Suara embusan angin terdengar sangat jelas. Tidak terlihat, tetapi arahnya dapat diketahui dari pasir yang beterbangan. Di dekat Pura Luhur Poten di kaki Gunung Batok, di samping Gunung Bromo, terlihat lengang. Tidak ada hiruk pikuk wisatawan yang biasanya memenuhi kawasan ini. Warung-warung makan yang berjejer juga tutup tanpa aktivitas.
Kebakaran membuat kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur ditutup pariwisata sejak 8 Agustus 2026. Lautan pasir seluas 10 kilometer persegi menjadi sepi tanpa satu pun wisatawan, kecuali sukarelawan yang memadamkan kebakaran.
Saat kondisi normal, sepanjang waktu, dari dini hari hingga malam, kawasan ini selalu ramai oleh wisatawan. Dimulai pukul 02.00 WIB, suara-suara mobil jip yang menderu mulai terdengar dan memecah keheningan pagi untuk mengantarkan wisatawan dari penginapan ke titik melihat matahari terbit. Belum lagi suara klakson yang dinyalakan, bersahut-sahutan menambah bising suasana.
Dari desa-desa tempat penginapan berada, ratusan pengendara jip membawa wisatawan menuruni jalan yang curam menuju lautan pasir. Debu-debu yang tenggelam oleh gelap tidak terlihat, hanya sesak yang ditimbulkan yang dirasakan dan jika terkena mata akan terasa perih.
Setelah melintasi medan berpasir, jip-jip dibawa menaklukkan jalan yang menanjak terjal untuk menuju lokasi melihat matahari terbit. Raungan mesin memaksa keempat roda-roda jip berputar bersama menjadi hal yang lumrah terdengar.
Setelah puas, jip kembali membawa wisatawan turun ke lautan pasir dan mengantarkan wisatawan ke sejumlah titik pemberhentian hingga kemudian kembali ke penginapan. Siklus pergi dan pulang tersebut berlangsung hampir setiap hari.
Bagaimanapun keindahan matahari terbit, lautan pasir, serta panorama kawah Bromo menjadi magnet wisatawan dari sejumlah daerah, bahkan mancanegara untuk berkunjung. Namun, tingginya jumlah kunjungan wisatawan juga memunculkan persoalan baru berupa overtourism atau kondisi ketika jumlah wisatawan terlalu besar dibandingkan daya dukung kawasan.
Kawasan Bromo Tengger Semeru merupakan bagian dari 10 ”Bali Baru” yang dikembangkan pemerintah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) merupakan kawasan wisata alam di Jawa Timur yang berlokasi di wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Probolinggo. Ditetapkan menjadi taman nasional sejak tahun 1982, Bromo Tengger Semeru memiliki luas wilayahnya seluas 50.276,3 hektar.
Di TNBTS ini, terdapat sejumlah cagar alam, taman wisata, dan hutan. Kawasan taman nasional ini meliputi Cagar Alam Laut Pasir Tengger, Cagar Alam Ranu Kumbolo, Taman Wisata Ranu Pani-Ranu Regulo, Taman Wisata Ranu Darungan, Taman Wisata Tengger Laut Pasir, serta Hutan Produksi dan Hutan Lindung.
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki lautan pasir seluas 10 kilometer yang disebut Tengger, tempat di mana empat anak gunung berapi baru berada. Anak gunung berapi tersebut adalah Gunung Batok (2.470 meter), Gunung Kursi (2.581 meter), Gunung Watangan (2.661 meter), dan Gunung Widodaren (2.650 meter).
Selain sebagai konservasi, TNBTS terus dikembangkan menjadi kawasan wisata. Banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara berkunjung di kawasan itu. Beberapa area wisata primadona, yaitu Kawah Gunung Bromo dan Gunung Semeru yang masuk area TNBTS. Sementara lokasi wisata lainnya berada di jalur pendakian Gunung Semeru, seperti Desa Wisata Ranu Pane, Ranu Kumbolo, Kalimati, Arcopodo, dan Bukit Teletubbies.
Selain kekayaan flora, fauna, dan ekologi yang luar biasa, di kawasan Tengger bermukim masyarakat Tengger, yaitu masyarakat asli, turun-temurun yang menghuni kawasan Tengger. Bagi suku Tengger yang mendiami lerengnya, Gunung Bromo merupakan gunung yang sakral. Pada bulan Kasada, suku Tengger akan melarung sesaji ke kawah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan bentuk syukur atas hasil bumi yang melimpah.
Dengan beragam ekosistem alam dan keunikan budaya tersebut, kawasan wisata Bromo, Tengger, Semeru telah ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) atau terkenal dengan sebutan 10 ”Bali Baru” yang terus dikembangkan pemerintah. Diharapkan pula akan menjadi sektor andalan untuk mendatangkan devisa, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal.
Lonjakan wisatawan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Pelaku usaha penginapan, jasa transportasi, penyewaan kendaraan, pedagang makanan, hingga pemandu wisata turut mendapatkan manfaat dari aktivitas pariwisata.
Di sisi lain, kepadatan pengunjung berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan. Sampah yang ditinggalkan wisatawan, peningkatan lalu lintas kendaraan, serta aktivitas manusia di kawasan yang sensitif dapat mengganggu ekosistem dan mengurangi kualitas pengalaman wisata.
Persoalan overtourism juga menunjukkan bahwa keberhasilan pariwisata tidak semata-mata diukur dari banyaknya wisatawan yang datang. Keberlanjutan lingkungan dan kenyamanan masyarakat lokal harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan destinasi.
Kebakaran yang terjadi selama 13 hari yang membuat wisata sejenak terhenti seolah menjadi bagian siklus kehidupan dari Gunung Bromo. Kesunyian yang sementara mengambil alih kawasannya, menjadi jeda bagi alamnya untuk rehat sejenak dan memperbaiki diri, kesakralan Bromo lebih terlihat.
Setelah kebakaran bisa dipadamkan, pariwisata di kawasan Gunung Bromo kembali dibuka mulai 20 Agustus 2026. Wisatawan kembali bisa menikmati magis dan indahnya bentang alam di Indonesia ini.
Gunung Bromo memiliki daya tarik alam yang luar biasa, tetapi daya tarik tersebut perlu dijaga agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Diperlukan usaha bersama dari pelaku usaha dan wisatawan untuk mewujudkan pariwisata Bromo yang tidak hanya ramai, tetapi juga berkelanjutan.
Serial Artikel
Kebakaran di Bromo yang Menyatukan
Bersama instansi terkait, ratusan pelaku usaha turun langsung membantu memadamkan kebakaran yang melanda kawasan Gunung Bromo.





