jpnn.com, ACEH - Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Nagan Raya Muhammad Saleh mengatakan percepatan pekerjaan struktur bawah jembatan yang rusak akibat bencana hidrometeorologi di Aceh pada November 2025, menjadi prioritas.
Tahap ini meliputi pembongkaran beton, penggalian, dan pemasangan cincin sumuran sebagai bagian dari fondasi jembatan.
BACA JUGA: BSI International Expo 2026: Hadirkan 426 Tenant, Saatnya Brand Lokal Mendunia
“Mengingat waktunya sudah mendekati Desember dan juga memasuki musim hujan, kami minta pekerjaan bangunan bawah, khususnya abutment, bisa dipercepat,” kata Saleh saat meninjau pembangunan Jembatan Gunong Cut II.
Setelah pemasangan cincin sumuran selesai, pekerjaan akan berlanjut pada pembangunan abutment atau pangkal jembatan di sisi kiri dan kanan.
BACA JUGA: Keseruan Alfamart Run 2026 Masih Berlanjut Lewat Unboxing Challenge Goodie Bag 50 Kg
Tahap berikutnya adalah pembangunan struktur atas, termasuk lantai dan gelagar.
Untuk mengejar target, Saleh akan mendorong pekerja dan konsultan mempercepat pengerjaan. Jika diperlukan, pekerjaan dapat dilakukan pada siang dan malam hari.
BACA JUGA: Banjir Rendam 18 Desa pada 9 Kecamatan di Aceh Tamiang
Menurut Saleh, pekerjaan struktur atas relatif lebih memungkinkan untuk dilanjutkan ketika hujan turun. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memasang tenda agar pekerjaan tetap berjalan.
“Kalau ini tidak terlalu tergantung lagi dengan curah hujan. Pekerjaan bisa tetap dilakukan dalam kondisi hujan dengan memasang tenda,” katanya.
Pembangunan kedua jembatan dimulai pada 24 September 2026, dengan masa kontrak hingga 31 Desember 2026.
Meski demikian, penyedia pekerjaan memperkirakan keduanya dapat difungsikan lebih awal, yakni pada akhir November.
“Berdasarkan kontrak, pekerjaan ini selesai pada 31 Desember. Namun, diprediksikan oleh penyedia pekerjaan bisa lebih cepat. Insyaallah, akhir November sudah bisa difungsikan,” ucap Saleh.
Jembatan Gunong Cut dibangun dengan anggaran sekitar Rp570 juta yang bersumber dari Dana Bagi Hasil (DBH) melalui tambahan Transfer ke Daerah (TKD).
Jembatan ini dirancang memiliki lebar 6 meter dan panjang 7 meter.
Sementara itu, Jembatan Gunong Cut II menggunakan anggaran Rp520 juta dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA), dengan ukuran 6 x 6 meter. Setelah selesai, masing-masing jembatan ditargetkan mampu menampung beban hingga 12 ton.
Kedua jembatan tersebut menjadi bagian dari upaya memulihkan konektivitas antara Desa Gunong Cut dan Desa Suka Raja setelah bencana merusak infrastruktur penghubung.(chi/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yessy Artada




