CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Di balik dinding bata berwarna krem kehijauan di Jalan Lanto Dg. Pasewang No. 34, Maccini, Makassar, tersimpan kisah yang jarang diketahui banyak orang. Tempat itu kini dikenal sebagai Rumah Sakit Dadi. Seabad lalu, kawasan ini hanyalah kampung tempat orang memerah susu.
Mengutip laman resmi RSKD Dadi Pemprov Sulsel, sebelum berdiri megah sebagai cagar budaya, lahan seluas 53.295 meter persegi itu dikenal sebagai kawasan pemerahan susu. Pada 1920, Pemerintah Hindia Belanda mengubahnya menjadi rumah perawatan khusus bagi penderita gangguan jiwa. Dari Kampung Dadi inilah nama rumah sakit itu lahir.
Bangunan itu mulanya disebut Verpleegtehuis voor Krankzinnigen, atau rumah perawatan untuk orang dengan gangguan jiwa. Skalanya jauh dari bayangan rumah sakit modern. Kapasitasnya hanya 50 tempat tidur.
Pengelolaannya pun sederhana. Seorang suster berkebangsaan Belanda memimpin layanan, dibantu beberapa opas yang telah dilatih khusus. Dokter Belanda hanya datang seminggu sekali untuk melakukan supervisi. Dalam catatan Simcabud Makassar, bangunan ini juga tercatat dengan nama Krankzinning Gestricht.
Titik balik terjadi pada 1930. Serangkaian laporan resmi mengungkap buruknya kondisi pasien di rumah perawatan tersebut. Tekanan itu mendorong pemerintah kolonial meningkatkan statusnya menjadi Doorgangs Huiz atau Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Makassar.
Menurut data Simcabud, status rumah sakit jiwa tersebut mulai berjalan pada 1933. Sejak itu, fasilitas ini menjadi rujukan dan pusat penampungan pasien gangguan jiwa dari seluruh wilayah Indonesia Timur. Dari rumah perawatan kecil, ia menjelma menjadi tumpuan layanan kesehatan jiwa di kawasan timur nusantara.
Peran bangunan ini tidak berhenti di situ. Pada 1948, Rumah Sakit Dadi menjadi rumah sakit umum pertama di Makassar. Jejak sejarahnya melintasi tiga fase: penampungan, rumah sakit jiwa, hingga layanan kesehatan umum bagi masyarakat.
Secara fisik, bangunan berbahan utama batu bata itu masih terawat. Warna krem kehijauan yang khas menjadi ciri visualnya. Bangunan utama kini berfungsi sebagai kantor. Adapun layanan perawatan tersebar di tiga unit: bangsal Nyiur, bangsal Kenanga dan Kenari, serta bangsal satu.
Rumah Sakit Dadi tidak sekadar bangunan tua. Ia merekam bagaimana layanan kesehatan di Makassar tumbuh, dari kritik atas buruknya kondisi pasien pada 1930 hingga menjadi layanan umum yang masih beroperasi sampai kini. Merawatnya berarti menjaga ingatan kota tentang bagaimana pelayanan kesehatan dibangun.




