Jakarta, CNBC Indonesia - Ikan salmon yang selama ini dikenal pemakan ikan-ikan kecil di laut kini mulai diubah menunya. Akibat perubahan iklim yang memicu kelangkaan pakan alami, peternak di Eropa terpaksa memberi pakan berupa sisa-sisa pengolahan ayam, dikutip dari IFL Science, Senin (19/10/2026).
Salmon adalah ikan pemangsa yang membutuhkan banyak protein untuk tumbuh. Selama ini, kebutuhan protein itu dipenuhi dari tepung ikan yang diambil dari tangkapan ikan kecil di laut. Namun seiring menurunnya populasi ikan liar serta kenaikan harga pakan, industri ini makin tertekan.
Tekanan ini memuncak saat fenomena El Niño mengganggu suhu air di Pasifik, sehingga perikanan ikan teri di lepas pantai Peru sebagai salah satu sumber utama tepung ikan dunia, nyaris runtuh seketika.
Kekurangan pasokan ini memaksa peternak mencari sumber protein lain. Salah satu produsen salmon terbesar di Norwegia, Lerøy Seafood Group, dikabarkan telah mulai mencampurkan sisa pengolahan ayam ke dalam pakan ikan mereka. Langkah ini juga direncanakan oleh Mowi, pemasok salmon terbesar di pasar Inggris.
- Laut Mati Mengering, Manusia di Seluruh Dunia Rasakan Dampaknya
- Sumber Kehidupan di Timur Tengah Lenyap, Rasulullah Sudah Ingatkan
Pakan yang diberikan bukan berupa daging ayam utuh, melainkan tepung yang diolah dari bagian-bagian yang jarang dikonsumsi manusia seperti tulang, hati, hingga otak ayam. Di Kanada dan Cile, cara ini sebenarnya sudah lama dipakai, namun di Eropa dan Inggris praktik ini dulunya dianggap tabu dan bahkan dilarang karena kekhawatiran penularan penyakit. Larangan itu baru dicabut pada tahun 2013, tetapi masyarakat luas belum banyak yang mengetahuinya.
Pihak produsen menyebut pakan ini aman dan wajar karena salmon memang hewan pemakan daging. Namun kritikus menilai hal ini menyimpang dari pola makan alami ikan yang hidup di laut. Hal yang lebih mengkhawatirkan, konsumen tidak akan mengetahui apakah salmon yang dibesarkan dengan pakan ayam berbeda kualitas gizinya, karena saat ini belum ada kewajiban mencantumkan informasi jenis pakan pada kemasan produk.
Fakta yang terungkap sebelumnya juga menyebutkan betapa borosnya budi daya salmon. Untuk menghasilkan satu kilogram salmon ternak, dibutuhkan hingga empat kilogram ikan yang ditangkap dari alam. Industri yang seharusnya mengurangi tekanan pada penangkapan ikan liar justru ikut mempercepat penipisan stok ikan di laut.
Kini, saat pasokan ikan itu menipis, industri beralih ke peternakan ayam yang memiliki jejak lingkungannya sendiri.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]




