Pantau - Kementerian Kebudayaan tengah menyiapkan program restorasi dan revitalisasi kompleks Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, menyusul ditemukannya kerusakan material bangunan serta indikasi keberadaan struktur candi lain di luar kawasan utama situs bersejarah peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya tersebut.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa upaya pelestarian Candi Muara Takus diperlukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut sekaligus menjaga nilai sejarah dan kebudayaan Buddha yang terkandung dalam kompleks percandian tersebut.
Berdasarkan keterangan pers Kementerian Kebudayaan yang disampaikan di Jakarta, Senin (19/10/2026), rencana restorasi tersebut disusun setelah Fadli melakukan peninjauan langsung ke kawasan Candi Muara Takus.
Dalam kunjungannya, Fadli berdialog dengan sejumlah arkeolog untuk mengetahui kondisi terkini bangunan candi, persoalan konservasi, serta perkembangan penelitian mengenai kemungkinan adanya struktur percandian lain di sekitar kompleks utama.
Peninjauan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menentukan langkah pelindungan dan pengelolaan kawasan Candi Muara Takus secara berkelanjutan.
Candi Muara Takus Alami Pelapukan dan Penggaraman Meski Pernah DipugarKompleks Candi Muara Takus diketahui pernah menjalani proses pemugaran selama sekitar sembilan tahun, yakni sejak 1978 hingga 1987.
Meski telah mengalami pemugaran, sejumlah bagian bangunan candi saat ini kembali menunjukkan tanda-tanda degradasi material akibat pelapukan dan penggaraman.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Kementerian Kebudayaan karena berpotensi memengaruhi ketahanan struktur bangunan bersejarah apabila tidak segera ditangani melalui metode konservasi yang tepat.
Fadli menegaskan bahwa pelestarian Candi Muara Takus tidak cukup dilakukan dengan memperbaiki bagian bangunan yang mengalami kerusakan.
Menurutnya, diperlukan sistem konservasi yang mempertimbangkan karakteristik material bangunan serta kondisi lingkungan di sekitar kawasan percandian.
"Upaya konservasi tidak cukup dilakukan melalui perbaikan fisik semata, tetapi perlu disertai sistem perlindungan material yang sesuai dengan kondisi lingkungan situs," katanya.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah pengaturan tata air di sekitar kawasan Candi Muara Takus untuk mengurangi dampak kondisi lingkungan terhadap material bangunan.
Selain itu, pengendalian tingkat kelembaban juga diperlukan karena kondisi yang terlalu lembab dapat mempercepat proses pelapukan dan memengaruhi ketahanan struktur candi.
Kementerian Kebudayaan turut mempertimbangkan kajian stabilisasi kimiawi material bangunan untuk mengatasi persoalan penggaraman yang ditemukan pada sejumlah bagian candi.
Kajian tersebut diharapkan menjadi dasar dalam menentukan metode konservasi yang mampu memperlambat kerusakan sekaligus mempertahankan keaslian struktur bangunan bersejarah.
Fadli Zon Ungkap Dugaan Candi Lain di Luar Pagar Kompleks Muara TakusSelain persoalan kerusakan bangunan, Fadli mengungkapkan adanya indikasi keberadaan struktur percandian lain di luar pagar utama kompleks Candi Muara Takus.
Saat ini, kawasan utama Candi Muara Takus diketahui memiliki empat bangunan candi yang telah ditemukan dan menjadi bagian dari kompleks bersejarah tersebut.
Namun, berdasarkan perkembangan penelitian arkeologis, kawasan percandian tersebut diduga memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan dengan area yang telah diketahui selama ini.
"Kompleks ini semestinya memiliki cakupan yang lebih besar daripada yang ditemukan sekarang, yakni terdiri atas empat candi. Mungkin terdapat candi-candi lain," kata Menteri Kebudayaan.
Fadli menjelaskan bahwa penelitian sebelumnya menunjukkan indikasi keberadaan struktur candi lain pada jarak sekitar 100 meter dari pagar utama kompleks.
Lokasi yang diduga menyimpan peninggalan tersebut kini telah berubah fungsi menjadi kawasan perkebunan.
Kondisi itu mendorong perlunya penelitian lanjutan untuk memastikan keberadaan struktur bangunan kuno yang kemungkinan masih terpendam di bawah permukaan tanah.
"Berdasarkan penelitian, pada jarak sekitar 100 meter di luar pagar juga ditemukan candi lain yang lokasinya sekarang menjadi kebun. Area ini nantinya akan kita coba ekskavasi sehingga mungkin dapat ditemukan struktur-struktur lainnya," ia menjelaskan.
Temuan tersebut dinilai penting karena dapat memberikan petunjuk mengenai bentuk, susunan, dan luas kawasan percandian pada masa lampau.
Tim Arkeolog Siapkan Ekskavasi untuk Menelusuri Struktur Candi yang TerpendamMenindaklanjuti indikasi keberadaan bangunan lain, tim peneliti tengah menyiapkan rencana ekskavasi atau penggalian arkeologis di sejumlah titik sekitar kompleks Candi Muara Takus.
Kegiatan tersebut bertujuan menemukan peninggalan arkeologis yang masih terpendam sekaligus memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai persebaran bangunan di kawasan percandian.
Penelitian lanjutan juga akan diarahkan untuk memetakan hubungan antara empat candi yang telah diketahui dengan kemungkinan struktur tambahan di luar pagar utama.
Melalui proses ekskavasi dan pemetaan, para peneliti diharapkan dapat mengidentifikasi susunan kompleks percandian secara lebih menyeluruh.
Hasil penelitian tersebut nantinya menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan batas kawasan situs yang membutuhkan pelindungan dan pengelolaan khusus.
Selain itu, data arkeologis yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk menyusun strategi konservasi serta perencanaan pengembangan kawasan Candi Muara Takus pada masa mendatang.
Penelitian tersebut juga diharapkan dapat memperluas pengetahuan mengenai sejarah pembangunan kompleks percandian dan perkembangan kebudayaan Buddha di Nusantara.
Candi Muara Takus Berkaitan dengan Sejarah Kerajaan SriwijayaKompleks Candi Muara Takus merupakan salah satu situs bersejarah yang memiliki kedudukan penting dalam perkembangan kebudayaan Buddha di Indonesia.
Berdasarkan kajian sejarah dan arkeologi, kawasan percandian tersebut memiliki keterkaitan dengan perkembangan peradaban Kerajaan Sriwijaya yang pernah memiliki pengaruh besar di Nusantara.
Nilai sejarah Candi Muara Takus tidak hanya berkaitan dengan perkembangan kebudayaan lokal, tetapi juga mencerminkan hubungan Nusantara dengan jaringan kebudayaan Buddhis di kawasan Asia.
Keberadaan kompleks percandian tersebut menjadi salah satu sumber penting untuk mempelajari perkembangan arsitektur, keagamaan, dan kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Fadli menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta para ahli arkeologi dan konservasi dalam menjalankan program restorasi dan revitalisasi Candi Muara Takus.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar perbaikan bangunan, penelitian arkeologis, dan pengembangan kawasan dapat dilakukan secara terencana dengan mempertimbangkan aspek ilmiah serta pelestarian warisan budaya.
Program restorasi dan revitalisasi yang disiapkan pemerintah tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki kondisi fisik bangunan, tetapi juga mencegah kerusakan material lebih lanjut.
Kementerian Kebudayaan berharap penelitian arkeologis yang dilakukan dapat mengungkap lebih banyak informasi mengenai sejarah kompleks Candi Muara Takus dan perkembangan peradaban Nusantara.
Melalui upaya konservasi dan penelitian berkelanjutan, pemerintah berupaya memastikan warisan sejarah tersebut tetap terlindungi serta dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan dan pendidikan bagi generasi mendatang.




