Presiden AS Donald Trump menangguhkan sanksi dan tarif terhadap Rusia yang berpotensi mendorong peningkatan ekspor bahan bakar dari negara itu.
IDXChannel - Harga minyak mentah melemah pada perdagangan awal sesi Asia, Senin (19/10/2026) pagi, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menangguhkan sanksi dan tarif terhadap Rusia yang berpotensi mendorong peningkatan ekspor bahan bakar dari negara tersebut.
Minyak mentah Brent turun 0,96 persen menjadi USD108,80 per barel pada pukul 05.14 WIB. Pada perdagangan Jumat (16/10), Brent ditutup di level tertinggi sejak 19 Mei.
Namun, tekanan tersebut dinilai belum mengubah prospek harga minyak dalam jangka pendek.
Analis FX Empire Vladimir Zernov menilai harga minyak masih berpeluang menguat seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik antara AS dan Iran.
Menurut Zernov, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sebelumnya menguat karena pelaku pasar memperkirakan AS dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Trump sebelumnya menyatakan AS dapat menggunakan bom konvensional berdaya ledak terbesar, tetapi tidak akan menggunakan senjata nuklir.
Trump juga mengatakan perang dengan Iran dapat segera berakhir.
Di sisi lain, Iran menyatakan telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan serangan.
Ketegangan juga meningkat di Selat Hormuz, sementara kedua pihak masih belum menunjukkan kesiapan untuk memberikan konsesi terkait program nuklir Iran maupun tekanan ekonomi yang diberlakukan AS.
Zernov menilai risiko utama bagi pasar minyak berasal dari potensi serangan Iran terhadap fasilitas minyak di kawasan tersebut apabila operasi militer AS kembali dilanjutkan.
"Jika AS melanjutkan operasi militer, Iran dapat menyerang fasilitas minyak di kawasan, yang menjadi ancaman utama bagi pasar minyak," kata Zernov.
Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan eskalasi sebelum pemilihan paruh waktu AS. Meskipun Trump sebelumnya mengatakan tidak akan menyerang Iran menjelang pemilu, Zernov menilai pelaku pasar tetap bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer baru.
Dari sisi teknikal, Zernov melihat WTI tengah menguji area resistance USD100,50-USD101 per barel. Jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, WTI berpeluang bergerak menuju resistance berikutnya di USD106-USD106,50 per barel.
Sementara itu, Brent juga menunjukkan momentum penguatan yang cukup kuat. Brent tengah menguji resistance USD109-USD109,50 per barel.
Jika mampu menembus USD109,50, harga minyak acuan global tersebut berpotensi melanjutkan kenaikan menuju USD114,50-USD115 per barel. (Aldo Fernando)





