JAKARTA, KOMPAS – Kebakaran hutan dan lahan yang belum teratasi, tak hanya berdampak pada penerbangan domestik dan internasional dari Indonesia. Namun, penerbangan di negara lain, khususnya Singapura dan Malaysia pun terganggu.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), 14 penerbangan internasional dibatalkan akibat asap kebakaran hutan dan lahan. Sebanyak 12 penerbangan rute Singapura-Pontianak pergi-pulang batal akibat asap di Bandara Supadio, Kalimantan Barat sepanjang 12-23 September 2026. Sementara itu, dua penerbangan rute Singapura-Palembang pergi-pulang pada 15 Oktober 2026 juga dibatalkan akibat asap di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Sumatera Selatan.
“Keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Setiap keputusan operasional harus mempertimbangkan kondisi cuaca, jarak pandang, serta hasil penilaian keselamatan oleh pihak terkait. Karena itu, penyesuaian jadwal penerbangan dapat dilakukan,” tutur Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F Laisa, di Jakarta, Senin (19/10/2026) malam.
Merujuk data per Senin, sedikitnya 2.604 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak kebakaran hutan dan lahan sejak 11 Agustus 2026. Jumlah itu bertambah 146 penerbangan dibandingkan data per 17 Oktober 2026 yang saat itu mencatat 2.458 penerbangan terganggu.
Dari data itu, 1.129 penerbangan terlambat (delay), 1.420 penerbangan dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed), 23 penerbangan dialihkan ke bandara lain (divert). Ada pula enam penerbangan kembali ke bandara keberangkatan (return to base), serta 26 penerbangan dengan keberangkatan lebih awal dari jadwal (advance).
Selama periode 13-17 Oktober 2026, dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan telah meluas ke sejumlah wilayah di luar Kalimantan, Papua, dan Sumatera. Kini, asap telah berdampak hingga ke Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan dan koordinasi lintas instansi untuk menjaga keselamatan operasional penerbangan,” kata Lukman.
Gangguan penerbangan tidak hanya dialami dalam negeri. Dampak kabut asap telah menyebar hingga ke sejumlah negara tetangga, khususnya Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina. Penerbangan dalam negeri terkait pun terhambat.
Mengutip Kantor Berita Malaysia, Bernama, media resmi nasional Malaysia, Pemerintah Malaysia berkomitmen membantu Indonesia dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Pihaknya menawarkan pesawat Bombardier CL-415MP, tiga helikopter, serta sekitar 50 petugas. Namun, rencana ini masih membutuhkan persetujuan resmi Indonesia.
Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, mengemukakan pada Senin (19/10/2026), Malaysia siap menurunkan aset dan petugas terkait. Walau kuantitas bantuan tak seberapa dibanding upaya pemadaman yang telah dilakukan Indonesia, tetapi ini merupakan niat Malaysia untuk membantu sebagai sesama negara serumpun.
“Bantuan kami sekecil apapun merupakan sebuah gesture yang baik untuk membantu negara jiran terdekat. Perdana Menteri Anwar Ibrahim juga telah menghubungi Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengenai hal ini,” tutur Hamidi.
Pihaknya berkomitmen untuk mengirimkan bantuan sebagai upaya menangani isu asap kebakaran hutan yang akhirnya telah menyebar ke Malaysia, Singapura, dan Timor-Leste.
Sebelumnya, maskapai berbiaya rendah (LCC), Firefly telah membatalkan sejumlah penerbangannya antara Kuala Lumpur, Malaysia dan Singapura. Keputusan ini diambil setelah asap kebakaran di Indonesia menyelimuti kawasan.
Dalam pernyataannya, penerbangan antara Sultan Abdul Aziz Shah Airport (SZB), Subang, dekat Kuala Lumpur dan Seletar Airport (XSP) di Singapura telah dibatalkan karena kondisi cuaca dan asap. Pihaknya menyebut sebagai upaya keselamatan proaktif yang terukur, seperti tertulis Aljazeera.
Pengumuman pertama pembatalan penerbangan terjadi pada 10 Oktober 2026, setidaknya berlanjut hingga 13 Oktober 2026. Alasannya masih sama karena turunnya jarak pandang karena kabut asap. Para penumpang terdampak telah dialihkan ke penerbangan Malaysia Airlines antara Bandara Internasional Kuala Lumpur dan Bandara Changi Singapura, berdasarkan ketersediaan kursi.
Pada 5 Oktober-11 Oktober 2026, ada 16 penerbangan dialihkan dari Bandara Seletar sebagai upaya pencegahan yang disebabkan rendahnya jarak pengelihatan dan kabut asap. Menurut Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) dan Changi Airport Group menyebut, sejumlah maskapai penerbangan lain juga memutuskan menyesuaikan atau membatalkan penerbangannya.
Seluruh petugas berkait dengan penerbangan diperintahkan untuk tetap waspada, mempertimbangkan ulang kegiatan luar ruang yang tidak begitu penting. Pihaknya juga memastikan ketersediaan stok masker N95 untuk para staf bandara, demikian dikutip dari CNA.
Merujuk laporan Celios, total biaya ekonomi dan biaya kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berpotensi mencapai Rp 39,29 triliun hingga Rp 123,1 triliun sepanjang Januari-Agustus 2026. Kerugian ekonomi senilai Rp 123,1 triliun sama dengan 49,1 persen produk domestik regional bruto (PDRB) Kalimantan Tengah pada 2026. Data-data tersebut belum memperhitungkan skenario meluasnya kebakaran hutan dan lahan hingga akhir 2026.
Sementara itu, total biaya ekonomi dari hilangnya aset fisik dan aktivitas ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan menyentuh Rp 29,54 triliun. Potensi penerimaan pajak daerah yang hilang mencapai Rp 269,86 miliar.
Berkaca dari kebakaran hutan dan lahan masif pada 2015, Bank Dunia memperkirakan kerugian yang dialami mencapai 16,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau Rp 221 triliun. Angka itu setara dengan 1,9 persen PDB pada 2025. Namun, ditambah dengan biaya yang harus dibayar oleh kawasan dan global, angkanya tentu lebih tinggi dari itu.
Saat itu, 2,6 juta hektar lahan dibuakan pada periode Juni-Oktober 2015. Luasnya setara 4,5 kali ukuran Pulau Bali. Api-api itu merupakan ulah manusia yang sengaja dinyalakan untuk menyiapkan lahan agrikultur dan membuka lahan dengan biaya yang murah.
“Absennya kontrol pembakaran atau rendahnya penegakan hukum membuat api berkobar tak terkendali, didukung kondisi kemarau dan diperparah efek El Nino,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Dampak ekonomi yang melaus dan krisis lingkungan terus terulang saban tahan, seiring dengan ratusan bisnis dan ribuan petani diuntungkan dari asumsi praktik pembukaan lahan. Sementara, puluhan juta warga Indonesia mempertaruhkan kesehatannya dan menanggung kerugian ekonomi.





