Liputan6.com, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong penerapan pendekatan agama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan, terutama di tengah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
Nasaruddin mengatakan, pendekatan ekoteologi dapat menjadi salah satu upaya untuk mendorong kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan. Menurut dia, penyampaian pesan melalui pendekatan agama dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga alam.
Advertisement
"Penyadaran masyarakat akan lingkungan itu tidak mungkin pendekatannya terlalu formal. Dengan menggunakan bahasa agama, kesadaran masyarakat untuk memelihara lingkungan itu sangat besar,” kata Nasaruddin dalam konferensi pers dua tahun kinerja Kementerian Agama di kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).
Dia menjelaskan, ajaran agama mengandung pesan mengenai pentingnya menjaga kehidupan seluruh makhluk hidup, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Karena itu, kesadaran menjaga lingkungan perlu dibangun sebagai bagian dari tanggung jawab moral masyarakat.
“Barang siapa yang membunuh satu nyawa sama dengan membunuh nyawa yang lain. Barang siapa yang menghidupkan satu nyawa sama dengan menghidupkan nyawa yang lain. Binatang punya nyawa, tumbuh-tumbuhan punya nyawa, manusia punya nyawa,” ujar dia.
Sebagai salah satu bentuk penerapan pendekatan tersebut, Kementerian Agama mendorong penyampaian pesan mengenai pelestarian lingkungan melalui khutbah seragam di wilayah yang terdampak karhutla.
“Kami mencoba untuk ada khutbah seragam di kawasan itu, betapa pentingnya kita memelihara lingkungan alam,” tutur Nasaruddin.
Selain melalui penyampaian pesan keagamaan, Kementerian Agama juga mengajak jajarannya di daerah untuk berkontribusi dalam penanganan bencana. Upaya tersebut melibatkan Kantor Urusan Agama (KUA), majelis taklim, madrasah, serta jemaah masjid untuk membantu masyarakat yang terdampak.
Nasaruddin juga mengimbau pengelola rumah ibadah agar dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia sebagai tempat pengungsian bagi warga terdampak bencana.
Menurut dia, rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, tetapi juga dapat berperan dalam membantu masyarakat dan memberikan dukungan kepada warga yang membutuhkan.
Sementara itu, Wakil Menteri Agama Muhammad Syafii mengatakan Kementerian Agama telah membentuk tim koordinasi penanganan bencana.
Dia juga menyampaikan bahwa siswa di lembaga pendidikan keagamaan, termasuk madrasah dan pesantren, telah diizinkan menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) di wilayah tertentu yang terdampak asap karhutla.
“Di Kalimantan itu untuk anak-anak sudah diizinkan mereka PJJ, supaya tidak terdampak dengan asap itu,” kata Syafii.




