Syahriar Tato Berpulang di Usia 75 Tahun: Sosok Multitalenta Sulsel dengan Jejak Panjang di Birokrasi, Akademik, Teater, dan Film

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sulawesi Selatan (Sulsel) kehilangan Syahriar Tato, sosok yang multitalenta. Syahariar berpulang di usia 75 tahun.

Sepanjang hidupnya almarhum meniti karier di berbagai bidang, mulai dari birokrasi, teknik, akademik hingga teater dan perfilman.

Dr. Ir. Drs. H. Syahriar Tato, BAE., S.Sos., SH., S.Sn., MS., MH., MM., mengembuskan napas terakhir di RS Hermina Makassar, Sabtu (22/8/2026) pukul 05.58 Wita atau selepas waktu subuh.

Kabar duka tersebut beredar di media sosial. Banyak yang mengucapkan turut berduka cita.

“Innalillahi wainnailaihi rajiun, telah berpulang ke rahmatullah Bapak Dr. Ir. Drs. H. Syahriar Tato, BAE., S.Sos., SH., S.Sn., MS., MH., MM..”

Jenazah Syahriar kemudian disemayamkan di rumah duka yang berada di kawasan Jalan Hertasning Aroepala, Kompleks Permata Hijau Lestari, Makassar.

Syahriar lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan, pada 21 Februari 1951 dan semasa hidup dikenal sebagai figur yang mampu menjembatani dunia pemerintahan, akademik, teknik, kebudayaan hingga layar lebar.

Di ranah pemerintahan, ia menghabiskan sebagian besar perjalanan profesionalnya di Sulawesi Selatan dengan pengalaman yang luas dalam urusan pekerjaan umum, perumahan, tata ruang, permukiman dan lingkungan.

Berbagai posisi pernah diembannya, di antaranya Kepala Loka Bahan Bangunan, Kepala Seksi Perumahan, Kepala Subdin Perumahan, Kepala Subdin Air Bersih serta Kepala Subdin Perkotaan dan Perdesaan.

Kariernya kemudian berlanjut ke tingkat provinsi ketika pada 2006-2008, saat Syahrul Yasin Limpo menjabat Gubernur Sulsel, Syahriar dipercaya menjadi Wakil Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sulawesi Selatan.

Ia selanjutnya mendapat kepercayaan sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sulawesi Selatan.

Pengabdian panjangnya sebagai aparatur pemerintahan turut mendapat apresiasi melalui sejumlah penghargaan, termasuk Satya Karya 1985 dari Menteri Pekerjaan Umum serta Satyalancana Karya Satya untuk masa pengabdian 10, 20 dan 30 tahun dari Presiden Republik Indonesia.

Namun, kiprah Syahriar tidak berhenti di balik meja birokrasi karena ia juga dikenal luas sebagai seniman dan aktor yang aktif dalam perkembangan perfilman daerah.

Namanya tercatat dalam sejumlah film, antara lain Maipa Deapati & Datu’ Museng, Namamu Kata Pertamaku, Baco Becce, Cinta Sama dengan Cindolo Na Tape, Silariang: Menggapai Keabadian Cinta, Sunset di Pantai Losari, Ati Raja dan Between Us. Masih banyak yang lainnya.

Bagi Syahriar, film bukan sekadar ruang untuk berekspresi atau mencari hiburan, melainkan sarana memperkenalkan kekayaan budaya daerah sekaligus membuka wawasan bagi generasi muda.

Pandangan tersebut mendorongnya aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan promosi dan pengembangan industri film lokal, termasuk ketika ia dipercaya memimpin Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Sulawesi Selatan.

Dedikasinya di bidang seni juga membawanya memperoleh penghargaan di tingkat internasional melalui Anugerah Telenovela 2018 yang diberikan Yayasan Pembangunan Buku Negara (YPBN) pada 28 Juli 2018 di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia.

Menekuni Beragam Bidang Ilmu

Di luar pemerintahan dan seni, Syahriar juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dengan menempuh studi di berbagai disiplin.

Latar pendidikannya mencakup arsitektur, administrasi negara, teknik sipil, hukum, perencanaan lingkungan hingga manajemen.

Pendidikan awalnya ditempuh melalui program D-3 Arsitektur di Akademi Teknologi Negeri Makassar sebelum melanjutkan pendidikan sarjana di sejumlah perguruan tinggi.

Ia meraih gelar S-1 Administrasi Negara dari STIA-LAN RI Makassar, S-1 Teknik Sipil dari Universitas Muslim Indonesia dan S-1 Hukum Pidana dari Universitas Satria Makassar.

Pada jenjang magister, Syahriar memperdalam Perencanaan dan Penyehatan Lingkungan di Universitas Hasanuddin, Magister Hukum di UKI Paulus serta Magister Manajemen di STIE PBM.

Pendidikan akademiknya berlanjut hingga jenjang doktoral melalui Program Ilmu Teknik Universitas Hasanuddin yang diselesaikannya pada 2004.

Beragam latar pendidikan tersebut kemudian menjadi bekal yang mendukung aktivitas Syahriar di bidang teknik, tata ruang, pemerintahan, lingkungan dan sosial kemasyarakatan.

Ia juga aktif menuangkan pemikirannya dalam berbagai tulisan yang membahas persoalan perkotaan dan kehidupan masyarakat.

Air bersih, pengelolaan limbah, lingkungan, tata ruang serta perkembangan kawasan metropolitan menjadi sejumlah persoalan yang banyak mendapat perhatian dalam karya-karyanya.

Beberapa karya yang pernah dihasilkan antara lain Pengolahan Limbah Cair Perkotaan dengan Filter Biokimia, Melestarikan Air sebagai Sumber Kehidupan, 1 Miliar Orang Dambakan Air serta Model Kerjasama Antar Kota pada Kawasan Metropolitan Mamminasata.

Pada 2009, Syahriar turut menerbitkan buku Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan: Pusaka Warisan Budaya Indonesia melalui Lamacca Press.

Kontribusinya di bidang keilmuan juga diwujudkan melalui keterlibatan dalam berbagai penelitian, termasuk kajian pencemaran air limbah rumah tangga di kawasan permukiman, perilaku masyarakat bantaran kanal dalam pengelolaan limbah, AMDAL TPA regional, industri daur ulang Mamminasata serta sistem penyediaan air bersih.

Syahriar juga memperluas wawasan melalui keikutsertaannya dalam seminar dan konferensi internasional di sejumlah negara, seperti Selandia Baru, Australia, Jepang, Turki, Korea Selatan dan Sri Lanka.

Jejak panjang tersebut membuat sosok Syahriar Tato tidak hanya dikenang karena banyaknya jabatan atau gelar akademik yang disandang, tetapi juga karena kemampuannya berkiprah di sejumlah bidang yang berbeda.

Birokrasi dan seni, teknik dan kebudayaan, serta pendidikan dan perfilman menjadi bagian yang saling melengkapi dalam perjalanan hidupnya.

Ia pernah bekerja dalam pemerintahan, mengembangkan ilmu sebagai akademisi dan peneliti, menulis tentang persoalan lingkungan dan perkotaan, sekaligus berkontribusi dalam dunia seni serta perfilman Sulawesi Selatan.

Kepergian Syahriar Tato pada usia 75 tahun meninggalkan jejak panjang seorang figur multitalenta yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pemerintahan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aksi Warga Pati 27 Agustus, Pramono Minta Aparat Kedepankan Pendekatan Humanis
• 27 menit lalukompas.com
thumb
Hadirkan Pengalaman Baru, Qlola by BRI Optimalkan Layanan Digital Bisnis
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Tembus Wilayah Terisolir, TNI Kerahkan Armada Tiga Matra Tangani Pascagempa NTT
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dari QRIS ke KKI: Membangun Kedaulatan Infrastruktur Keuangan Digital
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Tanda Orang yang Punya Niat Jahat Menurut Ilmu Psikologi
• 17 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.