HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Suasana Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang Makassar seketika hening.
Di bawah rindangnya pepohonan dan tiupan angin tipis, gema lagu Mengheningkan Cipta membumbung pelan, merayap ke dalam sanubari setiap insan yang hadir.
Di tengah deretan batu nisan putih yang berbaris rapi, langkah kaki Ilham Arief Sirajuddin (IAS) mantap memasuki lapangan upacara.
Bersama seratusan kader dan pengurus Partai Golkar yang berbaris khidmat, politisi senior itu menundukkan kepala.
Sebuah penghormatan yang dalam dikirimkan untuk ruh para pejuang yang telah pergi mendahului.
Upacara ziarah dan tabur bunga ini digelar sebagai rangkaian khusus dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Hari Ulang Tahun Partai Golkar ke-62 tahun ini.
Pagi itu, perayaan bukan sekadar seremonial rutin. Bagi IAS dan keluarga besar Golkar, momentum bertambahnya usia partai menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan kembali sejarah panjang perjuangan bangsa.
Usai barisan upacara dibubarkan, IAS melangkah perlahan mengantarkan karangan bunga ke monumen utama, sebelum melanjutkan tradisi tabur bunga.
Langkahnya terhenti di sebuah pusara yang tak asing baginya—makam sang mertua, almarhum H. Ali Abdullah.
Sambil jemarinya mengusap nisan, doa-doa kebaikan dirapalkan.
Ziarah tersebut kemudian berlanjut ke makam mantan Gubernur Sulawesi Selatan, almarhum Amin Syam, serta sejumlah tokoh legendaris Sulsel lainnya yang telah mengabdikan hidup bagi daerah dan negara.
Ditemui usai merampungkan prosesi tabur bunga, wajah IAS memancarkan kesan mendalam.
Ia menegaskan bahwa di usia ke-62 tahun ini, kehadiran kader Golkar di TMP adalah bentuk kesadaran sejarah yang tak boleh padam.
“Golkar bisa hadir dan berdiri tegap di tengah bangsa hari ini semata-mata karena jasa para pahlawan. Tanpa perjuangan dan pengorbanan mereka, tidak ada fondasi bagi kita untuk melanjutkan pembangunan,” ujar IAS penuh penekanan.
Bagi Golkar, menghargai jasa pahlawan bukan sekadar seremonial ulang tahun semata, melainkan komitmen moral yang harus terus dirawat.
Bunga-bunga yang ditaburkan di atas tanah para pejuang menjadi pengingat bagi seratusan kader yang hadir: bahwa perjuangan belum usai, dan amanah para pahlawan kini berada di pundak mereka untuk terus mengabdi di tengah masyarakat. (amr)





