BMKG Prediksi Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

kompas.tv
3 jam lalu
Cover Berita
Ilustrasi hujan lebat. (Sumber: ANTARA/Aloysius Lewokeda)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah wilayah Indonesia, meskipun kondisi relatif kering masih mendominasi hingga November 2026.

Potensi hujan tersebut didukung aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta pertemuan dan perlambatan angin yang dapat memicu pertumbuhan awan hujan. Dalam kondisi tertentu, hujan berpotensi disertai kilat atau petir dan angin kencang.

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah pada dasarian III Oktober hingga dasarian II November 2026.

Namun, kondisi tersebut tidak tertutup kemungkinan terjadinya hujan signifikan dalam skala harian.

Baca Juga: BMKG: Titik Panas di Kalimantan Tengah Melonjak Jadi 937, Suhu Jawa Barat Capai 38,5 Derajat Celcius

Prakiraan Hujan hingga November 2026

Berdasarkan prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami curah hujan sebesar 0-150 milimeter per dasarian atau periode 10 harian pada dasarian III Oktober hingga dasarian II November 2026.

Kondisi relatif kering diperkirakan masih berlangsung di sebagian Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan.

Situasi tersebut sejalan dengan pengaruh El Nino dan Dipole Mode Index (DMI) positif yang secara umum cenderung mengurangi aktivitas konvektif atau pembentukan awan hujan di Indonesia.

"Meski demikian, kondisi tersebut tidak meniadakan peluang terjadinya hujan secara lokal akibat pengaruh dinamika atmosfer regional dan lokal," demikian pernyataan BMKG.

MJO dan Gelombang Atmosfer Dukung Pertumbuhan Awan Hujan

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi peluang hujan adalah aktivitas gelombang atmosfer yang diprakirakan berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia.

Baca Juga: Video Dugaan Dry Ice Rusak Atap Rumah Viral, BMKG Evaluasi Modifikasi Cuaca

BMKG memprakirakan Madden-Julian Oscillation (MJO) aktif pada 20-21 Oktober 2026 di sekitar Aceh, Kalimantan bagian utara, dan perairan utara Papua.

Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di Samudra Hindia sebelah barat Aceh dan Laut Andaman. Gelombang Kelvin juga diprakirakan aktif di sebagian Sumatera bagian selatan, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

"Aktivitas gelombang atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah yang didukung oleh kondisi atmosfer yang labil dan pemusatan massa udara, meskipun secara umum curah hujan masih diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah," kata BMKG.

Namun, aktivitas fenomena tersebut tidak serta merta membuat seluruh wilayah yang disebutkan mengalami hujan. Peluang dan intensitas hujan tetap bergantung pada kondisi atmosfer setempat.

Sirkulasi Siklonik Berpotensi Memengaruhi Pola Angin

Selain gelombang atmosfer, BMKG mencatat keberadaan sirkulasi siklonik di Laut Andaman, Laut Cina Selatan, dan perairan utara Kalimantan Barat.

Pengaruh tidak langsung Siklon Tropis Champi di timur Filipina juga turut memengaruhi pola pergerakan angin regional.

Kondisi tersebut berpotensi membentuk daerah pertemuan dan perlambatan angin di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Fenomena ini dapat meningkatkan pemusatan massa udara sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan.

Baca Juga: BMKG: 12 Wilayah Berpotensi Hujan Hari Ini Selasa 20 Oktober

Potensi tersebut diperkuat oleh kondisi atmosfer yang cukup labil di sebagian Sumatera bagian utara hingga tengah, Kalimantan, dan Papua.

"Kombinasi faktor tersebut berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang," kata BMKG.

Mengapa Hujan Masih Bisa Terjadi saat El Nino?

Pengaruh El Nino dan DMI positif secara umum dapat mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia. Namun, pengaruh tersebut tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan selalu kering.

Dinamika atmosfer regional dan lokal tetap dapat memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah tertentu. Aktivitas MJO, gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta pertemuan angin dapat menciptakan kondisi yang mendukung terjadinya hujan, meskipun wilayah di sekitarnya masih mengalami cuaca panas dan kering.

Kondisi ini menjelaskan mengapa curah hujan secara umum dapat diprakirakan rendah hingga menengah dalam skala dasarian, sementara hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tetap berpeluang terjadi dalam skala harian.

Masyarakat di wilayah yang berpotensi mengalami hujan perlu mewaspadai kemungkinan kilat atau petir, angin kencang, genangan, dan longsoran material.

Informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini terbaru dapat dipantau melalui laman resmi www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg. 

Baca Juga: Peringatan Dini BMKG 20-21 Oktober 2026: Ini Daftar Wilayah Waspada Hujan

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro

Sumber : Kompas TV

Tag
  • BMKG
  • potensi hujan
  • prakiraan cuaca
  • El Nino
  • gelombang atmosfer
  • hujan lebat
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Profil Linda Benny, Pengusaha Oli yang Kini Mengemban Tugas Plt Bupati Klaten
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Airlangga Sebut Politik, Ekonomi, Sosial Relatif Stabil
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Bahlil Minta HUT ke-62 Golkar Digelar Sederhana, Tak Boleh di Hotel
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenhut Berikan Sanksi Administratif pada 32 Perusahaan Penyebab Karhutla
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
OJK perkuat pasar modal dengan transparansi dan penegakan hukum
• 13 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.