jpnn.com, JAKARTA - Indonesia Corruption Watch (ICW) menyoroti pengadaan burung merpati senilai Rp 305 juta dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI.
Pengadaan dilakukan oleh Kementerian Sekretariat Negara dengan vendor Indoglobal Multi Karya.
BACA JUGA: Push Up 17 Kali, Ratusan Personel Keamanan ASG Unjuk Spirit & Fisik saat Upacara HUT RI di PIK
Staf Investigasi ICW Z Azhim Syah lalu membandingkan dengan anggaran penanganan bencana yang tidak ditemukan satu pun paket pengadaan baik di Kementerian Sekretariat Negara maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
“Pengadaan ini kami nilai merupakan bagian perayaan HUT RI yang berlebihan karena dilakukan di tengah situasi anggaran negara mengalami efisiensi besar-besaran dan bencana besar,” ucap Azhim dalam keterangannya.
BACA JUGA: Pertamina NRE Hadirkan PLTS, Warga Pulau Sembur Rayakan HUT RI dengan Cara Berbeda
Menurut dia, di tengah situasi ini, anggaran publik seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan yang lebih mendesak bagi masyarakat.
“Persoalannya bukan semata pada nominal Rp 305 juta, tetapi mencerminkan bagaimana pengelolaan anggaran pemerintah yang tidak berbasis skala prioritas dan tidak memandang aspek urgensi,” kata dia.
BACA JUGA: Ratusan Napi di Tenggarong Terima Remisi HUT RI
Dia menuturkan bahwa perayaan kemerdekaan semestinya tidak menjadi alasan untuk menghamburkan anggaran.
“Terlalu banyak kebutuhan publik yang mendesak yang lebih membutuhkan keberpihakan anggaran,” tuturnya.
Seperti diketahui, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) dini hari.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan korban meninggal dunia akibat gempa menjadi 75 orang.
Lalu, jumlah pengungsi meningkat menjadi 92.735 orang dari yang sebelumnya sebanyak 59.647.
Sementara itu, BNPB mendeteksi sebanyak 1.487 titik panas yang berpotensi menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di sebagian besar Pulau Kalimantan.
Sebagaimana data pemantauan Satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8), konsentrasi titik panas tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik dan Kalimantan Barat sebanyak 560 titik. (dit/jpnn)
Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Ryana Aryadita Umasugi




