Manggarai: Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan ruang belajar sementara bagi madrasah yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini menjadi bagian dari respons darurat agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung selama ruang kelas belum aman digunakan.
“Pemulihan sarana pendidikan memang membutuhkan waktu, tetapi layanan pembelajaran harus tetap berjalan selama proses pemulihan itu," kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, dilansir dari Antara, Jumat, 21 Agustus 2026.
Suyitno mengatakan penempatan ruang belajar sementara ini memperhatikan faktor keselamatan. Tenda pembelajaran harus berada di lokasi yang aman dan tidak berdekatan dengan bangunan atau struktur yang berpotensi roboh.
Baca Juga :
177 Ribu Siswa Terdampak Gempa NTTSekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, M. Arskal Salim mengatakan penanganan pendidikan terdampak bencana harus dilakukan berdasarkan data yang terverifikasi.
“Respons tanggap darurat harus berbasis kebutuhan. Karena itu, verifikasi dan pemutakhiran data terus dilakukan agar dukungan yang diberikan tepat sasaran,” ujar Arskal.
Bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Manggarai mengalami kerusakan akibat gempa bumi di kawasan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Kemenag mencatat 72 RA/madrasah terdampak di tujuh kabupaten. Dari jumlah tersebut, 32 satuan pendidikan dengan 5.523 siswa ditetapkan sebagai Prioritas I karena mengalami kerusakan berat atau total dan gangguan terhadap kegiatan belajar mengajar.
Selain ruang belajar sementara, Kemenag juga memetakan kebutuhan sekolah (school kit). Jumlah paket yang diperlukan masih perlu disesuaikan dengan hasil verifikasi penerima di lapangan.
Kemenag memperkuat koordinasi dengan jajaran daerah untuk menindaklanjuti kebutuhan madrasah Prioritas I sekaligus memperbarui data satuan pendidikan yang masuk Prioritas II.




