Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melihat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai peluang investasi jangka panjang.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani mempertimbangkan masuk ke saham secara bertahap dengan mempertimbangkan valuasi dan fundamental perusahaan.
“Secara fundamental, secara teknikal, secara apa? Persepsi pasar dan lain-lain, ya, udah. Karena kita memutuskan untuk masuk secara bertahap,” ujar Rosan, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10).
Rosan mengatakan, sejumlah perusahaan BUMN memiliki fundamental yang solid dengan valuasi yang kini dinilai relatif murah. Ia mencontohkan saham perbankan yang memiliki rasio price to book value (PBV) rata-rata di bawah satu.
Selain valuasi, Rosan menyoroti potensi imbal hasil dividen dari saham perbankan. Dia menyebut dividend yield Bank Mandiri mencapai sekitar 16 persen, sedangkan BRI sekitar 13 persen.
Menurutnya, potensi investasi tak hanya berasal dari kenaikan harga saham, tetapi juga dari pembagian dividen yang bisa memberikan imbal hasil bagi investor.
“Kita masuk ke saham-saham yang tentunya sudah dianalisis baik secara fundamental. Kita kan lebih analisis secara fundamental,” lanjut dia.
Pernyataan Rosan itu disampaikan di tengah tekanan yang melanda pasar saham domestik. Pada perdagangan Senin (19/10), IHSG ditutup anjlok 3,64 persen ke level 4.996,6, sekaligus kembali berada di bawah level psikologis 5.000.
Berdasarkan data RTI Business, sebanyak 656 saham melemah, 100 saham menguat, dan 43 saham stagnan pada perdagangan tersebut.
Tekanan terhadap IHSG juga telah berlangsung sejak Jumat lalu, ketika perdagangan saham sempat mengalami penghentian sementara atau trading halt pada awal sesi.





