Ketika asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti suatu wilayah, keluhan seperti batuk, mata perih, dan tenggorokan terasa kering kerap dianggap sebagai gangguan biasa. Sebagian masyarakat memilih bertahan dan melanjutkan aktivitas karena merasa keluhan tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Namun, ada hal yang perlu kita pahami: gangguan pernapasan akibat paparan asap tidak boleh selalu dianggap ringan. Pada kondisi tertentu, paparan asap dapat memperburuk penyakit pernapasan yang sudah ada, memicu serangan asma, dan menyebabkan gangguan yang membutuhkan penanganan medis.
Sebagai dosen Departemen Keperawatan Gawat Darurat dan Kritis, Fakultas Keperawatan, Universitas Padjadjaran, Donny Nurhamsyah, memandang bahwa kemampuan mengenali gejala dan tanda bahaya merupakan bagian penting dari kesiapsiagaan kesehatan masyarakat.
Kita tidak harus menunggu seseorang mengalami sesak napas berat untuk menyadari bahwa paparan asap karhutla perlu diwaspadai.
Mengapa Asap Karhutla Dapat Mengganggu Pernapasan?Asap karhutla merupakan campuran partikel halus dan gas yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi serta material lainnya. Salah satu komponen yang perlu diwaspadai adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer atau PM2.5.
Karena ukurannya sangat kecil, partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru. Paparan asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu respons peradangan. Pada individu yang memiliki asma atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memperburuk gejala.
Tinjauan ilmiah Gould dan kolega (2024) dalam Annual Review of Medicine menunjukkan bahwa paparan asap kebakaran berkaitan dengan peningkatan gangguan pernapasan dan rawat inap akibat masalah pernapasan.
Artinya, asap karhutla bukan sekadar persoalan kenyamanan. Dampaknya perlu dikenali melalui gejala yang muncul dan ditangani sesuai tingkat keparahannya.
Kenali Gejala Gangguan Pernapasan akibat AsapGejala akibat paparan asap dapat berbeda pada setiap orang. Ada yang hanya mengalami iritasi ringan, tetapi ada pula yang mengalami perburukan kondisi pernapasan.
1. Batuk dan tenggorokan terasa kering
Batuk merupakan salah satu keluhan yang dapat muncul ketika saluran pernapasan terpapar partikel dan zat iritan dalam asap. Tenggorokan juga dapat terasa gatal, kering, atau perih.
Jika keluhan muncul saat berada di lingkungan berasap, segera kurangi paparan dan pindah ke tempat dengan udara yang lebih bersih. Jangan menganggap batuk yang terus berulang sebagai sesuatu yang pasti akan hilang tanpa penanganan.
2. Hidung berair dan iritasi saluran pernapasan atas
Paparan asap dapat menyebabkan hidung berair, bersin, iritasi hidung, dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Mata juga dapat terasa perih atau berair.
Keluhan tersebut dapat menjadi tanda bahwa tubuh sedang terpapar zat iritan. Meski demikian, gejala ini tidak secara khusus membuktikan bahwa penyebabnya adalah asap karhutla, karena infeksi dan kondisi lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa.
3. Napas berbunyi atau mengi
Mengi merupakan suara seperti siulan, terutama ketika mengembuskan napas. Gejala ini dapat terjadi ketika saluran pernapasan menyempit.
Pada penderita asma, asap dapat memicu serangan yang ditandai dengan batuk, mengi, rasa berat di dada, atau kesulitan bernapas. Apabila mengi baru muncul, berulang, atau semakin berat, pemeriksaan medis diperlukan.
4. Sesak napas dan dada terasa berat
Sesak napas merupakan gejala yang perlu diperhatikan, terutama jika muncul setelah terpapar asap atau semakin memburuk ketika beraktivitas.
Seseorang mungkin merasa napasnya lebih pendek, sulit menarik napas, atau tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dapat dilakukan dengan mudah.
Jangan memaksakan diri untuk terus bekerja atau berolahraga ketika mengalami keluhan tersebut. Segera pindah ke tempat dengan udara lebih bersih dan cari pertolongan medis sesuai tingkat keparahan gejala.
5. Gejala memburuk pada penderita penyakit kronis
Orang dengan asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit jantung perlu lebih waspada. Paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sebelumnya relatif terkendali.
Misalnya, penderita asma menjadi lebih sering menggunakan obat pelega yang diresepkan, mengalami mengi lebih berat, atau merasa sesak meskipun sedang beristirahat.
Perubahan dari kondisi biasanya merupakan alasan untuk melakukan evaluasi medis. Jangan menunggu sampai terjadi serangan berat.
Kapan Harus Segera ke Instalasi Gawat Darurat?Tidak semua keluhan akibat asap membutuhkan penanganan di instalasi gawat darurat (IGD). Namun, masyarakat perlu mengetahui tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.
Segera cari pertolongan medis darurat jika seseorang mengalami gejala berikut ini: Sesak napas berat, termasuk kesulitan bernapas saat beristirahat. Kesulitan berbicara dalam kalimat lengkap karena kehabisan napas. Bibir atau wajah tampak kebiruan, yang dapat menandakan kekurangan oksigen. Nyeri atau tekanan pada dada, terutama jika disertai sesak napas. Kebingungan, penurunan kesadaran, atau pingsan. Gejala asma berat atau gejala yang tidak membaik setelah mengikuti rencana penanganan yang diberikan tenaga kesehatan.
Tanda-tanda tersebut dapat menunjukkan kondisi serius dan tidak boleh ditangani hanya dengan pengobatan mandiri di rumah.
Jika seseorang mengalami kesulitan bernapas berat, jangan menunda pertolongan untuk mencoba berbagai ramuan atau pengobatan rumahan. Hubungi layanan kegawatdaruratan setempat atau segera menuju fasilitas kesehatan yang mampu memberikan penanganan darurat.
Apa yang Harus Dilakukan Ketika Gejala Muncul?Langkah pertama adalah menghentikan aktivitas dan mengurangi paparan asap. Pindah ke tempat dengan udara yang lebih bersih, selama perpindahan tersebut aman dilakukan.
Jika berada di dalam ruangan, upayakan agar udara yang dihirup lebih bersih. Tutup pintu dan jendela saat udara luar tercemar jika kondisi suhu memungkinkan. Alat pembersih udara dengan filter HEPA dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan apabila tersedia dan digunakan dengan tepat.
Bagi penderita asma atau penyakit paru kronis, ikuti rencana penanganan yang telah diberikan tenaga kesehatan. Gunakan obat sesuai resep dan jangan mengubah dosis secara mandiri.
Apabila gejala menetap, berulang, atau semakin berat, lakukan pemeriksaan medis. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk hanya karena keluhan awal terasa ringan.
Satu hal yang juga penting: tidak semua gangguan pernapasan saat musim karhutla pasti disebabkan oleh asap. Infeksi saluran pernapasan, penyakit jantung, dan kondisi medis lainnya dapat menimbulkan gejala serupa. Karena itu, gejala yang berat atau tidak biasa perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan.
Jangan Menunggu Sampai Sesak Napas BeratDalam keperawatan gawat darurat dan kritis, pengenalan dini terhadap perubahan kondisi pasien merupakan bagian penting dari upaya mencegah perburukan. Prinsip ini juga relevan dalam kehidupan sehari-hari ketika masyarakat menghadapi paparan asap karhutla.
Kita perlu membiasakan diri untuk tidak mengabaikan batuk yang terus berulang, mengi, atau perubahan pola pernapasan setelah terpapar asap. Pada saat yang sama, masyarakat harus memahami perbedaan antara keluhan yang dapat dipantau dan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan segera.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Kelompok ini memerlukan perlindungan lebih baik dan akses yang memadai terhadap layanan kesehatan.
Namun, edukasi kesehatan saja tidak cukup. Pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, dan tempat kerja perlu memastikan tersedianya informasi kualitas udara yang mudah diakses serta langkah perlindungan ketika pencemaran meningkat.
Karhutla harus ditangani bukan hanya sebagai persoalan kebakaran, tetapi juga sebagai persoalan kesehatan masyarakat.
Pesan yang perlu kita ingat sederhana yaitu kenali gejalanya, kurangi paparan, dan jangan menunda pertolongan ketika tanda bahaya muncul. Dalam kondisi yang mengancam pernapasan, keputusan yang tepat waktu dapat menjadi sangat berarti bagi keselamatan seseorang.





