MAKASSAR, KOMPAS — Kebakaran kembali menghanguskan sejumlah rumah di Makassar, Sulawesi Selatan. Peristiwa itu juga menyebabkan seorang warga yang terjebak di dalam rumah meninggal dunia. Kasus kebakaran terus meningkat selama musim kemarau panjang.
”Kebakaran tadi malam menghanguskan empat rumah. Selain itu, satu orang meninggal dalam kejadian ini,” kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Makassar Fadli Wellang, Jumat (21/8/2026).
Kebakaran terjadi di Jalan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Kamis (20/8/2026) malam. Api yang diduga berasal dari korsleting listrik mulai terlihat pada pukul 21.45 Wita. Kebakaran berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar satu jam kemudian.
Sebanyak 35 personel dikerahkan untuk mengatasi kebakaran tersebut. Setelah berjibaku selama 45 menit, petugas berhasil menguasai api. Empat bangunan hangus terbakar. Seusai pemadaman, petugas menemukan seorang warga yang terjebak di salah satu bangunan dalam kondisi meninggal dunia.
”Informasinya, korban sedang sakit sehingga tidak bisa menyelamatkan diri. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di salah satu bangunan yang terbakar,” tutur Fadli.
Menurut Fadli, peristiwa tersebut menambah deretan kebakaran di Kota Makassar. Hingga pekan ketiga Agustus, tercatat 44 kasus kebakaran yang menghanguskan 52 rumah, tujuh kios, dan satu pabrik. Peristiwa terbaru ini menambah jumlah kebakaran sepanjang 2026 menjadi 194 kasus. Total kerugian mencapai Rp 3,1 miliar.
Kondisi kemarau panjang membuat api lebih mudah muncul dan cepat merambat. Korsleting listrik dapat memicu kebakaran ketika percikan api mengenai barang-barang yang mudah terbakar dan mengering selama musim kemarau.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Makassar M Fadli Tahar menuturkan, pihaknya berupaya membantu warga yang terdampak kebakaran. Selain pemadaman, penanganan setelah kebakaran juga penting. Kebutuhan dasar warga harus dipenuhi, mulai dari makanan hingga pakaian.
Pemerintah juga telah menetapkan status tanggap darurat kekeringan sejak awal Agustus. Status itu diberlakukan seiring dengan musim kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan, kebakaran, dan gangguan kesehatan.
”Kebakaran merupakan salah satu dampak musim kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga empat bulan ke depan. Kita harus bersiap, memenuhi kebutuhan dasar, serta menyelamatkan warga dari musibah yang terjadi,” terangnya.
Di sejumlah wilayah, kemarau panjang juga menyebabkan pasokan air terganggu. Di bagian timur dan utara Makassar, misalnya, air hanya mengalir pada malam hari. Di sebagian wilayah lainnya, air bahkan sudah tidak mengalir sejak Maret lalu. Wilayah utara Makassar juga termasuk daerah rawan kebakaran.
Pelaksana Tugas Direktur PDAM Makassar A Syahrum Makkuradde, Senin (3/8/2026), mengatakan, lebih dari 30 persen dari sekitar 200.000 pelanggan PDAM Makassar terdampak gangguan pasokan air. Gangguan tersebut terjadi di sedikitnya sembilan kecamatan, yakni Manggala, Panakkukang, Wajo, Bontoala, Ujung Tanah, Tallo, Makassar, Tamalanrea, dan Biringkanaya.
”Debit air di Waduk Lekopancing berkurang hingga di bawah 200 liter per detik. Dalam kondisi normal, debitnya di atas 300 liter per detik. Kami sudah mencoba membantu dengan memompa air dari Sungai Moncongloe, tetapi tidak banyak membantu,” katanya (Kompas, 12/8/2026).





