CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Coelacanth kembali menjadi perhatian dunia karena ikan purba yang selama puluhan juta tahun hanya dikenal melalui fosil itu ternyata masih hidup di sejumlah perairan, termasuk Sulawesi, Indonesia, dan Afrika Selatan.
Coelacanth merupakan kelompok ikan bersirip cuping dari genus Latimeria yang memiliki sejarah evolusi lebih dari 400 juta tahun.
Ikan ini pernah dianggap telah punah sekitar 65-70 juta tahun lalu, bersamaan dengan periode kepunahan dinosaurus pada akhir zaman Kapur.
Anggapan tersebut runtuh pada 22 Desember 1938 ketika seekor coelacanth hidup ditemukan dari hasil tangkapan nelayan di dekat muara Sungai Chalumna, Afrika Selatan.
Temuan itu dikenali oleh Marjorie Courtenay-Latimer, kurator East London Museum, sebelum diteliti oleh ahli ikan J.L.B. Smith dan kemudian diberi nama Latimeria chalumnae.
Penemuan tersebut menjadi salah satu temuan zoologi paling mengejutkan pada abad ke-20 karena coelacanth sebelumnya hanya diketahui dari catatan fosil.
Sejak saat itu, sejumlah populasi ditemukan di wilayah Samudra Hindia, terutama di sekitar Kepulauan Komoro dan pesisir Afrika Timur.
Kejutan berikutnya datang dari Indonesia. Pada 1997-1998, dua coelacanth ditangkap di sekitar Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara, hampir 10.000 kilometer dari populasi coelacanth yang sebelumnya diketahui di Komoro.
Penelitian selanjutnya menetapkan populasi Indonesia sebagai spesies berbeda, Latimeria menadoensis.
Spesimen yang menjadi holotipe L. menadoensis ditangkap pada 30 Juli 1998 di perairan lepas Pulau Manado Tua pada kedalaman sekitar 100-150 meter.
Penemuan itu memperkuat bukti bahwa coelacanth bukan hanya bertahan di perairan Afrika, tetapi juga memiliki populasi tersendiri di kawasan Indonesia.
Secara fisik, coelacanth mudah dikenali dari sirip berlobus yang menyerupai tungkai, tubuh besar, serta struktur ekor yang khas. Spesies Afrika dapat mencapai panjang sekitar 1,4 meter dan berat hingga 95 kilogram.
Gerakan sirip berlobusnya juga menarik perhatian ilmuwan karena memiliki susunan tulang yang berbeda dari kebanyakan ikan modern.
Coelacanth hidup di perairan laut dalam, umumnya di sekitar lereng berbatu, gua dan celah bawah laut. Smithsonian Institution mencatat habitatnya berada pada zona laut yang minim cahaya, dengan sejumlah pengamatan pada kedalaman sekitar 152-243 meter.
Keunikan lainnya terletak pada posisi evolusionernya. Coelacanth termasuk kelompok ikan bersirip cuping yang lebih dekat kekerabatannya dengan hewan bertulang belakang darat dibandingkan ikan bersirip kipas yang umum dijumpai saat ini.
Meski pernah dianggap sebagai calon "mata rantai" evolusi menuju hewan darat, penelitian modern menunjukkan kerabat hidup terdekat hewan darat adalah ikan paru-paru, bukan coelacanth.
Karena bentuk tubuhnya relatif mirip dengan fosil leluhurnya, coelacanth kerap disebut sebagai "fosil hidup".
Namun, istilah tersebut tidak berarti ikan ini berhenti berevolusi. Penelitian genom justru menunjukkan coelacanth memiliki laju perubahan genetik yang relatif lambat dibandingkan sejumlah organisme lain.
Keberadaan dua spesies yang masih hidup saat ini—Latimeria chalumnae di kawasan Samudra Hindia bagian barat dan Latimeria menadoensis di perairan Indonesia—menjadikan coelacanth salah satu kelompok vertebrata paling penting dalam penelitian evolusi.
Di tengah nilai ilmiahnya, keberadaan coelacanth juga menghadapi ancaman konservasi. Populasinya hidup di habitat laut dalam yang sangat spesifik dan kedua spesies yang masih bertahan diketahui berada dalam kondisi terancam.
Karena itu, penemuan coelacanth bukan sekadar kisah tentang "ikan purba yang kembali hidup", tetapi juga pengingat bahwa sebagian garis evolusi tertua di bumi masih membutuhkan perlindungan.
Sumber: sanbi.ac.za




