JAKARTA, KOMPAS — Jumlah pengungsi akibat gempa bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, melonjak menjadi 110.785 jiwa pada Jumat (21/8/2026) sore atau tujuh hari setelah bencana. Penambahan data tersebut bukan disebabkan gempa besar baru, melainkan hasil pendataan dan verifikasi tim gabungan yang mulai menjangkau daerah-daerah terisolasi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jumlah pengungsi bertambah 18.050 jiwa dibandingkan dengan data sehari sebelumnya yang mencapai 92.735 jiwa. Pembaruan data dilakukan secara bertahap seiring terbukanya akses menuju wilayah terdampak dan masuknya laporan dari lapangan.
“Yang mengungsi hari ini bertambah lagi. Semula kami sampaikan 92.735 jiwa, hari ini menjadi 110.785 jiwa atau bertambah 18.050 jiwa,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring melalui kanal Youtube BNPB, Jumat (21/8/2026) sore.
Selain jumlah pengungsi, data korban meninggal bertambah dari 75 orang menjadi 83 orang. Tambahan delapan korban tersebut bukan akibat gempa besar baru, tetapi berkaitan dengan dampak lanjutan bencana yang baru teridentifikasi dalam pendataan.
Delapan korban itu tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak dua orang, Manggarai Timur dua orang, Nagekeo tiga orang, dan Ngada satu orang. Namun, BNPB belum memerinci bentuk dampak lanjutan yang menyebabkan korban meninggal.
Jumlah korban luka juga bertambah sebanyak 79 orang, dari sebelumnya 907 orang menjadi 986 orang. Pemutakhiran data korban masih berlangsung di posko setiap kabupaten.
Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Hingga Jumat (21/8/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 4.258 gempa susulan. Magnitudo gempa susulan terbesar mencapai 6,2, sedangkan yang terkecil 1,1. Dari jumlah tersebut, sebanyak 118 gempa dirasakan warga.
Tingginya aktivitas gempa susulan membuat warga masih menghadapi ketidakpastian. Pada Kamis (20/8/2026), gempa susulan juga menyebabkan kerusakan pada ruas jalan dan jembatan di Kabupaten Manggarai Timur.
BNPB juga mencatat sebanyak 44.946 rumah mengalami kerusakan. Kerusakan itu terdiri dari 17.176 rumah rusak berat, 9.758 rumah rusak sedang, dan 18.013 rumah rusak ringan. Pendataan berdasarkan nama dan alamat warga masih dilakukan untuk menentukan tingkat kerusakan setiap rumah.
Manggarai Timur menjadi daerah dengan rumah rusak berat terbanyak, yakni 5.962 unit. Setelah itu, kerusakan berat terbanyak terdapat di Manggarai dengan 3.146 rumah dan Manggarai Barat sebanyak 3.050 rumah.
Kerusakan juga mengganggu kegiatan pendidikan. Sebanyak 1.378 sekolah dengan 5.521 ruang kelas terdampak gempa. Bencana tersebut memengaruhi kegiatan belajar 177.678 siswa serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
Sebanyak 923 sekolah masih diliburkan sementara. Adapun 35 sekolah menggunakan ruang belajar darurat, 171 sekolah menjalankan pembelajaran jarak jauh, dan 30 sekolah telah kembali belajar secara normal.
Menurut Berton, pemerintah juga terus memulihkan akses menuju daerah terdampak. Sembilan ruas jalan nasional yang sebelumnya terganggu telah kembali berfungsi. Sebanyak 64 titik longsor dan lima titik patahan jalan juga telah ditangani, sementara sembilan jembatan dan gorong-gorong masih dapat digunakan.
Akses utama yang menghubungkan Ende dan Nagekeo telah kembali berfungsi sejak Kamis. Namun, petugas masih membersihkan sisa material longsor di lereng dan tebing.
BNPB melaporkan telah mengirimkan 776 ton bantuan sejak gempa terjadi pada 15 Agustus. Distribusi bantuan dipusatkan melalui pos pendamping logistik nasional di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Pada Jumat, sebanyak 65 ton bantuan dikirimkan, terdiri dari 20 ton menuju Maumere dan 45 ton menuju Labuan Bajo. Bantuan selanjutnya didistribusikan melalui jalur udara, darat, dan laut menuju masyarakat terdampak.
Layanan listrik di Flores bagian timur dan barat juga diklaim telah pulih sepenuhnya. Sebanyak 11 transformator gardu induk, 59 penyulang, dan 3.474 gardu distribusi telah kembali beroperasi. Seluruh 735 stasiun pemancar Telkomsel juga dilaporkan telah pulih.
Di sektor kesehatan, KRI dr Soeharso telah bersandar di Pelabuhan Reo. Kapal rumah sakit milik TNI Angkatan Laut itu dapat digunakan untuk operasi besar dan memiliki ruang rawat inap berkapasitas 75 pasien.
Sejumlah pasien dari pos pengungsian Lambe Leda direncanakan dirujuk ke kapal tersebut. Sementara itu, pos kesehatan di Desa Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Manggarai Timur, melayani sekitar 90–120 pasien setiap hari.
Sementara itu, Pertamina memastikan layanan energi di Pulau Flores berangsur normal setelah gempa bermagnitudo 7,7. Hingga Kamis (20/8/2026), seluruh 56 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Flores telah kembali beroperasi. Sebanyak 17 agen minyak tanah bersubsidi dan lima agen elpiji juga telah melayani masyarakat secara normal.
Perwakilan Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi, dalam konferensi pers itu menyatakan, kebutuhan bahan bakar untuk industri dan pembangkit listrik juga dapat dipenuhi melalui rute pasokan alternatif. Pertamina turut memastikan ketersediaan avtur untuk penerbangan di Bandara Komodo, Labuan Bajo.
Dari delapan terminal bahan bakar minyak milik Pertamina di Nusa Tenggara Timur, tujuh telah beroperasi normal. Satu fasilitas yang masih terkendala ialah terminal BBM Reo. Fasilitas itu sedang diperiksa sebelum kembali dioperasikan.
Untuk menjaga pasokan selama terminal Reo belum pulih, Pertamina mengalihkan suplai dari wilayah lain, termasuk Bima, Nusa Tenggara Barat. Mobil tangki yang membawa BBM dan avtur diseberangkan melalui Pelabuhan Sape menuju Labuan Bajo. Pengalihan jalur pasokan tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat, pembangkit listrik, dan layanan penerbangan di wilayah terdampak gempa.





