Senin Sore Ini, Bursa Efek Indonesia Bertemu MSCI

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Bursa Efek Indonesia berencana minta klarifikasi Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI) berkaitan dengan ancaman mengeluarkan pasar modal Indonesia dari klasifikasi emerging market ke standalone market. Sementara itu, untuk meredam kepanikan pasar, Bursa Efek Indonesia memangkas batas auto rejection bawah dari 15 persen menjadi 7 persen.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyatakan, BEI menggelar pertemuan khusus secara daring dengan MSCI pada Senin (19/10/2026) pukul 15.30 WIB. Agendanya antara lain untuk menyampaikan perkembangan reformasi yang sudah dilakukan.

BEI juga akan mempertanyakan dasar pertimbangan di balik ancaman reklasifikasi tersebut. Pertimbangannya, BEI merasa telah memenuhi seluruh kriteria emerging market, mulai dari transparansi hingga aksesibilitas pasar. 

“Kami ingin menyampaikan kembali progress apa yang sudah dilakukan. Kemudian inisiatif-inisiatif apa yang akan kami lakukan ke depan, dan tentu menanyakan latar belakang dari pengumuman yang disampaikan di hari Jumat tersebut, dan tentu ingin mendengar masukan dari MSCI” tutur Jeffrey saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan pada Senin (19/10/26).

Sebelumnya, pihak BEI menyatakan keterkejutan atas keputusan reklasifikasi MSCI. Pengumuman tersebut tidak diperkirakan sebelumnya baik oleh BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maupun sebagian besar pelaku pasar.

Alasannya, otoritas terkait di Indonesia merasa telah memenuhi kriteria emerging market dan menerima umpan balik positif sebelumnya. Dengan demikian, otoritas di Indonesia menganggap keputusan MSCI tergolong kontradiktif dengan kondisi riil industri.

Bahkan, menurut Jeffrey, dalam beberapa poin, kondisi Indonesia lebih baik dibandingkan dengan negara-negara emerging market lainnya. Poin-poin ini meliputi aksesibilitas dan transparansi pasar modal.

Baca JugaBEI Perketat Batas Penurunan Harga Saham Menjadi 7 Persen

“Tentu keyakinan itu tidak hanya keyakinan kami. Para investor global juga punya keyakinan yang sama bahwa Indonesia memenuhi seluruh kriteria untuk ada di emerging market,” ujarnya.

Selain itu, Jeffrey menegaskan, perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa memiliki fundamental yang baik, masih menghasilkan keuntungan, dan membagikan dividen yang cukup baik kepada para pemegang sahamnya. Indonesia memiliki jumlah investor ritel yang sangat besar yang memberikan kontribusi signifikan bagi pasar modal. 

xxxxxxxxxxxxx

Sebagai langkah mitigasi terhadap respons negatif pasar, BEI resmi menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) dari 15 persen menjadi 7 persen mulai Senin (19/10/26). Kebijakan ini akan berlaku hingga akhir tahun 2026 dan akan dievaluasi kembali mengikuti perkembangan pasar.

Ketentuan baru itu ditetapkan melalui Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 tentang Peraturan Nomor II-A mengenai Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas.

Regulasi ini diberlakukan guna meredam kepanikan pasar keuangan akibat pengumuman tak terduga pada Jumat lalu. Langkah stabilisasi ini diambil untuk melindungi para investor dari pengambilan keputusan yang terburu-buru di tengah ketidakpastian tinggi. Ketentuan ini menetapkan pemangkasan batas ARB dari sebelumnya 15 persen menjadi 7 persen untuk saham berharga di atas Rp 10. 

Sementara itu, batas Auto Rejection Atas (ARA) tetap dipertahankan sesuai regulasi terdahulu, yakni 35 persen (rentang harga Rp 11–Rp 200), 25 persen (Rp 200–Rp 5.000), dan 20 persen (di atas Rp 5.000). Untuk fraksi saham Rp 1–Rp 10, batas ARB maupun ARA ditetapkan sebesar Rp 1.

xxxxxxxxxxxxxxxx

Jeffrey mengklaim, penurunan batas ARB ini terbukti efektif menenangkan gejolak pasar pada perdagangan sesi pertama. Pihaknya akan terus memantau dinamika pasar secara intensif, termasuk mengevaluasi dampak potensi perubahan status pasar. 

“Dari pantauan kami sesi pertama ini itu cukup efektif untuk meredam kepanikan pasar. Ya, sampai tadi saya saya turun, indeks kita turun kira-kira 5 persen. Tentu ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih ada, tetapi kepanikan seperti yang terjadi di hari Jumat itu sudah berkurang. Itu yang kita harapkan,” tutur Jeffrey.

Merespons kondisi pasar modal sekarang, Jeffrey menekankan komitmen BEI untuk melanjutkan reformasi pasar modal guna meningkatkan transparansi dan tata kelola. BEI juga terus berkomitmen mendorong partisipasi investor institusi domestik. 

xxxxxxxxxxxx

Bukan sekedar angka

Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, mengingatkan otoritas bursa agar tidak bersikap reaktif dengan terus menumpuk regulasi baru demi merespons sinyal penurunan status dari MSCI. Menurut dia, pembenahan pasar modal nasional seharusnya bertumpu pada perbaikan metodologi dasar dan peningkatan likuiditas riil.

"Kita tidak harus menerjemahkan setiap perhatian MSCI menjadi ambang angka baru, apalagi peraturan baru. Yang dibutuhkan ialah data kepemilikan akurat, klasifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan, aturan konsisten, dan pasar yang semakin investable," ujar Budi.

Hal yang dipersoalkan MSCI, Budi melanjutkan, adalah investability, yakni tingkat kelayakan atau kemudahan suatu aset, perusahaan, atau pasar saham untuk dijadikan tujuan investasi oleh para investor. Investability merujuk pada ketersediaan riil saham untuk ditransaksikan dalam volume besar, ditopang keakuratan data kepemilikan serta mekanisme pembentukan harga secara transparan.

Faktor ini menilai apakah saham benar-benar tersedia untuk dibeli dan dijual dalam jumlah besar, dengan informasi kepemilikan yang dapat dipercaya serta pembentukan harga yang wajar.

Oleh sebab itu, ia menyarankan, otoritas harus berfokus pada kedalaman antrean order (order depth), nilai transaksi, dan bid-ask spread, bukan sekadar mengejar pemenuhan ambang batas persentase free float administratif. (X01)





Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Peringatan Hari Ulos Nasional Meriahkan Puncak MFCF 2026, Rico Waas Harap Tenun Lokal Mendunia
• 18 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Dirut BEI Mengaku Tak Ada Peringatan MSCI soal Ancaman Status Standalone Market
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Mitsubishi Fuso Pimpin Pasar Kendaraan Niaga, KTB Perkuat Hubungan dengan Media
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Senin Sore Ini, Bursa Efek Indonesia Bertemu MSCI
• 3 jam lalukompas.id
thumb
Pertamina Tambah 5 Juta Liter Pertalite untuk Atasi Antrean SPBU di Manado
• 16 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.