Prabowo Subianto memperoleh elektabilitas tertinggi dalam pengukuran pilihan presiden secara terbuka berdasarkan survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI). Prabowo juga unggul dalam sejumlah simulasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Sementara Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dalam pengukuran pilihan calon wakil presiden (cawapres) secara terbuka.
Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno menjelaskan, dalam pengukuran elektabilitas presiden secara terbuka, responden diminta menyebutkan secara spontan nama tokoh yang akan mereka pilih jika Pilpres digelar saat ini.
“Responden itu diminta untuk menjawab secara spontan. Pertama Pak Prabowo Subianto. Jadi elektabilitas presiden terbuka itu Prabowo Subianto 31,6 persen. Disusul Dedi Mulyadi 11,4 persen. Disusul Anies Baswedan 10,1 persen,” kata Adi saat memaparkan hasil survei PPI secara daring, Minggu (18/10).
Setelah ketiga tokoh tersebut, Gibran Rakabuming Raka memperoleh 6,9%, sedangkan Ganjar Pranowo meraih 4,4%. Sebanyak 25,5% responden menyatakan tidak tahu.
PPI kemudian menguji elektabilitas calon presiden (capres) melalui simulasi dengan sejumlah nama kandidat.
Dalam simulasi yang melibatkan 17 nama, Prabowo memperoleh dukungan 34%. Anies berada di posisi kedua dengan 19,4%, disusul Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebesar 11,1% dan Gibran dengan 10,9%. Sebanyak 11,3% responden belum menentukan pilihan.
Adi menjelaskan, simulasi tersebut mencakup nama-nama ketua umum partai politik di parlemen serta tokoh yang berpotensi diusung partai nonparlemen atau partai baru pada Pilpres 2029.
“Jadi kita coba uji terkait dengan 17 nama ketum partai politik atau tokoh yang sangat mungkin akan diusung oleh partai-partai non parlemen atau sangat mungkin akan diusung oleh partai politik yang baru berdiri dan sangat mungkin akan menjadi peserta pemilu,” jelas Adi.
“Kemudian Gibran Rakabuming Raka. Kenapa kita mencantumkan Gibran Rakabuming Raka di sini, tentu kita mengasumsikan bahwa Gibran itu di 2029 nanti akan diusung oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai politik yang sekalinya pun tidak lolos ke parlemen,” sambungnya.
Berikut hasil simulasi elektabilitas capres dengan 17 nama kandidat berdasarkan survei PPI:
Prabowo Subianto: 34%
Anies Baswedan: 19,4%
AHY: 11,1%
Gibran Rakabuming Raka: 10,9%
Muhaimin Iskandar: 3%
Yusril Ihza Mahendra: 1,7%
Pramono Anung: 1,6%
Puan Maharani: 1,4%
Kaesang Pangarep: 1,3%
Surya Paloh: 1,1%
Zulkifli Hasan: 0,8%
Bahlil Lahadalia: 0,6%
Muhammad Mardiono: 0,5%
Said Iqbal: 0,4%
Al Muzzamil Yusuf: 0,4%
Anis Matta: 0,3%
Angela Tanoesoedibjo: 0,2%
PPI juga melakukan simulasi dengan lima nama yang dinilai mewakili sejumlah poros kekuatan politik nasional, yakni Prabowo, Anies, AHY, Gibran, dan Pramono Anung.
Dalam simulasi tersebut, Prabowo memperoleh 40,5%, diikuti Anies dengan 17,7%, AHY 14%, Gibran 12,2%, dan Pramono 3,9%. Sebanyak 11,7% responden belum menentukan pilihan.
Sementara itu, dalam simulasi tiga nama, Prabowo memperoleh dukungan 41,5%. Anies berada di posisi kedua dengan 21,8%, sedangkan Pramono meraih 6,7%. Sebanyak 30,1% responden belum menentukan pilihan.
Dedi Mulyadi Teratas dalam Bursa CawapresDalam pengukuran pilihan calon wakil presiden secara terbuka, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan tertinggi sebesar 21%. Gibran Rakabuming Raka berada di posisi kedua dengan 14,2%.
Selanjutnya, AHY memperoleh 7,1%, Anies Baswedan 7%, dan Purbaya Yudhi Sadewa 4,8%.
Meski menempati posisi kedua dalam pengukuran elektabilitas presiden secara terbuka dengan 11,4%, Dedi Mulyadi tidak masuk dalam simulasi capres yang melibatkan 17, lima, dan tiga nama.
Adi menjelaskan, PPI menghindari simulasi yang mempertemukan Prabowo dan Dedi karena keduanya masih menjadi bagian dari Partai Gerindra.
"Makanya saya agak sedikit menghindari untuk meng-head to head-kan Pak Prabowo Subianto dengan Pak KDM dengan simulasi misalnya sejumlah nama. Karena per hari ini kita anggap itu Pak KDM masih menjadi bagian dari Partai Gerindra."
"Tidak mungkin misalnya di internal Gerindra itu saya memasukkan atau kita memasukkan dua nama yang kebetulan sesama Partai Gerindra. Bagi kita itu dianggap mengadu domba jadinya. Itu meng-head to head-kan sesama kader untuk disimulasikan dalam sebuah survei,” lanjutnya.
Metode SurveiSurvei nasional PPI melibatkan 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka pada 26 September hingga 6 Oktober 2026.
Survei menggunakan metode multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error sebesar 2,83%.





