Permasalahan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan menjadi salah satu tragedi yang terjadi di Indonesia di tahun ini. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sejak awal Juli lalu hingga kini masih terjadi. Penanganan peristiwa yang kerap terjadi pada musim kemarau itu terasa sangat lambat.
Sebaran wilayah yang terdampak kebakaran di saat kemarau kian meluas. Bahkan, negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura pun menjadi wilayah yang turut menjadi korban lambatnya penanganan. Sejak awal peristiwa ini muncul, upaya pemadaman belum membuahkan hasil yang optimal.
Meluasnya dampak sebaran asap kebakaran tersebut pada akhirnya diduga mengarah ke Pulau Jawa. Berdasarkan pengamatan melalui satelit Himawari pada Jumat (16/10/2026), Pemprov Jakarta menyatakan asap karhutla terdeteksi di Jakarta.
Asap ini terbawa oleh arah angin yang saat ini menuju ke Selatan dari wilayah Kalimantan. Pemprov Jakarta mengimbau masyarakat menerapkan langkah proteksi mandiri serta mengutamakan perlindungan ekstra bagi kelompok rentan polusi udara.
Pada minggu pagi kualitas udara di beberapa kawasan di Jakarta terdeteksi berada di kategori tidak sehat. Kategori itu berdasarkan data stasiun pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup pada Minggu (18/10/2026) pukul 09.32 WIB.
Berdasarkan pengukuran tersebut, terdapat empat wilayah di Jakarta yang menunjukkan kualitas udara tidak sehat. Keempat wilayah itu adalah Bundaran HI dan Menteng, Jakarta Pusat, dengan ISPU mencapai 120; Lubang Buaya dan Cipayung, Jakarta Timur (114); wilayah Kebon Jeruk, Jakarta Barat (111); serta wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara (110).
Nilai ISPU ini ditentukan berdasarkan konsentrasi polutan yang terdeteksi di suatu wilayah, termasuk partikel debu dalam ukuran dan jumlah tertentu. Dikutip dari laman ppmu.kemenlh.go.id, penghitungan ISPU dilakukan pada tujuh parameter, yakni PM 10, PM 2,5, NO₂, SO₂, CO, O₃, dan HC.
Kualitas udara di suatu kawasan kemudian dimasukkan ke dalam kategori berdasarkan hasil pengukuran tujuh parameter tersebut. Kualitas udara dinyatakan tidak sehat jika nilai ISPU melebihi 100.
Dalam pandangan mata pada Minggu (18/10/2026) kondisi udara yang tidak sehat itu terlihat secara kasat mata. Pemandangan gedung perkantoran di Sudirman dan Thamrin terlihat diselimuti kabut asap tipis. Begitu juga dengan gedung-gedung bertingkat di beberapa wilayah Jakarta yang terlihat samar.
Padahal, biasanya, saat hari libur pemandangan Jakarta tampak lebih jelas. Itu terjadi karena saat hari libur penggunaan kendaraan bermotor jauh berkurang jika dibandingkan hari kerja.
Kebakaran hutan dan lahan yang banyak terjadi di Kalimantan dan Sumatera membawa dampak ekologi yang luas. Penanganan yang terasa lambat menambah catatan kegagalan kesiapsiagaan terhadap permasalahan lingkungan dan bencana.
Beberapa upaya para sukarelawan yang terjun ke lapangan tidak mendapatkan dukungan yang matang sejak awal. Bahkan, sejumlah sukarelawan menjadi korban tewas dalam peristiwa kebakaran hutan dan lahan ini.
Peristiwa kebakaran hutan dan lahan di Sumatera, Kalimantan, dan pulau lain sebenarnya sudah sering terjadi saat musim kemarau. Peristiwa-peristiwa itu seakan tidak pernah menjadi pembelajaran berarti. Akhirnya, lagi-lagi rakyat, petugas lapangan, dan lingkunganlah yang menjadi korban.
Semoga penyebab peristiwa kebakaran hutan dan lahan ini tak kian samar seperti halnya pemandangan gedung-gedung di Jakarta yang hanya menyisakan siluet tipisnya.





