Jembrana Sound Session Vol. 04, Ketika Satu Panggung Menumbuhkan Ekonomi Kreatif

kompas.tv
3 jam lalu
Cover Berita
Penampilan musik dari para musisi turut meramaikan Jembrana Sound Session Vol. 04. (Sumber: Dok. Disparbud Jembrana)

KOMPAS.TV - Barangkali sebuah kota tidak pernah benar-benar hidup hanya karena gedung-gedungnya berdiri, jalan-jalannya terbentang, atau lampu-lampu menyala di malam hari. Sebuah kota hidup ketika orang-orang di dalamnya memiliki ruang untuk bertemu. 

Di sebuah sudut kota, seseorang memainkan musik yang telah lama ia latih. Di tempat lain, sekelompok anak muda mencoba menerjemahkan kegelisahan mereka ke dalam teater. Seorang seniman menggoreskan warna pada kanvas. 

Seseorang memodifikasi kendaraan bukan sekadar agar berbeda, tetapi agar memiliki cerita. Yang lain membuat gambar, merekam video, menulis, mendesain, memasak, membuat konten, atau sekadar datang dan memberi tepuk tangan. 

Semua itu mungkin tampak seperti hal-hal yang terpisah. Padahal, di sanalah sebuah ekosistem sedang tumbuh. Jembrana Sound Session (JSS) Vol. 04 hadir mengambil tema “Mosaic of Creativity” pada Jumat, 21 Agustus di Gedung Kesenian Dr. Ir. Soekarno, untuk mempertemukan kepingan-kepingan tersebut. 

Sejak awal JSS memang tidak dimaksudkan hanya sebagai panggung musik. Ia adalah ruang bertemu. Tempat seorang pelaku kreatif berhadapan dengan publik, komunitas menemukan komunitas lain, gagasan diuji oleh kenyataan, karya memperoleh apresiasi, dan jejaring dibangun. Dan, yang paling penting, tempat seseorang mendapatkan pengalaman untuk tumbuh. 

Tidak Dibangun dari Keseragaman

Mozaik tersusun dari kepingan-kepingan yang berbeda. Tidak ada dua keping yang harus benar-benar sama. Ada warna yang terang, ada yang redup. Ada bentuk yang besar, ada yang kecil. 

Ada yang menjadi pusat perhatian, ada pula yang justru membuat keseluruhan gambar terasa utuh. Keindahannya lahir bukan karena perbedaan itu dihilangkan, melainkan karena perbedaan tersebut menemukan tempatnya. 

Begitu pula kreativitas. Mosaic of Creativity adalah cara JSS Vol. 04 membaca Jembrana sebagai ruang kreatif, sebuah ruang yang tidak harus memilih antara tradisi dan modernitas, musik dan teater, seni dan teknologi, antara karya dan gaya hidup. 

Semuanya dapat bertemu tanpa harus kehilangan identitasnya. Malam itu, musik hadir bersama teater. Seni rupa hadir melalui live painting. Kendaraan hadir berdampingan dengan pertunjukan. 

Visual, fotografi, videografi, konten digital, fesyen, kuliner, dan komunitas ikut membentuk suasana. Bukan karena semuanya harus menjadi satu bentuk. Justru karena masing-masing tetap memiliki identitasnya. Di sanalah mozaik menjadi utuh. 

Selama ini ada kecenderungan melihat ekonomi kreatif melalui sesuatu yang paling mudah dilihat: pertunjukan, karya, atau produk. Padahal, di balik satu pertunjukan musik, ada banyak pekerjaan dan kreativitas yang bekerja dalam diam. 

Ada orang yang merancang identitas visual. Ada fotografer yang menangkap momen. Videografer yang menyimpan cerita. Pengelola media sosial yang membawa acara kepada publik. Penata busana, pelaku kuliner, dan komunitas yang menghidupkan ruang. 

Kreativitas, dengan demikian, bukan sesuatu yang hanya terjadi di atas panggung. Ia hidup di sekeliling kita. Dalam musik yang kita dengarkan, pakaian yang kita kenakan, kendaraan yang kita modifikasi, gambar yang kita lihat, video yang kita bagikan, makanan yang kita nikmati, bahkan dalam cara kita membangun pertemanan dan komunitas. 

Karena itu, JSS Vol. 04 dikembangkan sebagai Creative Lifestyle Showcase. Bukan untuk membuat kreativitas tampak lebih mewah dari kehidupan sehari-hari, melainkan sebaliknya, untuk menunjukkan bahwa kreativitas sesungguhnya telah menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. 

Ruang Hidup Manusia 

Pembicaraan tentang ekonomi kreatif hari ini bukan lagi sekadar pembicaraan tentang potensi. Pada 2024, ekonomi kreatif Indonesia berkontribusi sekitar Rp1.611,2 triliun terhadap PDB, atau sekitar 7,28 persen PDB nasional. 

Setahun kemudian, pada 2025, sektor ini telah menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja. Angka-angka itu besar. Tetapi di balik angka tersebut ada manusia. Ada musisi yang mencari panggung. 

Ada desainer yang mencari klien. Ada pekerja kreatif yang membangun portofolio. Ada anak muda yang sedang mencari jalan hidupnya. Ada komunitas yang bertahan dengan swadaya. Ada pelaku UMKM yang berharap satu produk berikutnya menemukan pembeli. 

Maka ekonomi kreatif, khususnya di Jembrana, tidak semestinya hanya dibaca sebagai statistik pertumbuhan. Ia juga harus dibaca sebagai ruang hidup manusia. Ketika pada 2026 pemerintah melalui Rindekraf 2026–2045 memperluas cakupan ekonomi kreatif dari 17 menjadi 21 subsektor dengan tambahan Teknologi Baru, Konten Digital, Sulih Suara, dan Modifikasi Otomotif, sesungguhnya yang sedang diakui adalah kenyataan bahwa cara manusia mencipta terus berubah. 

Batas antara seni, teknologi, gaya hidup, dan ekonomi semakin cair. Apa yang dahulu dianggap hobi, hari ini dapat menjadi profesi. Apa yang dahulu hanya dilakukan di garasi, hari ini dapat menjadi industri. 

Apa yang dahulu dibuat untuk diri sendiri, hari ini dapat menemukan pasar. Pengembangan ekonomi kreatif, karena itu, tidak cukup hanya dengan pelatihan. Pengetahuan tanpa kesempatan untuk mempraktekkannya akan berhenti sebagai pengetahuan. 

Seorang musisi membutuhkan panggung. Seorang aktor membutuhkan penonton. Seorang seniman membutuhkan ruang. Seorang kreator digital membutuhkan publik. Sebuah komunitas membutuhkan tempat untuk bertemu. 

Pelaku seni menampilkan proses melukis secara langsung dalam rangkaian Jembrana Sound Session Vol. 04. (Sumber: Dok. Disparbud Jembrana)

JSS mencoba membangun siklus sederhana: berlatih, tampil, bertemu, berkolaborasi, membangun jejaring, lalu tumbuh. JSS menjadi semacam ruang sebelum panggung besar. Tempat seseorang boleh mencoba, boleh belum sempurna, boleh belajar dari kesalahan.

Sebab tidak semua orang lahir sebagai bintang. Banyak orang menjadi besar karena suatu hari, di suatu tempat, ada seseorang yang memberinya kesempatan untuk mencoba. 

Tujuh Keping dalam Satu Malam

Kepingan musik menjadi energi utama melalui Jun Bintang. Radio Tegangan Tinggi (RTT) membawa warna komunitas yang mengingatkan bahwa musik tidak hanya hidup dari suara, tetapi juga dari orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya. 

DJ Erick Foe membawa wajah musik yang lebih modern, ketika teknologi, musik dan gaya hidup bertemu dalam satu pengalaman. Dari generasi muda, Teater Tanpa Nama SMAN 2 Negara dan Teater Solagracia SMAN 1 Negara hadir sebagai dua keping penting. 

Mereka menunjukkan bahwa ruang kreatif tidak harus menunggu seseorang menjadi dewasa untuk mulai berkarya. Sementara Deleo menghadirkan warna lain dalam kepingan musik JSS. Di luar panggung, Sunaren dan Saylust menghadirkan Live Mural & Art Painting

Ada sesuatu yang menarik dari seni yang dikerjakan di depan mata. Publik tidak hanya melihat hasil. Publik melihat bagaimana sebuah gagasan lahir, ragu, bergerak, berubah, lalu perlahan menemukan bentuknya. 

Mungkin di situlah kita perlu kembali mengingat bahwa kreativitas tidak selalu tentang kesempurnaan. Sering kali ia justru tentang keberanian untuk memulai. Di sisi lain, kendaraan-kendaraan dari Sahabat Hardtop Jembrana, Iron Man Gowes Jembrana, Himpunan Motor Tua Bali Chapter Negara, Ruji Karat Jembrana, dan komunitas lainnya hadir sebagai bagian dari mozaik. 

Kendaraan mungkin bermula sebagai alat untuk berpindah. Namun ketika seseorang memilih bentuk, warna, detail, performa dan karakter, kendaraan berubah menjadi sesuatu yang lebih personal. Ia menjadi medium ekspresi. Ada gagasan, desain, keterampilan, selera, dan identitas.

Karena itu, kehadiran otomotif di JSS bukan sekadar dekorasi. Terlebih, setelah modifikasi otomotif ditetapkan sebagai salah satu subsektor baru ekonomi kreatif Indonesia. Apa yang terlihat seperti kegemaran seseorang pada sebuah kendaraan dapat menjadi pintu menuju desain, jasa, industri, komunitas, bahkan penghidupan. Sebuah garasi, pada titik tertentu, dapat menjadi studio. 

Di sinilah JSS ingin memperlihatkan sesuatu yang lebih besar, bahwa satu acara tidak pernah hanya menghasilkan satu pertunjukan. Satu konser membutuhkan desain komunikasi visual.  Pertunjukan membutuhkan dokumentasi. Dokumentasi membutuhkan fotografi dan videografi. Acara membutuhkan konten digital. Talent membutuhkan fesyen. Publik membutuhkan kuliner. Komunitas membutuhkan ruang. 

Dengan kata lain, satu panggung dapat menghidupkan banyak subsektor ekonomi kreatif sekaligus. JSS tidak sedang mencoba menjelaskan 21 subsektor ekonomi kreatif kepada publik. JSS justru ingin memperlihatkan bahwa sebagian dari subsektor itu sudah hidup di sekitar kita. Mungkin selama ini kita hanya belum melihatnya sebagai satu kesatuan.

Dari Satu Panggung ke Sebuah Kota 

JSS Vol. 04 merupakan bagian dari rangkaian Semarak Jembrana 2026, dalam rangka Perayaan HUT Kota Negara ke-131 Tahun. Rangkaian tersebut bergerak di berbagai ruang. Di Gedung Kesenian Dr. Ir. Soekarno, karya-karya kontemporer mendapatkan tempat untuk dipentaskan. 

Di Panggung Terbuka Jagatnatha, tradisi menemukan ruang untuk terus diwariskan melalui Gong Kebyar, Baleganjur, dan berbagai kesenian tradisional. Di Parkir Timur Pemkab Jembrana, kreativitas bertemu dengan pasar melalui pameran ekonomi kreatif, UMKM, kuliner, kriya, fesyen dan produk kreatif lainnya. 

Lalu pada 23 Agustus, keberagaman itu bergerak melalui parade budaya, dari Tugu Jam/Puri Agung Negara menuju Patung Adipura. Ruang-ruang itu berbeda. Tetapi semuanya sedang berbicara tentang hal yang sama, bagaimana sebuah kota memberi tempat bagi manusia untuk mencipta. Tema besar rangkaian perayaan, “Taman Sari Bhinneka Tunggal Ika”, menemukan percakapannya dengan Mosaic of Creativity

Taman sari adalah ruang yang indah karena beragam. Mozaik juga demikian. Tidak ada keharusan agar semua bunga memiliki warna yang sama. Tidak ada keharusan agar semua keping memiliki bentuk yang serupa. 

Begitu pula Jembrana. Ada tradisi dan kontemporer. Ada musik dan teater. Ada seni rupa dan otomotif. Ada generasi muda dan pengalaman. Ada karya yang lahir dari panggung, sekolah, komunitas, garasi, maupun ruang digital. 

Perbedaan, ketika dipertemukan dalam ruang yang sehat, justru dapat menjadi energi untuk tumbuh bersama. Pada akhirnya, tidak ada ekosistem kreatif tanpa publik. Masyarakat bukan hanya penonton yang datang ketika pertunjukan dimulai dan pulang ketika lampu dimatikan. 

Publik adalah bagian dari ekosistem itu sendiri. Ketika seseorang membeli karya, ia membantu seorang kreator bertahan. Ketika seseorang membagikan karya, ia memperluas jangkauannya. 

Ketika seseorang datang menonton, ia memberikan alasan bagi seorang seniman untuk kembali naik panggung. Ketika seseorang memberi tepuk tangan, mungkin ia hanya menghabiskan beberapa detik. 

Tetapi bagi orang yang berdiri di atas panggung, tepuk tangan itu dapat menjadi energi untuk berbulan-bulan ke depan. Karena itu, apresiasi bukan sesuatu yang kecil. Dalam ekonomi kreatif, perhatian adalah bagian dari nilai. 

Jembrana Sound Session Vol. 04 pada akhirnya tidak sedang mencari jawaban tentang siapa yang paling kreatif. Sebab kreativitas bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling terang. Ia lebih menyerupai cahaya yang berpindah dari satu orang ke orang lain. Begitulah sebuah ekosistem tumbuh. Perlahan, tidak selalu terlihat, tidak selalu masuk berita, tetapi nyata. 

Maka barangkali ukuran keberhasilan sebuah panggung bukan hanya seberapa riuh tepuk tangan ketika pertunjukan berakhir, melainkan apa yang masih tumbuh setelah lampu panggung dipadamkan. 

Apakah ada seorang anak muda yang pulang dengan keberanian baru? Apakah ada dua komunitas yang malam itu bertukar kontak dan kelak berkolaborasi? Apakah ada seorang seniman yang menemukan penontonnya? Apakah ada sebuah karya yang untuk pertama kalinya dilihat orang? Apakah ada seseorang yang akhirnya percaya bahwa apa yang selama ini ia anggap sekadar kegemaran ternyata dapat menjadi jalan hidup? 

Jika jawabannya iya, maka sebuah panggung telah melakukan lebih dari sekadar menghibur. Ia telah memberi ruang. Dan dari ruang itulah, sering kali, sesuatu yang lebih besar bermula.  Jembrana Sound Session Vol. 04 adalah tentang kepingan-kepingan yang memilih untuk tidak berjalan sendiri. Tentang musik, seni, komunitas, teknologi, gaya hidup, karya dan manusia yang menemukan perjumpaannya. 

Tentang sebuah kota yang tidak hanya ingin menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi tempat gagasan dilahirkan. Sebab pada akhirnya, sebuah kota tidak dibangun hanya oleh beton dan jalan. 

Ia dibangun oleh imajinasi orang-orang yang tinggal di dalamnya. Dan selama masih ada ruang untuk bermimpi, ruang untuk mencoba, ruang untuk gagal, ruang untuk berkarya, dan ruang untuk bertemu, selama itu pula kreativitas akan menemukan jalannya untuk tumbuh. 

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Anindhita-Maulizeira

Sumber : Kompas TV

Tag
  • Advertorial
  • Jembrana Sound Session
  • Mosaic of Creativity
  • Ekonomi Kreatif
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kenapa Songket Begitu Istimewa? Wastra Nusantara Ini Punya Makna di Balik Setiap Motifnya
• 20 menit lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Turun Langsung Tangani Karhutla, Kerahkan Petinggi TNI-Polri ke Empat Provinsi
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pengacara Febrie Sebut Keterangan Ahli Memperkuat Argumen soal Penetapan Tersangka
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Appi: TPA Harus Berubah dari Beban Menjadi Nilai Ekonomi, Sampah Organik hingga Peternakan Dikembangkan
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Selamat Berbahagia! 5 Zodiak Paling Hoki 23 Agustus 2026: Ada yang Dapat Rezeki Tak Terduga
• 13 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.