Pengacara keluarga Bharatu Laurentius Valdo Fernandez Lawai, Petrus Bala Pattyona, menyebut kliennya tak mem-bully Bharada Andika Rahmadani. Menurutnya, keterangan itu ia dapatkan dari penyidik.
Sebelumnya, Bharatu Valdo ditembak hingga tewas oleh Bharada Andika di Markas Ditpoludara Korpolairud Baharkam Polri, Pondok Cabe, Tangerang Selatan pada Jumat (16/10) dini hari. Menurut Petrus, motifnya karena Andika sering di-bully dan disalahkan para seniornya di Ditpoludara Korpolairud Baharkam Polri.
Petrus mengatakan, berdasarkan penjelasan penyidik, Andika diduga melampiaskan kemarahan karena kerap di-bully oleh teman-teman seangkatan Valdo.
“Apa yang menjadi motif dari kasus ini? Penjelasan penyidik bahwa pelaku ini melampiaskan kemarahan, pelaku ini melampiaskan kemarahan kepada korban karena, menurut penyidik tadi menjelaskan, teman-teman seangkatan korban sering mem-bully tersangka. Jadi bukan almarhum yang mem-bully, tapi teman-temannya,” kata Petrus saat ditemui di Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada Senin (19/10)
Meski demikian, Petrus mengatakan, penyidik masih mendalami dugaan perundungan tersebut. Rincian mengenai bentuk perundungan hingga lokasi kejadiannya belum dijelaskan secara terbuka.
“Bully-nya seperti apa, di mana, gestur, dan segala macam, penyidik mengatakan kami masih mendalami,” ujar Petrus.
Hingga saat ini, Petrus mengatakan Andika diduga menjadi pelaku tunggal. Namun, asal-usul senapan laras panjang yang digunakan dalam kejadian tersebut masih didalami.
Petrus menduga ada pelaku lainnya karena, selain memakai senjata laras panjang, Andika juga memakai senjata tajam berupa sangkur.
“Misalnya, apakah pelaku yang nama atau inisialnya AR ini seorang diri? Tim penyidik menjelaskan, untuk saat ini satu orang. Karena ada pertanyaan dari mana dia memiliki senapan laras panjang itu, itu masih didalami,” tutur Petrus.
Sementara itu, Ketua tim kuasa hukum keluarga Valdo, Ardy Mbalembout, menegaskan pihaknya tidak ingin menerima begitu saja penjelasan penyidik mengenai dugaan motif tersebut. Ia meminta penyidik mengungkap rangkaian peristiwa pidana yang menyebabkan Valdo meninggal dunia.
“Saya sebagai ketua tim, kita tidak bisa menerima mentah-mentah,” kata Ardy.
Menurut Ardy, pihaknya ingin penyidik mengungkap rangkaian peristiwa pidana yang menyebabkan Valdo meninggal dunia, bukan hanya menjelaskan dugaan motifnya.
“Pertanyaan kami sekarang bukan motifnya, fokusnya adalah dugaan penganiayaan sampai mengakibatkan kematian itu, bagaimana caranya?” kata Ardy.
Ia juga meminta rekaman CCTV di lokasi kejadian diperlihatkan dan diperiksa secara transparan.
“Sekarang kita minta tunjukkan CCTV-nya. Kita tes lab, apakah ada dilompat-lompatin itu. Itu harus kita transparan. Di situ baru kita percaya, Pak,” ujarnya.
Menurutnya, penyidik menyatakan CCTV di tempat kejadian perkara tersedia. Namun, rekaman tersebut belum diperlihatkan kepada tim kuasa hukum saat pertemuan antara kedua pihak berlangsung.
“CCTV-nya ada? Ada, ada. Tadi penyidik menyatakan semua CCTV di TKP itu ada,” ujar Petrus.
Ardy mengatakan pihaknya akan terus mengawal proses hukum kasus tersebut. Ia juga berencana bersurat kepada Kapolri agar penanganan perkara dipantau.
“Kasus ini terus kita kawal secara proses hukum. Kami juga akan bersurat kepada Pak Kapolri agar memantau kasus ini, jangan sampai penyidik juga kurang profesional,” tutup Ardy.
Saat ini, Andika telah ditahan oleh Polda Metro Jaya. Saat kejadian, ia diduga mengambil senjata laras panjang yang ada di pos penjagaan usai ia sampai di markas, lalu melancarkan aksinya di pos pemadam kebakaran, tempat Valdo beristirahat.
Selain menembak Valdo di badan dan di kepala, Andika diduga juga menggorok lehernya menggunakan sangkur.





