Dua Kaki Andini Angelina Tekuni Futsal & Sepak Bola demi Mimpi di Level Pro

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bagaimana jadinya kalau kamu harus menekuni dua cabang olahraga sekaligus demi mengejar mimpi menjadi atlet profesional?

Bermain sepak bola, berkompetisi di gelanggang futsal, plus menjalani kuliah. Itulah yang dilakoni Andini Angelina Putri, student-athlete Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang aktif tak hanya futsal tapi juga bermain sepak bola.

Bagi Andini Angelina Putri, futsal dan sepak bola tak harus dipilih. Keduanya justru secara sadar ia tempuh berbarengan untuk meraih cita-cita sebagai atlet profesional.

Perempuan asal Sidoarjo itu kini aktif bermain sepak bola dan futsal secara bersamaan di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Pendidikan dan Kepelatihan Olahraga di Universitas Negeri Surabaya. Di futsal, ia mulai menunjukkan produktivitasnya bersama Unesa dalam ajang Campus League Futsal Regional Surabaya yang digelar di GOR Pertamina ITS, Surabaya.

Andini bikin rekor baru. Total 12 gol torehannya jadi yang terbanyak di Regional Surabaya. Catatan ini untuk sementara juga jadi rekor sejak Campus League Futsal dipertandingkan dari Season 0 pada 2025 lalu.

Namun, perjalanan Andini di lapangan sebenarnya tidak bermula dari futsal. Jauh sebelum merasakan atmosfer kompetisi antar-kampus, ia lebih dulu mengenal sepak bola dari lingkungan tempat tinggalnya.

Bermula dari Lapangan Kampung

Ketajaman Andini dan rekor yang baru saja ia ciptakan di Campus League tak datang dalam semalam. Kaki Andini telah terlatih sejak menekuni dua olahraga itu enam tahun lalu, tepatnya kala menginjak kelas 1 SMP.

Kecintaan Andini terhadap sepak bola tumbuh saat melihat teman laki-laki di kampungnya bermain sepak bola. Ketertarikan itu membuatnya ikut bergabung, hingga akhirnya mulai mencari klub yang bisa menjadi tempatnya mengembangkan kemampuan.

"Aku dari kecil ikut sepak bola sama anak laki-laki di kampung. Jadi aku lihat anak-anak itu seru, jadi aku ikut gabung sama anak-anak," kata perempuan yang kerap disapa Dini itu.

Kecintaan Andini mengolah si kulit bundar tak berhenti di lapangan sepak bola saja. Ketika memasuki bangku SMP ia berkenalan dengan dunia baru bernama futsal. Sejak saat itulah Andini menjalani sepak bola dan futsal secara bersamaan.

Ketekunannya bermain sepak bola membawa Andini ke hal yang tak pernah ia duga. Bersama Arema Women, Andini menjejaki turnamen sepak bola wanita di level nasional kala ikut Piala Pertiwi. Tak cuma sekali, Andini mencicipi level tersebut dalam dua edisi pada 2024 dan 2025 secara beruntun.

Pengalaman bermain di lapangan yang lebih luas menjadi bekal ketika ia beralih ke futsal. Menurut Andini, kebiasaannya bermain sebagai striker membuatnya memiliki kemampuan melepas tembakan dengan keras. Ia merasa kemampuan itu cukup membantu ketika harus mencari celah untuk mencetak gol di lapangan futsal yang lebih kecil.

"Kalau futsal kan jarak agak dekat. Nah, itu, jaraknya dekat dan tendangan keras jadi bisa (gol),” ujarnya soal kunci bikin selusin gol di Campus League Futsal Surabaya.

Meski demikian, Andini menyadari bahwa futsal menuntut penyesuaian. Permainan yang berlangsung di ruang lebih sempit membuat pemain harus mengambil keputusan dengan cepat, termasuk saat melakukan rotasi dan menentukan pilihan ketika menguasai bola.

Dua cabang olahraga itu pun memiliki tantangan masing-masing. Andini mengaku lebih nyaman bermain sepak bola, tetapi untuk saat ini ia melihat futsal sebagai kesempatan yang menarik untuk mengembangkan kariernya.

Kuliah, Lapangan, & Mimpi Level Pro

Di luar gegap gempita lapangan, Andini tak mengesampingkan statusnya sebagai mahasiswa. Ia menempuh pendidikan di Unesa dengan mengambil jurusan yang tak jauh dari dunia yang ditekuni: Pendidikan & Kepelatihan Olahraga. Pilihan itu sejalan dengan ketertarikannya pada dunia olahraga sekaligus keinginannya melanjutkan pendidikan.

Rutinitasnya cukup berat. Andini harus membagi waktu antara perkuliahan, latihan, serta perjalanan dari Sidoarjo menuju Surabaya. Demi cita-citanya, ia pulang-pergi setiap hari, dengan waktu tempuh yang bisa mencapai sekitar satu jam setiap kali jalan.

Pagi hari digunakan untuk kuliah, sementara sore harinya menjadi waktu untuk berlatih. Ia berusaha menjaga keduanya tetap berjalan tanpa saling mengganggu. Upaya tersebut turut terlihat dari hasil akademiknya. Andini menyebut IPK terakhirnya berada di angka 3,6, luar biasa tinggi buat atlet yang aktif di dua cabang olahraga.

Di tengah kesibukan itu, Andini masih menyimpan ambisi untuk melangkah lebih jauh. Ia ingin mendapat kesempatan bermain di level profesional, baik melalui futsal maupun sepak bola. Bahkan, Dini secara terbuka menyebut tim nasional sebagai salah satu tujuan besarnya.

“Kalau bisa liga sih, tahun depan inshallah bisa (main di WPFL). Mimpinya juga bisa timnas gitu,” ucapnya ketika ditanya sejauh mana ia ingin membawa karier futsalnya.

Kesempatan bermain di level yang lebih tinggi sebenarnya mulai terbuka. Andini mengaku pernah mendapat tawaran dari Persita, klub sepak bola putri asal Tangerang yang kini berjibaku di Indonesia Women’s League. Namun, ia memilih memprioritaskan kuliah dan perjalanan bersama Unesa terlebih dahulu.

Keputusan itu bukan berarti ia menutup pintu untuk berkarier di sepak bola. Andini hanya ingin memastikan pendidikannya tetap berjalan sembari mencari peluang beasiswa agar dapat meringankan beban orang tuanya.

"Mungkin aku mau cari beasiswa lewat prestasi kampus. Karena aku kan (masuk jalur) mandiri, jadi mau mengurangi beban orang tua," tuturnya.

Kini, Campus League menjadi salah satu panggung bagi Andini untuk menunjukkan kemampuannya. Ia berharap bisa membawa kampusnya meraih gelar juara nasional sekaligus mempertahankan produktivitas di depan gawang.

Perjalanan menuju level profesional tentu masih panjang. Namun, Andini belum ingin memilih satu jalan dan meninggalkan jalan lainnya. Selama masih ada kesempatan untuk berkembang, ia ingin terus mengasah kemampuan dengan dua kakinya di kedua lapangan.

“Kalau bisa nasional, juara Campus League Futsal The Nationals. Sama kalau bisa top scorer-lah,” tutup Andini mengakhiri pembicaraan di ITS.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prancis Dilanda Gelombang Kerusuhan, Pembakaran dan Kekerasan Merebak; PM Tuding Kelompok Kiri Ekstrem Menghasut 
• 9 jam laluerabaru.net
thumb
Dua Strategi Pemprov Jakarta Antisipasi Asap Kebakaran Hutan
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
DPR Buka-bukaan soal Polemik Syarat Pendidikan Capres-Cawapres di PKPU
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Survei PPI: Kepuasan Kinerja Pemerintah 65,4 Persen, Prabowo 65,2 Persen
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Masyarakat Sipil Soroti Persoalan Mendasar Republik
• 4 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.