KOMPAS.com – Pemerintah pusat menetapkan target cetak sawah seluas 10.000 hektare (ha) di Provinsi Maluku Utara (Malut). Namun, realisasi saat ini baru dipenuhi sekitar 1.900 ha.
Kementerian Transmigrasi (Kementrans) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Malut menggelar rapat koordinasi dengan seluruh pemerintah daerah (pemda) yang memiliki kawasan transmigrasi di Kota Ternate, Maluku Utara, Jumat (21/8/2026).
Rapat tersebut juga dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Malut Samsuddin Abdul Kadir, para kepala dinas tenaga kerja dan transmigrasi (Dinaskertrans), serta sekretaris daerah dari Kabupaten Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Halmahera Utara, Halmahera Timur, dan Pulau Morotai.
Dalam kesempatan itu, Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mulyadi mengatakan, peluang mencetak sawah baru masih terbuka lebar dengan memaksimalkan lahan transmigrasi yang belum produktif.
"Bila pemerintah daerah sepakat membuka lahan cetak sawah baru, selanjutnya akan kami koordinasikan dengan Kementerian Pertanian," ujar Viva Yoga dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (22/8/2026).
Baca juga: Produksi Beras Naik pada Juni 2026, Bagaimana Prospek hingga September?
Pencetakan sawah baru dinilai dapat meningkatkan produksi beras dan kesejahteraan transmigran serta masyarakat yang menempati kawasan transmigrasi.
Hal tersebut juga dapat menguntungkan petani lokal dan mendorong mereka menjadi produsen kebutuhan pangan di Maluku Utara.
Dalam rakor tersebut, Sekda Provinsi (Sekdaprov) Malut, kepala Dinaskertrans, dan sekda kabupaten memaparkan berbagai permasalahan yang dihadapi sektor pertanian, seperti persoalan irigasi, limbah pertambangan, hingga banjir.
Permasalahan tersebut membuat masyarakat di kawasan transmigrasi belum dapat memenuhi kebutuhan pangan secara optimal, meskipun produksi beras berasal dari sawah mereka. Oleh karena itu, kebutuhan sembako, terutama di Ternate, masih didatangkan dari provinsi lain.
"Dari rakor inilah kami serap dan dengar apa saja keluhan dari kawasan transmigrasi di Malut," ujar Viva Yoga.
Baca juga: Kementrans Tertibkan Aset Rp 2,679 Triliun, Pastikan Infrastruktur Kawasan Transmigrasi Bermanfaat bagi Masyarakat
Selain menanggapi berbagai tantangan tersebut, Viva Yoga menyampaikan bahwa pencetakan sawah baru tidak hanya dapat meningkatkan produksi untuk mendukung swasembada beras nasional, tetapi juga membuka peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
"Tenaga kerjanya bisa memanfaatkan dari masyarakat setempat atau lokal," lanjutnya.
Dukungan infrastruktur untuk cetak sawah baruViva Yoga menegaskan pentingnya mendorong pencetakan sawah di luar Pulau Jawa karena setiap tahun sekitar 10.000 ha sawah beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, jalan, dan fasilitas umum lainnya.
Agar lahan dapat dimanfaatkan secara optimal, Viva Yoga menegaskan bahwa pencetakan sawah baru perlu didukung infrastruktur, seperti saluran irigasi, bendungan, dan sumber air.
"Jangan sampai cetak sawah lalu tidak ada saluran irigasi dan bendungan," imbuhnya.





