Kompleksitas tantangan bangsa saat ini harus mulai dikurangi melalui penyelesaian berbagai persoalan secara bertahap agar tidak menjadi beban generasi penerus. Sebab, tantangan mereka ke depan dipastikan semakin berat seiring perkembangan revolusi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Persoalan yang dihadapi Indonesia sebenarnya sudah menjadi perhatian bersama. Mulai dari ketidakpastian geopolitik, keamanan, penegakan hukum, tekanan ekonomi global, hingga kemiskinan dan pengangguran. Berbagai persoalan tersebut saling berkaitan dan membutuhkan penanganan yang serius, terarah, serta berkelanjutan.
Di sektor ketenagakerjaan, misalnya, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 63.789 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang Januari hingga September 2026 berdasarkan laporan melalui sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 menunjukkan jumlah pengangguran mencapai 7,22 juta orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen.
Tekanan juga terlihat pada kondisi fiskal dan nilai tukar. Hingga September 2026, defisit APBN mencapai Rp319 triliun atau 1,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada pekan kedua Oktober 2026, rupiah bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Pelemahan rupiah di tengah kenaikan harga energi semakin menekan biaya produksi dan aktivitas dunia usaha.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia harus mampu menjaga kepercayaan investor. Dengan jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar. Namun, potensi itu masih dibayangi inefisiensi birokrasi, praktik koruptif, dan persoalan transparansi yang menghambat iklim investasi.
Kondisi pasar modal menjadi contoh nyata. Kekhawatiran terhadap evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah memicu sentimen negatif di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG mengalami koreksi hingga berada di bawah level psikologis 6.000 pada pekan kedua Oktober 2026, sementara dana asing yang keluar atau net sell mencapai Rp84,99 triliun hingga 9 Oktober 2026.
(isa/isa)





