JAKARTA, KOMPAS - Hasil riset dan teknologi di Indonesia selama ini belum tersentuh industri akibat minimnya dukungan investor. Masalahnya ada pada terbatasnya pertemuan antara periset dengan investor industri. Jika tidak dijembatani, maka ekosistem pengembangan teknologi dapat mengalami stagnasi.
Berangkat dari kenyataan ini, Danantara Indonesia ingin mewujudkan keterhubungan antara industri tersebut dengan riset dan inovasi yang telah dikembangkan. Hal ini disampaikan dalam Konferensi Pers Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 yang disampaikan di Danantara, Jakarta, pada Senin (19/10/2026).
DTIIF 2026 mengusung tema bertajuk “Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation, and Sustainable Growth”. Forum ini akan diselenggarakan pada (26/10/2026) hingga (28/10/2026) di Hotel Fairmont, Jakarta.
Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa, menyatakan ada lima pilar industri yang diutamakan dalam DTIIF, di antaranya industri ketahanan energi, industri ketahanan pangan dan kesehatan, hilirisasi downstreaming (manufaktur) atau industri mineral, infrastruktur mobilitas (infrastruktur digital, AI, teknologi informasi), dan perbankan (financial technology).
Di luar lima pilar tersebut, ada satu tambahan bidang yaitu agrikultur dan pendukung-pendukungnya. Harapannya, dengan adanya forum ini, Danantara dapat menjadi pionir dan driver penggerak dari industri berbahan teknologi di Indonesia.
Forum ini akan menargetkan lebih dari 1.500 peserta serta terbuka bagi masyarakat umum. Para pembicara yang hadir di DTIIF akan memberikan insight mengenai bagaimana membangun industri berbasis teknologi dan inovasi. Forum ini juga akan menghadirkan banyak peneliti serta akademisi dan inovator.
Forum tersebut merupakan platform utama Danantara Indonesia untuk menghubungkan prioritas industri strategis nasional dengan teknologi terdepan, ekosistem inovasi global, keahlian ilmiah, dan modal global jangka panjang.
Kalau kita ingin membangun industri ke depan yang memiliki dampak ekonomi cukup tinggi, salah satu upayanya adalah dengan membangun industri berbasis tekonologi dan inovasi.
Adapun DTIIF mengundang 170 inovator global, lebih dari 100 CEO perusahaan teknologi global, 67 pusat riset inovasi, serta lebih dari 50 BUMN. Sigit menyatakan, acara ini akan menjadi acara yang sangat besar dan prestisius. Namun juga memberikan implikasi yang positif bagi proses industrialisasi negara kita.
Sigit menyatakan, tujuan utama penyelenggaraan DTIIF adalah untuk membangun platform dan ekosistem bagi industri dan investasi. Forum ini adalah upaya dari Danantara untuk mendukung program ekonomi dari pemerintah.
“Kalau kita ingin membangun industri ke depan yang memiliki dampak ekonomi cukup tinggi, salah satu upayanya adalah dengan membangun industri berbasis tekonologi dan inovasi,” ujarnya.
Sejauh ini, ekosistem riset dan inovasi Indonesia belum tersentuh industri. Artinya, riset dan publikasi dari peneliti Indonesia belum benar-benar terjangkau pasar. Dilansir dari Kompas.id pada Senin (19/10/2026), permasalahannya terletak pada tidak adanya keterhubungan hilirisasi antara riset ke industri.
Riset masih terbatas berorientasi pada kebaruan ilmu, sedangkan industri tidak terbuka pula pada hasil riset dan inovasi. Untuk itu Danantara, melalui DTIIF ingin menjadi jembatan penghubung antara indutri strategis nasional dengan teknologi terdepan, ekosistem inovasi global, keahlian ilmiah, dan modal global jangka panjang.
Managing Director Strategic Technology Initiatives Ricardo Irwan menyatakan, DTIIF akan menjembatani proses bisnis matching dimana para pakar, pemimpin di bidang teknologi dan inovasi, dan investor untuk bertemu.
“ Kita akan memberikan ruang dan ada protokolnya tersendiri dimana para lulusan BUMN bisa menampilkan produk dan solusi unggulan yang mereka hasilkan. Dengan harapan akan berimplikasi pada investasi maupun kerja sama ke depannya,” ujarnya.
Irwan menyatakan, fokus utama dari DTIIF ini adalah untuk membangun kepercayaan dengan para pemangku kebijakan terkait khususnya dalam hal ini adalah teknologi dan juga innovasi.
“Jadi, melalui platform ini kita harapkan mereka kita juga memahami. Danantara, di Indonesia memang berupaya untuk bisa mengembangkan investasi, teknologi, dan juga inovasi sehingga melalui interaksi dan juga melalui engagement tersebut bisa dibangun sebuah kepercayaan.
Forum ini menjadi ajang para peneliti, akademisi, dan perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk mendapat kepercayaan dan membangun ekosistem untuk berkembang.
Menanggapi hal tersebut, Tenaga Ahli Utama Bidang Organisasi dan Sumber Daya Manusia Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Walneg Sopia menyatakan, pemerintahan sejak tahun lalu telah mengupayakan untuk menjembatani semakin banyak hasil riset dan inovasi.
Upaya pemerintah untuk masuk ke pasar melalui kerjasama dengan industri, tidak terkecuali oleh Danantara dan BRIN, sudah dilakukan. Menurut Walneg, upaya Danantara tersebut sudah sejalan dengan upaya stake holder riset dan inovasi lainnya.
“Hal ini sangat positif dan BRIN menyambut baik. Periset tentu senang, bahwa ekosistem riset dan inovasi makin kondusif. BRIN dengan berbagai program dan upaya, sejak tahun lalu terus berusaha mendekatkan antara hasil riset dan inovasi dengan pasar dan industri,” ujarnya.





