Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Berlaku

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih bergejolak dalam beberapa hari terakhir. Gunung api itu berulang kali mengalami erupsi dan aktivitasnya masih berlanjut hingga Senin (19/10/2026).

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung pada Senin pagi. Hingga pukul 09.44 WIB, Gunung Anak Krakatau sudah tiga kali mengalami erupsi. Kendati demikian, kolom abu tidak teramati karena kondisi gunung tertutup kabut.

Merujuk data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pertama pada Senin pukul 09.31 WIB dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi 51 detik.

Selanjutnya, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pukul 09.33 WIB dengan amplitudo maksimum 53 milimeter dan durasi 4 menit. Adapun erupsi ketiga terjadi pukul 09.40 WIB dengan amplitudo maksimum 55 milimeter dan durasi 6 menit 32 detik.

Menurut Suwarno, status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. ”Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 5 kilometer dari pusat erupsi Anak Krakatau,” kata Suwarno saat dikonfirmasi, Senin pagi.

Selain itu, masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau serta pengunjung dan wisatawan tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan dalam radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.

Baca JugaMungkinkah Anak Krakatau Meletus Sedahsyat Krakatau 1883?

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta potensi erupsi sekunder akibat kontak material panas dengan air laut maupun air hujan dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi Anak Krakatau.

Sepanjang Minggu (18/10/2026), Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi sebanyak tujuh kali dengan kolom abu setinggi 100-500 meter di atas puncak. Gunung api setinggi 157 meter dari permukaan laut itu juga tercatat mengalami berbagai aktivitas kegempaan, antara lain gempa hibrida, low frequency, vulkanik dangkal, dan vulkanik dalam.

Sejak awal Oktober

Berdasarkan evaluasi aktivitas Gunung Anak Krakatau selama periode 21 September-9 Oktober 2026 yang dikeluarkan Badan Geologi, peningkatan aktivitas dalam skala rendah mulai terlihat sejak awal Oktober 2026. Hal itu ditandai dengan terjadinya 14 kali erupsi pada 6-9 Oktober 2026.

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau kemudian dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga, terhitung mulai 9 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB.

Kendati demikian, Badan Geologi menyebut kegempaan vulkanik Anak Krakatau yang berasosiasi dengan aktivitas magmatik dangkal, seperti gempa embusan, low frequency, gempa hibrida atau fase banyak, dan tremor, belum menunjukkan peningkatan signifikan selama periode tersebut.

Begitu pula dengan gempa yang berasosiasi dengan aktivitas magmatik lebih dalam, seperti gempa vulkanik dangkal dan vulkanik dalam. Frekuensinya rata-rata masih di bawah lima kali per hari.

Kondisi serupa juga terlihat pada grafik real-time seismic amplitude measurement (RSAM) dan tiltmeter yang belum menunjukkan peningkatan signifikan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Lampung Aswarodi mengatakan, berdasarkan pemantauan citra satelit melalui Terminal BMKG Lampung, belum terpantau dampak langsung abu vulkanik terhadap wilayah Lampung.

Meski demikian, masyarakat tetap diimbau waspada dan mengikuti perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Sehubungan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih fluktuatif, masyarakat diminta mematuhi rekomendasi jarak aman dari Badan Geologi. Masyarakat, khususnya yang berada di kawasan pesisir Rajabasa dan Pulau Sebesi yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau, juga diimbau menggunakan masker untuk mengurangi paparan abu vulkanik apabila terjadi hujan abu.

”BPBD Lampung mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi atau hoaks. Informasi resmi mengenai aktivitas vulkanik Anak Krakatau agar merujuk pada PVMBG dan pembaruan informasi dari Pusdalops BPBD Lampung. Masyarakat diharapkan tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti arahan dari instansi berwenang,” katanya.

Baca JugaAnak Krakatau Kembali Siaga Setelah 14 Erupsi, Warga Diminta Jaga Jarak

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MSCI dan Ketidakrasionalan Status Standalone Market bagi Bursa Saham RI
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Mainan Squishy Dumpling Ditarik di 3 Negara karena Membahayakan Anak
• 10 menit lalukumparan.com
thumb
Presiden Mesir Siap Ambil Langkah Pertahanan untuk Lindungi Arab Saudi dari Ancaman Serangan Houthi
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Kasus Fufufafa Bisa Dibuka Lagi untuk Tambah Serangan Ijazah Wapres Gibran
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kerusuhan Meluas di Prancis, WNI Diimbau Jauhi Lokasi Demonstrasi
• 11 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.