HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Dunia seni dan perfilman Sulawesi Selatan berduka.
Pasalnya, salah satu putra terbaiknya Syahriar Tato yang merupakan sosok yang selama puluhan tahun menjalani banyak peran sebagai seniman, aktor, akademisi hingga birokrat, telah berpulang.
Dr. Ir. Drs. H. Syahriar Tato, BAE., S.Sos., SH., S.Sn., MS., MH., MM., mengembuskan napas terakhir di RS Hermina Makassar, Sabtu, 22 Agustus 2026, pukul 05.58 Wita. Ia meninggal dunia di usia 75 tahun.
Kabar kepergian Syahriar Tato diketahui melalui unggahan salah seorang sahabatnya, Dedi Alamsyah Mannaroi, di media sosial.
Unggahan itu segera menyebar dan membawa duka bagi keluarga, sahabat, serta orang-orang yang pernah bersinggungan dengan perjalanan panjang hidupnya.
“Innalillahi wainnailaihi rajiun,” tulis Dedi dalam unggahannya.
Setelah mengembuskan napas terakhir di rumah sakit, jenazah Syahriar Tato dibawa ke rumah duka di Jalan Bau Mangga, Makassar.
Di tempat itu, keluarga dan kerabat berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah dimakamkan.
Rencananya, jenazah Syahriar Tato dimakamkan di Makassar setelah salat Zuhur pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Kepergian Syahriar Tato bukan sekadar kehilangan bagi keluarga. Dunia seni dan perfilman Sulawesi Selatan juga kehilangan salah satu sosok yang perjalanan hidupnya begitu berwarna.
Semasa hidup, Syahriar dikenal tidak hanya sebagai aktor dan seniman. Ia juga menjalani perjalanan panjang sebagai akademisi dan birokrat.
Beragam pengalaman tersebut membuat sosoknya memiliki ruang pengabdian yang luas, dari dunia pendidikan hingga pemerintahan dan kesenian.
Di tengah kesibukannya menjalani berbagai profesi, dunia seni tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Kiprahnya di dunia perfilman membuat namanya dikenal oleh masyarakat dan insan seni di Sulawesi Selatan.
Bagi mereka yang pernah mengenalnya, Syahriar bukan hanya sosok yang hadir di layar atau di tengah aktivitas kesenian. Ia adalah pribadi yang melewati berbagai zaman dan menyaksikan sendiri perubahan dunia seni di Sulawesi Selatan.
Perjalanan panjang itu kini berhenti. Namun, cerita tentang dirinya akan terus hidup melalui orang-orang yang pernah bekerja bersamanya, bersahabat dengannya, maupun mereka yang mengenal sosoknya melalui karya-karyanya.
Sejak kabar duka tersebut beredar, ucapan belasungkawa berdatangan dari sahabat dan rekan yang mengenal almarhum. Doa dipanjatkan agar perjalanan terakhirnya mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Rumah duka di Jalan Bau Mangga pun menjadi tempat keluarga menerima kedatangan kerabat dan sahabat yang ingin memberikan penghormatan terakhir.
Syahriar Tato telah pergi. Tetapi jejak panjang yang ditinggalkannya, terutama dalam dunia seni, pendidikan, pemerintahan, dan perfilman Sulawesi Selatan, menjadi bagian dari cerita yang akan terus dikenang. Syahriar Tato disalatkan di Masjid Jabal Rahmah lalu dimakamkan di Kabupaten Pinrang. (wis)





