Cuma 2 Menit Menyeberang, Eretan Kali Angke Jadi Andalan Warga Pluit-Kapuk Jakut Hindari Macet

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Perahu eretan di Kali Angke menjadi salah satu akses yang digunakan warga untuk mobilitas antara kawasan Pluit dan Kapuk, Jakarta Utara.

Udin (37), salah satu pengguna eretan mengatakan, jalur tersebut cukup banyak digunakan warga, terutama pekerja yang hendak menuju kawasan PIK maupun wilayah Teluk Gong.

"Iya, rata-rata di sini emang para pekerja ya, bapak-bapak yang pekerja mau ke arah PIK ya atau daerah seberang sana, Teluk Gong, gitu. Dan orang-orang yang menjemput anak-anak juga. Rata-rata pagi tuh paling ramai," ucap dia saat ditemui Kompas.com, Jumat (21/8/2026).

Baca juga: Menjajal Eretan Kali Angke Jakut, Alternatif Pengendara Hindari Keramaian Menuju PIK

Udin sendiri mengaku sebenarnya tidak setiap hari menggunakan eretan. Namun, ia kerap memilih jalur tersebut ketika hendak menghindari kemacetan di wilayah Teluk Gong.

"Jadi adanya eretan ini kita bisa memangkas waktu berapa menit lah, lumayan," ujar dia.

Rahma (30), warga Pluit yang bekerja di Kapuk, mengaku cukup sering menggunakan eretan untuk perjalanan sehari-hari.

Menurut dia, menyeberang menggunakan perahu eretan tidak memakan waktu terlalu lama jika dibanding terjebak dalam kemacetan.

Baca juga: Eretan Sungai Cisadane Masih Jadi Pilihan Warga di Tengah Modernisasi Transportasi

"Oh, lumayan (menghemat waktu) sih. Ada kali 15 menit mah. Belum termasuk kalau macet, ya. Teluk Gong itu kan ada aja kejadiannya. Kalau macet ya jadi lebih jauh hemat waktunya," tutur dia kepada Kompas.com, Jumat.

Perjalanan di atas eretan diperkirakan hanya sekitar dua menit, dengan waktu tambahan ketika harus menunggu eretan dari seberang.

"Paling ya berapa lama, sih. Kita nunggu dari ujung, naik terus sampai ke ujung sekitar 5 menit," ujarnya.

Baca juga: 3 Tahun Akses Terendam, Warga Rakit Perahu Eretan untuk Lintasi Banjir Bulak Barat

Keberadaan eretan membuat Rahma memiliki akses penyeberangan yang digunakan mobilitasnya di antara kedua kawasan tersebut.

"Paling kalau gini ya jalur alternatif warga diperhatiin lagi aja, sih. Mau gimana pun juga kan ini di atas kali, ya. Jadi pasti ada risikonya. Cuma ya warga ramai pakai ini berarti ada kebutuhan jalur alternatif," tambah dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPR Ungkap Tiga Sumber Data Utama Desil DTSEN, Ungkap Alasan Pendapatan Bukan Faktor Utama
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Gubernur Banten Siapkan Transisi Energi untuk Tekan Polusi PLTU Suralaya
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Wakil Ketua MPR Tegaskan Perjuangan Kesetaraan Perempuan Agenda Peradaban Bangsa
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
Dilan Janiyar dan Ratu Felisha Minta Tunda Pemeriksaan, 17 Seleb Bakal Dipanggil Polisi di Kasus Arisan Bodong
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Foto: Usai Kebakaran di Senen, 15 Rumah Hangus, Warga Mengungsi
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.