Mobilitas Tinggi, Warga Tangerang dan Bekasi Nantikan Perluasan Akses MRT

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Sejumlah warga asal Tangerang dan Bekasi yang berkegiatan di DKI Jakarta masih menantikan perluasan jaringan MRT ke daerahnya. Tingginya mobilitas warga berbanding terbalik dengan ketersediaan transportasi umum yang terkoneksi. Hal itu membuat sebagian besar warga harus berkali-kali melakukan transit dengan transportasi yang berbeda. 

Sejumlah warga Tangerang dan Bekasi masih menantikan kelanjutan perluasan jaringan. Salah satunya, Violin (22), warga Karawaci, Kota Tangerang, yang sudah berkali-kali mendengarkan informasi wacana perluasan jaringan MRT ke kotanya. Namun, hingga kini dirinya juga belum melihat adanya proyek tersebut. 

Baca JugaMRT Jakarta-Sinar Mas Kaji Trase dan Pembiayaan Rute Lebak Bulus-Serpong

Pada hari ini, Senin (19/10/2026), pukul 09.00 WIB, beberapa orang terlihat berlalu lalang di stasiun MRT Blok M, Jakarta Selatan. Violin adalah pekerja lepas di sebuah brand makanan yang akan membuka stand di Stasiun MRT Blok M. Pada Senin, ia sedang duduk sembari menghitung jumlah orang yang melewati salah satu sudut stasiun, sebagai bagian dari riset yang sedang dilakukannya sebelum stand dibuka.

Meski belum bekerja secara tetap di Jakarta, Violin kerap mengambil pekerjaan freelance yang mengharuskannya melakukan mobilitas dari Kota Tangerang ke DKI Jakarta.

Violin bercerita untuk mencapai Stasiun MRT Blok M, dirinya harus menempuh perjalanan menggunakan Transjakarta hingga ke halte Petamburan, Jakarta Pusat. Setelah itu, ia harus transit menggunakan Transjakarta ke halte Blok M, Jakarta Selatan. Untuk mencapai stasiun MRT Blok M pagi ini, Violin menghabiskan waktu 2 jam di perjalanan. 

Selain menggunakan Transjakarta, ia juga pernah beberapa kali menggunakan KRL dari Kota Tangerang menuju Jakarta. Namun, akhir-akhir ini ia menghindari penggunaan KRL sebab baginya kenyamanan penggunaan KRL semakin berkurang. 

”Kalau pakai KRL terlalu berdesak-desakan, orangnya terlalu banyak. Sementara kalau Transjakarta rawan macet,” ucapnya, Senin (19/10/2026). 

Menghadapi kedua celah dalam transportasi tersebut, Violin sangat berharap akan keberadaan  jalur MRT ke Tangerang. Menurutnya, hal tersebut akan memberi dampak positif berupa kemudahan mobilitas antarwilayah. Selain itu, tersedianya banyak pilihan transportasi juga akan meminimalisir penumpukan penumpang pada satu jenis transportasi. 

”Aku bakal senang banget karena akses dari daerah kita ke Jakarta akan lebih cepat jadinya. Selain itu, rasanya juga akan lebih kondusif daripada sekarang,” ujarnya. 

Kendati demikian, Violin juga khawatir dengan penurunan kualitas MRT nantinya. Ia berharap penambahan stasiun dan jaringan MRT tidak mempengaruhi kualitas layanan yang sudah bagus saat ini. 

Sejalan dengan Violin, penantian juga masih dilakukan Sabrina (23), warga Tangerang Selatan, yang bekerja di sekitaran Monas, Gambir, Jakarta Pusat. Sudah lebih dari setahun, ia mendengar kabar adanya perluasan jaringan MRT hingga ke Tangerang Selatan. Namun, hingga kini belum ada informasi perkembangan apapun. 

Sabrina biasanya memulai perjalanan pulang ke rumah dengan menaiki Transjakarta di halte Monas, menuju MRT Bundaran HI, Jakarta Pusat. Perjalanan dilanjutkan dari MRT Bundaran HI menuju Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Setelah itu, ia kembali berpindah menaiki Transjakarta S21 Lebak Bulus menuju Ciputat, Tangerang Selatan. Rute tersebut biasa ditempuhnya dalam waktu 2 hingga 3 jam perjalanan. 

”Pulang kantor biasanya aku berangkat pukul 17.30 WIB dan baru sampai rumah pukul 20.30 WIB kalau macet,” ujarnya, Senin. 

Adanya kabar perluasan jaringan MRT ke Tangerang Selatan sebenarnya menjadi angin segar bagi Sabrina. Ia berharap hal tersebut dapat meminimalisir kemacetan yang kerap terjadi di wilayahnya karena keterbatasan transportasi umum. 

”Aku bakal senang banget kalau benar terealisasi karena akses transportasi umum di Tangsel masih terbatas. Menantikan banget saat MRT bisa menjangkau daerah ini,” ucapnya. 

Jalur Tangerang dan Bekasi

Pada 11 September 2024, Presiden Joko Widodo mencanangkan peletakan batu pertama pembangunan MRT Lin Timur - Barat Fase 1, Tahap 1, di Proyek MRT MH Thamrin, Jakarta Pusat. Jalur direncanakan akan membentang sepanjang 84,1 kilometer dari Cikarang, Kabupaten Bekasi, hingga Balaraja, Kabupaten Tangerang, Banten. Adapun salah satu jalur akan membentang sepanjang 24,5 kilometer dari Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat, menuju Tomang, Jakarta. (Kompas.id, 12/9/2024). 

Baca JugaMRT Timur-Barat, Angin Segar Percepatan Penataan Angkutan Umum Jabodetabek

Sementara di lintasan lain, PT MRT Jakarta (Perseroda) bersama Sinar Mas Land tengah memulai kajian perpanjangan trayek mass rapid transit atau MRT dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan, menuju Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Eksistensi ditargetkan mengurangi ratusan ribu pengguna kendaraan pribadi yang berkendara antarwilayah tersebut. Rencana pengembangan ini menjadi bagian upaya meningkatkan konektivitas dari dan menuju Jakarta. (Kompas.id, 24/7/2025). 

Rencana kedua jalur itu sangat dinantikan oleh warga di Tangerang dan Bekasi. Di Bekasi, Akhdani Dharifatus (22), warga Bekasi, yang sehari-hari bekerja di wilayah Gandaria Utara, Jakarta Selatan, berharap proyek MRT itu segera direalisasikan. Untuk pulang pergi ke kantor setiap hari, Akhdani kerap menggunakan berbagai jenis transportasi mulai dari Transjakarta, LRT, dan MRT. 

Saat pulang kantor, biasanya ia akan memulai perjalanan dengan MRT Blok M, Jaksel, menuju MRT Dukuh Atas, Jakpus. Setelahnya, perjalanan dilanjutkan dengan LRT dari Dukuh Atas, menuju LRT Jatimulya di Bekasi, Jawa Barat. 

”Kadang merasa capek soal transit di banyak transportasi umum gitu. Pindah dari LRT ke MRT atau Transjakarta. Apalagi Transjakarta kadang suka macet,” ujarnya, Minggu (18/10). 

Rumitnya perjalanan yang harus dilakukannya setiap hari, membuat Akhdani sangat menantikan hadirnya MRT menuju Bekasi. Terlebih saat dihitung, lama waktu yang dihabiskannya di jalan dengan berganti-ganti moda transportasi bisa mencapai 1 jam 45 menit. Belum termasuk jika terjadi kemacetan di jalan. 

”Kalau MRT di Bekasi sudah beroperasi, akan sangat membantu saya karena tidak perlu keluar stasiun untuk transit,” ucapnya. 

Selain itu, Akhdani berharap pembangunan MRT ke daerah Bekasi dapat memudahkan perjalanan dirinya dan warga Bekasi yang bekerja di Jakarta. Ia juga berharap proyek tersebut segera berjalan dan selesai tepat waktu. 

”Agar warga Bekasi juga makin punya banyak opsi transportasi umum ke kantor dan tidak berdesakan di satu transportasi saja,” tuturnya. 

Perlu konektivitas

Harapan masyarakat khususnya warga Bekasi dan Tangerang akan terkoneksinya moda transportasi baru di wilayah tersebut bukan tanpa alasan. Badan Pusat Statistik dan KCI.id merilis data sekitar 1,65 juta penduduk wilayah Bekasi dan Tangerang melakukan perjalanan komuter ke luar kabupaten/kota tempat tinggal. Lama perjalanan Bekasi dan Tangerang menuju Jakarta mencapai 2 jam saat macet. 

Hingga saat ini, pengguna transportasi umum seperti KRL dan Transjakarta semakin membludak. VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda memaparkan, pada periode Januari hingga Agustus 2026, pengguna KRL lintas Cikarang mencapai 59,4 juta jiwa. Per harinya terdapat kurang lebih 22 ribu pemberangkatan penumpang dari Stasiun Bekasi. Sebanyak 19,2 persen penduduk Kota Bekasi merupakan komuter atau penglaju. 

Sementara itu, sekitar 279 ribu atau 19,2 persen penduduk Kabupaten Tangerang adalah komuter. Tingginya mobilitas tersebut membuat masyarakat memerlukan sistem transportasi yang terkoneksi se-Jabodetabek. 

Di sisi lain, perluasan jaringan MRT menjadi harapan baru bagi masyarakat. Berdasarkan informasi yang tertera dalam media sosial resmi @mrtjkt pada, Jumat (9/10), pembangunan MRT Lin Timur - Barat akan dimulai melalui Fase 1 Tahap 1 menghubungkan Medan Satria hingga Tomang. 

Jalur tersebut akan melintasi 21 stasiun dengan potensi penumpang hingga 284,900 orang per hari. Jalur layang (elevated station) akan membentang dari Tomang ke Grogol, Jakarta Barat; dan Cempaka Baru di Jakarta Pusat hingga Medan Satria, Bekasi. Sementara, jalur bawah tanah (underground station) akan membentang dari Roxy hingga Galur, Jakpus.  

Informasi terakhir, pada 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih melanjutkan persiapan pembangunan MRT Timur - Barat. Persiapan yang dilakukan berupa pendataan pengadaan lahan di kawasan Thamrin menuju Kwitang, Jakpus. Jalur tersebut masuk dalam pembangunan Segmen 1 Fase 1 Tahap 1 dengan panjang lintasan 1,76 kilometer. 

Wakil Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia Bidang Integrasi dan Transportasi Perkotaan Andy Saragih menyampaikan pandangan terkait pembangunan jaringan MRT. Menurutnya, proyek perluasan ini merupakan proyek besar yang dilakukan lintas provinsi. Mekanisme perencanaan, pembiayaan, hingga eksekusi membutuhkan waktu yang panjang.

Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan MRT tersebut. Pertama, perihal konektivitas fasilitas berpindah dari MRT menuju transportasi lain. Kedua, kepastian jalur daerah yang dilewati yakni Jakarta, Jabar, dan Banten. Ketiga, pengelolaan yang tepat pada kawasan sekitar stasiun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dua Kaki Andini Angelina Tekuni Futsal & Sepak Bola demi Mimpi di Level Pro
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Hilang 14 Hari, Ayah Dua Anak Ditemukan Tewas Membusuk di Sawah Sidoarjo
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Penabrak Anak 15 Tahun di Mampang Prapatan Diduga Pakai Tembakau Sintetis, Polisi: Hasilnya Negatif!
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Jawaban Eliano Reijnders usai Dijuluki Iron Man oleh Igor Tolic
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Pengajar Ponpes di Aceh Cabuli 10 Santri, Pelaku Ditangkap Polisi
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.