Semarak Peringatan Bulan Bahasa FSIKP UMI 2026, Menjaga Esensi Bahasa dan Budaya di Era Digital

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pengabdian/Pengajaran (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar Peringatan Bulan Bahasa 2026 yang dipusatkan di Auditorium Teleconference Lantai 5 Fakultas Kedokteran UMI, Senin, 19 Oktober 2026.

Mengusung tema “Menggali Esensi Bahasa, Sastra, dan Budaya di Tengah Arus Percepatan Digital dan Krisis Refleksi”, kegiatan ini diisi dengan beragam agenda akademik, perlombaan, hingga penandatanganan kerja sama strategis.

Ketua Panitia Peringatan Bulan Bahasa FSIKP UMI, Dr. Kasma F. Amin, S.S., M.Pd., menyampaikan bahwa rangkaian peringatan ini menjadi wadah krusial untuk memperluas perspektif kebinekaan.

“Seminar ini menjadi ruang pertemuan bagi pemerintah, akademisi, dan berbagai kalangan lintas budaya untuk memperluas perspektif tentang kebinekaan serta tantangan masyarakat di tengah berbagai perubahan zaman,” ujarnya.

Dalam momentum tersebut, turut dilaksanakan penandatanganan nota kerja sama antara FSIKP UMI dan Gerakan Menulis Buku Indonesia (GMBB) untuk penyelenggaraan kegiatan bahasa Indonesia bagi jenjang SMA di Kota Makassar.

Dr. Kasma berharap kolaborasi tersebut tidak sebatas seremoni semata, melainkan berlanjut melalui program pendampingan nyata yang memberi manfaat bagi mahasiswa, pelajar, guru, dan masyarakat luas.

“Seluruh rangkaian kegiatan ini bertujuan menjadikan bahasa dan budaya sebagai kekuatan untuk membangun manusia yang berpengetahuan, berbudaya, kreatif, dan terbuka terhadap dunia. Kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini,” tambahnya.

Dekan FSIKP UMI, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., menjelaskan terdapat enam rangkaian kegiatan utama yang digelar sepanjang peringatan Bulan Bahasa ini. Agenda tersebut kata dia, meliputi seminar nasional, seminar fakultas dengan menghadirkan budayawan dan sastrawan kampus.

“Kita juga ada pelatihan bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia beserta para kepala sekolah dan guru SMA, hingga beragam perlombaan,” ucapnya.

Uniknya, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa internasional peserta program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang dikawal langsung oleh Kantor Urusan Internasional (KUI) UMI.

“Anak-anak kita dari mahasiswa internasional akan tampil dalam lomba baca puisi, lomba menyanyi, hingga peragaan pakaian adat. Mereka juga akan berinteraksi di luar untuk mengenalkan proses pembuatan produk budaya menggunakan bahasa Indonesia. Apresiasi yang luar biasa untuk partisipasi seluruh pihak,” jelas Dr. Nurjannah.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Toha Machsum, M.Ag., menekankan pentingnya penguatan bahasa Indonesia yang kini makin dikenal luas di dunia internasional. Ia mencatat bahwa saat ini sudah ada 54 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia.

“Bahasa Indonesia dan budaya kita yang semakin dikenal di tingkat internasional terbukti membawa dampak positif, termasuk pada sektor ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana yang terjadi di daerah tujuan wisata seperti Bali,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi sosialisasi serta kegiatan kebahasaan di lingkungan UMI dan mengingatkan agenda penting Kongres Bahasa Daerah yang diselenggarakan pada 19 Oktober ini sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa.

Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., mengingatkan seluruh civitas akademika akan tantangan berinteraksi di tengah derasnya arus informasi dan teknologi digital.

“Kita hidup dalam zaman yang bergerak sangat cepat. Informasi datang tiap detik dan teknologi memudahkan kita berbicara. Namun, ketika kita semakin cepat menyampaikan pesan, apakah kita juga semakin cermat memilih kata? Ketika semakin mudah mendapatkan informasi, apakah kita semakin bijaksana dalam mengambil keputusan?” tegasnya.

Prof. Hambali berpesan agar generasi muda tidak sekadar cepat berbicara tanpa perenungan. Menurutnya, kemampuan berbahasa tidak hanya diukur dari kepasihan atau banyaknya hal yang dikuasai, tetapi juga dari ketepatan, etika, dan rasa tanggung jawab.

“Bagi kita di Universitas Muslim Indonesia, ilmu harus berjalan bersama aturan, kesederhanaan, serta kebijaksanaan. Teknologi harus tetap berada dalam kendali manusia, sebab bahasa adalah kompas bagi kehidupan,” pungkasnya.(wis)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Macron tolak pengunduran diri Mendagri Nunez usai kerusuhan Prancis
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Fajar/Fikri Bangkit dari Kegagalan di Asian Games, Rebut Gelar Juara Denmark Open 2026
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kasus Dugaan Narkoba Libatkan Finalis Cak Surabaya, Eri Ingatkan Cak dan Ning Jaga Nama Baik
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Polisi Tembak Polisi, Pengacara Korban Sebut Senior Lain yang Bully Pelaku
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Anak Down Syndrome Tewas Diduga Dibully, Komisi VIII Soroti Peran Orang Tua
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.