Kabut Asap dari Indonesia Bayangi F1 Singapura, Bagaimana Nasib Balapan?

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

VIVA –Perhelatan Grand Prix Formula 1 (F1) Singapura yang akan diselenggarakan pada Oktober 2026 mendatang mendapat sorotan lantaran berlangsung di tengah meningkatnya risiko kabut asap yang bisa berdampak pada kesehatan, jarak pandang hingga operasional acara. 

Badan Meteorologi Singapura pada Senin 17 Agustus lalu mengatakan, Singapura berpotensi mengalami kondisi berkabut akibat asap jika kebakaran di wilayah Sumatra dan Kalimantan, Indonesia, semakin meluas. Kondisi cuaca kering di kawasan tersebut diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga :
Strategi BPBD Banjar Cegah Meluasnya Karhutla
Prabowo Perintahkan Operasi Darat dan Udara Diperkuat untuk Tangani Karhutla

Dengan adanya prakiraan yang menunjukkan meningkatnya risiko kabut asap lintas batas yang parah pada paruh kedua tahun ini, yang dipengaruhi kondisi El Nino kuat dan sejumlah faktor lainnya, penyelenggara acara serta pengelola fasilitas luar ruangan tidak ingin mengambil risiko.

Saat ditanya mengenai persiapan menghadapi kabut asap tahun ini, juru bicara Singapore GP mengatakan, kemungkinan terjadinya kabut asap sudah diperhitungkan dalam rencana kontingensi keseluruhan acara.

"Rencana tersebut disusun dan terus disempurnakan bersama para pemangku kepentingan serta lembaga pemerintah. Jika kabut asap menimbulkan masalah terkait jarak pandang, kesehatan masyarakat, atau operasional, Singapore GP akan bekerja sama dengan lembaga terkait sebelum mengambil keputusan bersama mengenai pelaksanaan acara," kata juru bicara tersebut dikutip dari laman CNA News, Sabtu 22 Agustus 2026.

Gugus Tugas Antarlembaga Kabut Asap pemerintah Singapura mengatakan, berbagai lembaga bekerja sama erat dengan Singapore GP untuk memastikan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan penonton, staf, pembalap, serta seluruh kru.

Lembaga-lembaga yang tergabung dalam gugus tugas tersebut akan bekerja sama dengan Singapore GP untuk menentukan langkah yang perlu diambil berdasarkan tingkat PSI dan PM2.5. Sebagaimana dikabarkan pada akhir pekan lalu, berdasarkan data Pollutant Standards Index , indikator kualitas udara di Singapura, sedikit meningkat  yakni pada rentang 51 hingga 100. Kualitas udara dikategorikan tidak sehat ketika PSI berada di atas 100, sangat tidak sehat jika melebihi 200, dan berbahaya apabila melampaui 300.

Beberapa langkah-langkah yang telah disiapkan pihak Singapura antara lain memastikan seluruh orang yang berada di area sirkuit mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan kabut asap. Bantuan medis dan masker N95 juga akan tersedia di lokasi jika diperlukan.

Baca Juga :
Doa PAN untuk Korban Gempa di NTT dan Bencana Karhutla Kalimantan
Prabowo Susuri Lahan Terbakar di Kubu Raya, Jamin Penanganan Maksimal
Prabowo Tambah 1.500 Personel dan 6 Helikopter Tangani Karhutla

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Raket, Keringat, dan Silaturahmi di Tengah Semarak REI Padel Merdeka 2026
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Klaim Keterangan Ahli dari Polri Untungkan Pihaknya
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Berburu Kasuari-Kuskus untuk Konten, Dua WN China Dideportasi Imigrasi Jayapura
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Cara Mengenali Perempuan yang Merasa Sedih dalam Hubungan Dilihat dari Ucapannya
• 22 jam lalubeautynesia.id
thumb
Terbaru! Situasi Jambi-Kalimantan Selatan Buntut Asap Kebakaran Hutan dan Lahan
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.