

Bagi Bob, pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana bagi orang lain. Tapi, menurutnya, susah dijawab. “Kami tidak memiliki (jawaba)-nya. Kami selalu bertanya-tanya, dari mana semua itu berasal? Pertanyaan itu terus berada di pikiran saya dan akhirnya membuat saya memulai pencarian ini,” katanya.

Upaya Pencarian Membuahkan Petunjuk

Sekitar 10 tahun lalu, saat datang ke Suara Surabaya untuk memulai pencariannya, Bob mengaku belum banyak memahami tentang Indonesia, Pulau Jawa, apalagi Kota Surabaya. Hal itulah, yang membuat awal pencariannya terasa tidak mudah.

Dari penelusurannya berdasarkan dokumen adopsi dan yayasan yang berkaitan dengannya, ia hanya mengetahui kalau RSUD Dr. Soetomo merupakan tempatnya dilahirkan. Tapi saat mendatangi rumah sakit itu untuk mencari tahu siapa orang tuanya, hasilnya nihil.

Satu dekade kemudian, Bob kembali lagi ke Suara Surabaya. Kali ini ia dibantu Natasha dari Yayasan Ibu Indonesia, membawa sejumlah petunjuk yang lebih jelas mengenai perempuan yang diyakini sebagai ibu kandungnya.

Dari dokumen yang ditemukan, sosok perempuan itu bernama Herlianah Zainuddin. Tapi di beberapa catatan, namanya juga tertulis sebagai Harliana atau Harlina Zainuddin.

“Sejauh yang kami tahu dari data-data dan dokumen yang Bob punya, ibu kandung Bob bernama Ibu Harliana Zainuddin. Beberapa data ada yang bilang ini Harlina bukan Harliana. Jadi ada dua kemungkinan ini Harliana Zainuddin atau Harlina Zainuddin, saat itu berusia 22 tahun ketika melahirkan seorang anak bernama Henrico atau Frederico di Rumah Sakit Dokter Soetomo tanggal 15 Februari 1981,” kata Natasha.

Dengan perkiraan tersebut, usia Herliana saat ini ditaksir sekitar 66-67 tahun. Saat mengandung Bob, Herlianah tercatat tinggal di Kapas Krampung 98, Surabaya. Sedangkan petunjuk lain yang diperoleh selama pencarian, Herlianah kemungkinan juga pernah tinggal di kawasan Rangkah 2.

Informasi itu membawa Bob dan Natasha berkeliling Surabaya. Mereka mendatangi kawasan Kapas Krampung hingga Rangkah, untuk bertanya kepada warga yang mungkin mengenal Herlianah. Tapi, hingga kini belum ada petunjuk yang benar-benar memastikan keberadaannya.

Selain mencari keberadaan Herlianah, mereka juga menelusuri sejumlah nama yang ditemukan dalam dokumen lama. Salah satunya dr. Suharyono yang disebut pernah memeriksa kesehatan Bob saat masih bayi, dan membuat surat keterangan sehat. “Namun, saat ini dokternya sudah pindah dari Surabaya ke Jakarta dan mungkin sudah meninggal,” kata Natasha.

Selain itu, ada pula Sri Hermani, bidan RSUD Dr. Soetomo yang namanya ditemukan dalam surat keterangan kelahiran, serta Martha Kaitonda yang disebut berkaitan dengan proses administrasi kala itu.

Natasha berharap, orang-orang yang pernah mengenal Herlianah maupun mengetahui cerita kelahiran Bob dapat membantu memberikan potongan informasi. Meski demikian, informasi yang masuk akan diperiksa lebih dulu.

Yayasan Ibu Indonesia tak ingin terburu-buru mempertemukan Frederico dengan seseorang, hanya karena punya nama yang sama dengan Herliana. “Yang kami butuhkan adalah kecocokan cerita. Jadi cerita yang dimiliki oleh Bob itu cocok dengan cerita, tapi dari sudut pandang orang-orang yang ada di dekat Ibu Harliana,” jelas Natasha.

“Jadi kami mulai dari kecocokan cerita dulu, saat cerita sudah cocok, maka akan ada mediasi dan lain sebagainya. Begitu,” tambahnya.

Bob: Saya Tidak Marah

Adapun di tengah pencariannya yang sudah berjalan satu dekade, Bob mengatakan, satu hal yang ingin diketahuinya bukan alasan mengapa ia dahulu diberikan ke yayasan untuk diadopsi. Ia juga mengaku tidak datang membawa kemarahan.

“Ya, mungkin saya ingin tahu lebih banyak tentang ayah saya. Seperti apa wajahnya? Dia berasal dari mana? Selain itu, saya tidak marah dengan apa yang terjadi ketika ibu saya meninggalkan saya. Saya bisa memahaminya, dan bagi saya tidak apa-apa. Saya juga ingin mengatakan bahwa saya baik-baik saja. Saya memiliki kehidupan yang baik di Belanda, dan semuanya baik-baik saja,” ucapnya.

Apa pun yang terjadi lebih dari empat dekade lalu, Bob hanya berharap ibunya masih sehat dan suatu saat bersedia menghubungi atau bertemu dengannya. “Saya berharap dia baik-baik saja, sehat. Dan saya berharap saya bisa menyampaikan rasa sayang saya kepadanya,” ujarnya.

Jika Herlianah ataupun ibu kandung Bob mendengar pencariannya melalui Radio Suara Surabaya, ia juga ingin memastikan tidak ada yang perlu ditakutkan.

“Saya ingin mengatakan bahwa saya bersyukur dan berterima kasih karena bisa melakukan pencarian ini. Saya berharap dia bisa menghubungi saya dan tidak perlu merasa ragu atau takut. Tidak apa-apa untuk menghubungi saya. Saya tidak marah. Saya tidak sedih. Memang begitulah semuanya terjadi, dan hidup terus berjalan. Saya hanya berharap dia bisa menghubungi saya,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Bob juga mengaku selama berada di tanah kelahirannya, ia salut dengan sikap orang Indonesia tentang kisahnya. Setiap orang yang mendengar ceritanya, selalu menguatkannya.

“Setiap kali saya membagikan cerita saya, semua orang sangat memahami dan rendah hati. Orang-orang benar-benar ikut merasakan cerita ini. Mungkin secara umum mereka memahami tentang adopsi, tentang bagaimana seseorang terputus dari orang tua biologisnya. Saya merasakan begitu banyak kehangatan dari orang-orang di sini. Cara mereka memahami cerita saya sangat berarti bagi saya. Itu benar-benar menghangatkan hati,” tutupnya. (bil/iss)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia-China Comprehensive Strategic Dialog Focuses on Strengthening Economic Partnerships
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
20 Perjalanan KA Sempat Berhenti Luar Biasa Imbas Gempa Bantul, KAI Minta Maaf 
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Punya Rumah Disewakan? Jangan Sampai Salah Memahami Pajaknya!
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Gebyar Merdeka Nusantara, Panser ANOA Jadi Daya Tarik Pengunjung di Acara Korem 051/Wijayakarta
• 31 menit lalutvonenews.com
thumb
Kasus Korupsi Jual Beli Gas PGN, Dua Terdakwa Divonis 5,5 dan 4 Tahun Penjara
• 23 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.