Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi. Dari bangun tidur hingga kembali beristirahat, layar ponsel terus menghadirkan berita, video, komentar, dan berbagai potongan informasi lainnya. Kita bahkan tidak perlu mencarinya karena informasi datang dengan sendirinya melalui media sosial dan berbagai aplikasi yang kita gunakan. Dalam satu hari, seseorang bisa menerima lebih banyak informasi daripada yang mampu ia cerna dengan baik.
Dulu, mendapatkan informasi bukan perkara mudah. Seseorang harus membeli koran, menonton televisi, mendengarkan radio, atau mencari buku untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Kini keadaan berubah. Hanya dengan beberapa sentuhan, kita dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di tempat yang jauh. Namun, kemudahan tersebut membawa persoalan baru. Kita semakin mudah memperoleh informasi, tetapi belum tentu semakin mudah menentukan mana yang benar.
Persoalan itu bukan sekadar dugaan. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 1.923 konten hoaks sepanjang 2024 yang berhasil ditangkap atau diidentifikasi. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut angka tersebut sebagai “puncak gunung es” karena jumlah sebenarnya diperkirakan lebih besar. Data itu menunjukkan bahwa persoalan informasi palsu bukan lagi sesuatu yang berada di pinggir ruang digital, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Kementerian Komunikasi dan Digital, 2025).
Masalahnya bukan lagi sekadar kekurangan informasi, melainkan kemampuan kita dalam mengolahnya. Kita bisa membaca banyak berita dalam sehari, tetapi belum tentu memahami persoalan yang sebenarnya. Kita bisa melihat puluhan video tentang sebuah peristiwa, tetapi belum tentu mengetahui konteks di baliknya. Kecepatan memperoleh informasi sering kali tidak berjalan seiring dengan kecepatan memahami informasi.
Kecepatan bahkan perlahan menjadi ukuran baru dalam mengonsumsi informasi. Banyak orang ingin menjadi yang pertama mengetahui dan membagikan sesuatu. Akibatnya, keinginan untuk segera menyebarkan informasi terkadang lebih besar daripada keinginan untuk memeriksa kebenarannya. Informasi yang belum jelas sumbernya pun dapat beredar luas hanya dalam hitungan menit. Dalam kondisi seperti ini, tombol bagikan dapat bekerja lebih cepat daripada pikiran kita.
Persoalan menjadi semakin rumit karena media sosial tidak hanya menyajikan informasi yang benar, tetapi juga informasi yang menarik perhatian. Konten yang membuat orang terkejut, marah, takut, atau penasaran lebih mudah mengundang reaksi. Kita akhirnya berhadapan dengan sebuah paradoks: informasi yang paling menarik perhatian belum tentu informasi yang paling benar.
Kita pun sering kali percaya bukan karena sudah memeriksa informasi tersebut, tetapi karena informasi itu sesuai dengan apa yang sebelumnya kita yakini. Ketika sebuah informasi mendukung pandangan kita, kita cenderung menerimanya dengan lebih mudah. Sebaliknya, ketika informasi tersebut bertentangan dengan keyakinan kita, kita lebih mudah mencurigainya. Bahkan menurut Kementerian Komunikasi dan Digital, ada responden yang mengakui pernah menyebarkan hoaks; faktor emosi dan kepentingan tertentu dapat membuat seseorang tetap membagikan informasi meskipun mengetahui informasi itu bermasalah. (Sumber: Kementerian Komunikasi dan Digital, 2025).
Cara kita membaca juga mengalami perubahan. Banyak orang kini terbiasa mendapatkan informasi melalui judul, potongan video, gambar, atau beberapa kalimat singkat. Kita semakin jarang memiliki waktu untuk membaca keseluruhan konteks. Akibatnya, sebuah informasi yang sebenarnya memiliki penjelasan panjang dapat dipahami hanya dari satu bagian kecil. Kita merasa sudah mengetahui sebuah peristiwa hanya karena melihat beberapa detik video atau membaca satu judul.
Masalah terbesar muncul ketika potongan tersebut dianggap sebagai keseluruhan cerita. Sebuah video bisa saja benar-benar menampilkan suatu kejadian, tetapi tanpa mengetahui kapan, di mana, dan dalam situasi apa video itu dibuat, kita belum tentu memahami maknanya. Informasinya mungkin benar, tetapi kesimpulan yang kita ambil bisa keliru. Karena itu, di tengah banjir informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya menjadi semakin penting: benarkah informasi ini, dari mana sumbernya, dan apa konteks sebenarnya?
Tantangan tersebut menjadi semakin besar ketika kecerdasan buatan berkembang pesat. Hari ini, membuat teks, gambar, suara, bahkan video yang tampak meyakinkan menjadi semakin mudah. Data Sensity AI yang dikutip Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan peningkatan 550 persen konten deepfake dalam lima tahun terakhir. Teknologi memberi manusia kemampuan untuk menghasilkan konten dengan cepat, tetapi kemampuan masyarakat untuk memeriksa keasliannya belum tentu berkembang dengan kecepatan yang sama. (Sumber: Kementerian Komunikasi dan Digital, 2025).
Kita akhirnya memasuki keadaan ketika sesuatu yang terlihat benar belum tentu benar. Persoalan itu bukan lagi sekadar teori. Pada awal 2025, kasus penipuan menggunakan video deepfake yang menampilkan Presiden Prabowo Subianto menjadi contoh nyata. Pelaku menggunakan video manipulasi untuk menawarkan bantuan pemerintah palsu. Dalam kasus tersebut, korban mencapai sekitar 100 orang dari 20 provinsi, dengan total kerugian sekitar Rp65 juta. Teknologi yang seharusnya membantu manusia justru dapat digunakan untuk membuat kebohongan terlihat meyakinkan. (Sumber: Tempo, 7 Februari 2025).
Karena itu, persoalan informasi tidak cukup diselesaikan dengan meminta masyarakat lebih sering membaca. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca secara kritis. Kita perlu membiasakan diri bertanya dari mana sebuah informasi berasal, siapa yang menyampaikannya, apa buktinya, dan apakah ada sumber lain yang dapat menguatkan atau membantahnya. Membaca banyak belum tentu membuat seseorang memahami banyak jika tidak disertai kebiasaan untuk mempertanyakan.
Di sinilah pendidikan memiliki peran penting. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan seseorang menemukan jawaban, tetapi juga mengajarkan bagaimana menilai sebuah jawaban. Di tengah derasnya informasi, kemampuan bertanya justru menjadi semakin penting. Pertanyaan sederhana seperti “dari mana sumbernya?” atau “apa buktinya?” dapat menjadi penghalang pertama agar seseorang tidak mudah menerima informasi yang keliru.
Jurnalisme juga memiliki posisi penting dalam keadaan seperti ini. Ketika siapa pun dapat memproduksi dan menyebarkan informasi, pekerjaan jurnalistik bukan sekadar menyampaikan apa yang terjadi. Jurnalisme memiliki tanggung jawab untuk memeriksa fakta, mencari konteks, menguji informasi, dan memberikan gambaran yang lebih utuh kepada masyarakat. Justru ketika informasi semakin melimpah, kebutuhan terhadap kerja jurnalistik yang dapat dipercaya semakin besar.
Namun, seluruh tanggung jawab itu tidak dapat dibebankan kepada media. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab terhadap informasi yang mereka konsumsi dan sebarkan. Setiap kali kita menekan tombol bagikan, kita ikut menentukan informasi seperti apa yang akan beredar di ruang publik. Karena itu, berhenti beberapa detik untuk memeriksa informasi bukan tindakan yang berlebihan. Itu adalah bentuk tanggung jawab sebagai pengguna ruang digital.
Kita mungkin tidak akan pernah mampu menghentikan arus informasi. Setiap hari akan selalu ada berita baru, video baru, pendapat baru, dan klaim baru yang muncul di hadapan kita. Yang dapat kita lakukan adalah membangun kebiasaan untuk tidak langsung percaya. Keraguan yang sehat bukan berarti menolak semua informasi, melainkan memberikan waktu kepada diri sendiri untuk memastikan sebelum menjadikannya sebagai sebuah keyakinan.
Pada akhirnya, persoalan terbesar di era informasi bukanlah seberapa banyak informasi yang dapat kita kumpulkan, melainkan seberapa baik kita mampu memahami dan menilainya. Kita hidup pada zaman ketika mengetahui sesuatu hanya membutuhkan beberapa detik, tetapi memahami sesuatu membutuhkan jauh lebih banyak waktu. Di tengah banjir informasi, kemampuan paling penting mungkin bukan menjadi orang yang paling cepat mengetahui, melainkan menjadi orang yang tahu kapan harus berhenti, bertanya, dan mengatakan: saya belum cukup tahu untuk mempercayainya.





