Transportasi Jakarta Naik ke Posisi Ke-15 Dunia, Sejauh Apa Pembenahannya?

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta naik dua peringkat ke posisi ke-15 dalam daftar kota dengan transportasi publik terbaik di dunia berdasarkan survei Time Out pada 2026. Sebanyak 79,2 persen responden menilai positif layanan angkutan umum di ibu kota. Di balik capaian tersebut, apa saja perubahan yang terjadi dalam setahun terakhir dan sejauh mana pengembangan transportasi publik telah memudahkan mobilitas warga?

Majalah Time Out memublikasikan pemeringkatan tersebut pada 13 Oktober 2026 berdasarkan survei terhadap lebih dari 24.000 warga di berbagai kota di dunia. Responden diminta menilai layanan transportasi publik di kota tempat tinggal mereka dengan skala satu hingga lima, dari buruk hingga sangat baik.

Dari penilaian tersebut, Time Out memilih 20 kota dengan persentase tertinggi responden yang menilai layanan bus, kereta, dan trem di kotanya baik atau sangat baik. Setiap negara hanya diwakili satu kota dengan penilaian tertinggi.

Taipei, Taiwan, menempati posisi pertama dengan 95 persen penilaian positif, disusul Singapura dengan 93,5 persen dan Hong Kong dengan 92,8 persen.

Edinburgh, Inggris, berada di posisi keempat (92,4 persen), diikuti Seoul, Korea Selatan (91,1 persen), Zurich, Swiss (90,7 persen), dan Wina, Austria (90,3 persen). Selanjutnya, Tallinn, Estonia, meraih 85,3 persen, Helsinki, Finlandia, 83,6 persen, dan Medellin, Kolombia, 83 persen.

Shanghai, China, berada di peringkat ke-11 (82,7 persen), disusul Warsawa, Polandia (81,9 persen), Osaka, Jepang (81,6 persen), dan Stockholm, Swedia (80,3 persen).

Jakarta, Indonesia, menempati peringkat ke-15 dengan 79,2 persen penilaian positif. Di bawahnya, terdapat Riyadh, Arab Saudi (78,2 persen), Hamburg, Jerman (77 persen), Amsterdam, Belanda (76,9 persen), Vancouver, Kanada (76,7 persen), dan Oslo, Norwegia (75,9 persen).

Kemudahan berpindah moda

Dalam pemeringkatan tersebut, Time Out menyoroti sejumlah faktor yang memengaruhi penilaian warga terhadap transportasi publik, antara lain ketepatan waktu, kebersihan, keterjangkauan tarif, dan kemudahan berpindah moda.

Taipei, misalnya, mengandalkan integrasi layanan dan sistem pembayaran untuk memudahkan mobilitas warga. Melalui kartu EasyCard, penumpang dapat membayar perjalanan MRT dan bus, serta menyewa sepeda YouBike untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan yang tidak terjangkau langsung oleh angkutan umum.

Kemudahan akses tersebut didukung oleh jaringan transportasi yang melayani jutaan perjalanan setiap hari. Sepanjang 2025, MRT Taipei mengangkut lebih dari 767 juta penumpang atau rata-rata sekitar 2,1 juta penumpang per hari.

Pengembangan jaringan juga terus berlanjut di kawasan sekitarnya. Di New Taipei, jalur kereta ringan dan Circular Line mencatat total 30 juta perjalanan sepanjang 2025.

Di Singapura, ketepatan waktu menjadi salah satu indikator kinerja transportasi publik. Otoritas Transportasi Darat Singapura mencatat sekitar 99,4 persen perjalanan kereta berlangsung tepat waktu sepanjang 2025. Jaringan MRT negara tersebut memiliki 146 stasiun dan melayani sekitar 3,5 juta perjalanan setiap hari.

Perluasan jaringan juga terus dilakukan. Pada Juli 2026, Singapura mengoperasikan tiga stasiun tambahan di jalur Circle Line, yakni Keppel, Cantonment, dan Prince Edward Road. Penambahan tersebut melengkapi jalur yang kini membentuk lingkaran penuh setelah proses pembangunan selama lebih dari 30 tahun.

Baca JugaLRT Jakarta Meluncur sampai Manggarai, Ini Spesifikasinya

Di Hong Kong, integrasi transportasi didukung oleh kartu Octopus yang dapat digunakan untuk membayar berbagai layanan, mulai dari kereta dan trem hingga kapal feri Star Ferry yang menghubungkan kedua sisi Pelabuhan Victoria.

Ketepatan waktu juga menjadi salah satu keunggulan layanan kereta di kota tersebut. Sepanjang 2025, sebanyak 99,9 persen perjalanan penumpang tercatat tepat waktu, sementara jumlah perjalanan yang dilayani mendekati 2 miliar.

Sementara itu, Edinburgh menunjukkan bagaimana layanan bus dan trem dapat saling melengkapi. Lothian Buses, operator bus yang sebagian besar kepemilikannya berada di tangan pemerintah daerah, mencatat 119 juta perjalanan penumpang sepanjang 2025. Pada tahun yang sama, layanan trem Edinburgh mencatat rekor 12,5 juta perjalanan.

Jumlah penumpang trem meningkat setelah jalurnya diperpanjang hingga Newhaven melalui kawasan Leith pada 2023. Penumpang juga dapat menggunakan kartu nirsentuh (contactless) dengan batas tarif harian atau mingguan yang berlaku untuk layanan bus dan trem.

Baca JugaPerkuat Aplikasi JakLingko untuk Satu Pintu Transportasi Jakarta

Di Seoul, keterjangkauan tarif menjadi salah satu faktor pendukung. Kota tersebut menyediakan kartu perjalanan berlangganan yang mencakup penggunaan kereta bawah tanah, bus, dan sepeda berbagi pakai. Pilihan ini membantu warga mengatur pengeluaran transportasi, terutama bagi mereka yang menggunakan angkutan umum setiap hari.

Integrasi serupa terlihat di Zurich. Satu tiket dapat digunakan untuk mengakses berbagai moda, mulai dari trem, bus, kereta komuter, kereta gantung, hingga kapal yang melintasi Danau Zurich dan Sungai Limmat. Kemudahan tersebut membuat perpindahan antarmoda menjadi bagian dari satu rangkaian perjalanan.

Pengembangan transportasi Jakarta

Lalu, bagaimana dengan Jakarta? Gubernur Jakarta Pramono Anung menilai, kenaikan peringkat dalam survei Time Out berkaitan dengan integrasi layanan yang semakin luas, mulai dari MRT Jakarta, LRT Jakarta, Transjakarta, Transjabodetabek, hingga Mikrotrans. Dalam survei tersebut, Jakarta naik dari peringkat ke-17 pada 2025 menjadi ke-15 pada 2026.

”Kenapa Jakarta bisa naik dua tingkat? Karena integrasi MRT, LRT, Transjakarta, Transjabodetabek, terutama, dan juga Mikrotrans sekarang ini menjadi jauh lebih baik,” ujar Pramono di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Ke depan, Pemerintah Provinsi Jakarta (Pemprov) akan melanjutkan pengembangan jaringan transportasi, terutama untuk menjangkau kawasan yang belum terhubung dengan layanan angkutan umum. Perluasan Transjabodetabek menjadi salah satu fokus agar perjalanan warga dari Jakarta menuju wilayah penyangga maupun sebaliknya semakin mudah.

”Saya akan melanjutkan, mengoneksikan yang belum terkoneksi yang ada di Jakarta ini, terutama untuk Transjabodetabek. Karena itulah yang secara signifikan mengurangi kemacetan di Jakarta,” katanya.

Pramono menyebut, konektivitas transportasi Jakarta saat ini telah mencapai 93 persen. Ia berharap, angka tersebut meningkat pada 2028 seiring dengan pengembangan MRT Jakarta, perpanjangan LRT Jakarta dari Kelapa Gading hingga Dukuh Atas, serta perluasan rute Transjabodetabek.

”Dengan pengembangan tersebut, semoga warga semakin mudah menjangkau berbagai tujuan menggunakan transportasi publik,” ucapnya.

Selain itu, Pramono mengapresiasi posisi Jakarta yang berada di peringkat kedua Asia Tenggara setelah Singapura dan peringkat ketujuh di Asia dalam survei Time Out. Terlebih, penilaian tersebut berasal dari lembaga eksternal, bukan survei yang dilakukan Pemprov Jakarta.

”Yang menggembirakan bagi saya adalah tingkat kepuasan masyarakat. Survei ini bukan dilakukan oleh Pemprov Jakarta, melainkan oleh lembaga internasional. Hasilnya, 79,2 persen responden memberikan penilaian positif terhadap transportasi publik di Jakarta,” tutur Pramono.

Perluasan jaringan

Sejalan dengan upaya memperluas konektivitas, pengembangan transportasi publik Jakarta dalam setahun terakhir berlangsung melalui pembangunan jaringan kereta dan penambahan layanan bus. Sejumlah proyek juga disiapkan untuk memperluas jangkauan angkutan umum hingga beberapa tahun mendatang.

Pada moda berbasis rel, MRT Jakarta saat ini melayani penumpang melalui 13 stasiun di jalur Fase 1 sepanjang 15,7 kilometer, dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Sepanjang 2025, jumlah penumpang rata-rata mencapai 127.810 orang per hari. Tingkat ketepatan waktu perjalanan tercatat 99,98 persen, sedangkan pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM) mencapai 99,31 persen.

Baca JugaUngguli Bangkok dan Kuala Lumpur, Apa PR Transportasi Jakarta?

Jaringan MRT Jakarta akan diperluas melalui pembangunan Fase 2A dari Bundaran HI menuju Kota. Jalur ini akan menambah tujuh stasiun dan dioperasikan secara bertahap. Segmen Bundaran HI–Monas direncanakan mulai beroperasi pada 2027, sedangkan keseluruhan jalur hingga Kota ditargetkan rampung pada 2029.

LRT Jakarta juga memperluas jaringannya. Setelah lima stasiun tambahan diresmikan pada 16 September 2026, jaringan LRT Jakarta memiliki 11 stasiun. Pengembangan berikutnya direncanakan menghubungkan Kelapa Gading dengan Dukuh Atas, dengan target pengembangan pada 2028.

Di luar jaringan kereta, Pemprov Jakarta mengembangkan layanan Transjakarta dan Transjabodetabek untuk memperluas jangkauan transportasi publik, baik di dalam kota maupun ke wilayah penyangga. Transjakarta memiliki 269 halte yang tersebar di 14 koridor utama. Sepanjang 2025, layanan ini mengangkut 413 juta pelanggan, meningkat dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir.

Sementara itu, Transjabodetabek terus memperluas konektivitas Jakarta dengan daerah sekitarnya melalui 16 rute. Pada 11 Februari 2026, Pemprov Jakarta membuka rute Cawang–Cikarang dengan kode B51 yang didukung 14 bus.

Perluasan layanan berlanjut pada 12 Maret 2026 melalui pembukaan rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta dengan kode SH2. Rute ini didukung 14 bus dan melayani 23 titik pemberhentian, dengan estimasi waktu perjalanan sekitar 121 menit.

Konektivitas Jakarta dengan wilayah penyangga juga didukung jaringan kereta yang dikembangkan pemerintah pusat, yakni LRT Jabodebek dan KRL Commuter Line, yang melayani perjalanan di kawasan Jabodetabek.

LRT Jabodebek memiliki 18 stasiun, dengan 12 stasiun berada di Jakarta dan enam lainnya di wilayah penyangga, yakni Depok dan Bekasi. Sementara itu, KRL Commuter Line melayani sekitar 84 stasiun di jaringan Jabodetabek, dengan 45 stasiun berada di wilayah Jakarta.

KRL menghubungkan Jakarta dengan sejumlah kawasan penyangga, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Jangkauan layanan tersebut juga terus berkembang, salah satunya melalui pengoperasian Stasiun Jakarta International Stadium (JIS) di Jakarta Utara yang mulai melayani penumpang pada 22 Juni 2026.

Pekerjaan rumah

Meski demikian, Jakarta masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan kualitas transportasi publik, terutama dalam memudahkan penumpang berpindah moda. Jaringan bus dan kereta yang semakin luas perlu didukung akses yang nyaman, jarak perpindahan yang tidak terlalu jauh, serta waktu tunggu yang tidak terlalu lama.

Devika (28), warga Jakarta Pusat, menilai, Jakarta dapat belajar dari Singapura dalam mengembangkan transportasi publik. Menurut dia, naik transportasi umum seharusnya bisa membuat perjalanan lebih mudah, bukan justru menambah kerepotan saat harus berganti kendaraan.

”Kalau pindah dari satu moda ke moda lain, jangan sampai kita malah bingung harus lewat mana atau harus jalan jauh dulu. Apalagi kalau sedang buru-buru. Hal-hal seperti itu juga perlu diperhatikan,” ujarnya.

Devika juga menyoroti akses menuju halte dan stasiun, mulai dari trotoar yang kurang nyaman hingga minimnya tempat berteduh dan fasilitas penyeberangan. Menurut dia, penataan jalur pejalan kaki perlu menjadi bagian dari pengembangan transportasi publik.

Selain itu, ia menilai informasi jadwal, waktu tempuh, dan gangguan layanan berbagai moda perlu tersedia dalam satu aplikasi agar warga lebih mudah merencanakan perjalanan dan mencari rute alternatif.

”Aplikasi JakLingko bisa dibuat lebih mudah digunakan dan tidak sering eror. Jadi, warga bisa mengecek jadwal dan mencari rute perjalanan dari satu aplikasi saja,” katanya.

Dengan berbagai pembenahan tersebut, Devika berharap transportasi publik Jakarta semakin nyaman dan praktis digunakan. Biaya perjalanan pun perlu tetap terjangkau agar semakin banyak warga tertarik beralih dari kendaraan pribadi.

”Harapannya transportasi publik Jakarta semakin nyaman dan mudah digunakan, sehingga tingkat kepuasan penggunanya bisa meningkat hingga di atas 80 persen,” ucapnya.

Persoalan jangkauan layanan juga dirasakan Chelsea (25), warga Jakarta Selatan. Menurut dia, pilihan transportasi publik di Jakarta memang semakin beragam, tetapi akses dari tempat tinggal menuju halte atau stasiun belum selalu mudah.

Akibatnya, sebagian warga masih harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menggunakan ojek atau kendaraan lain sebelum melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum.

”Kalau rumahnya dekat halte atau stasiun memang enak. Tapi kalau harus naik ojek dulu, ongkosnya jadi bertambah. Kadang malah jadi mikir, lebih baik bawa kendaraan sendiri atau naik transportasi umum,” kata Chelsea.

Baca JugaDilema Transportasi Pekerja Penyangga Jakarta

Ia berharap angkutan pengumpan dapat menjangkau lebih banyak kawasan permukiman, terutama wilayah yang belum terlayani dengan baik. Dengan begitu, warga memiliki pilihan transportasi untuk mencapai halte atau stasiun tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan yang besar.

Chelsea juga menyoroti waktu tunggu dan kepadatan penumpang pada jam berangkat dan pulang kerja. Frekuensi perjalanan dinilai perlu disesuaikan dengan jumlah penumpang agar waktu tunggu tidak terlalu lama dan kepadatan di dalam kendaraan dapat dikurangi.

Ketua Fraksi PKS DPRD Jakarta sekaligus anggota Komisi B DPRD Jakarta, M. Taufik Zoelkifli, mengatakan, kenaikan peringkat Jakarta dalam survei Time Out perlu diikuti pemerataan layanan dan penguatan integrasi transportasi.

Menurut Taufik, penguatan angkutan pengumpan dan penyediaan fasilitas yang ramah bagi lansia serta penyandang disabilitas perlu menjadi bagian dari pengembangan layanan. Evaluasi berkala juga diperlukan untuk menyesuaikan rute, frekuensi perjalanan, dan kapasitas angkutan dengan kebutuhan penumpang.

Selain itu, Taufik menyoroti keberlanjutan Transjabodetabek yang menghubungkan Jakarta dengan kota penyangga. Ia menilai layanan lintas daerah tersebut membutuhkan komitmen bersama, termasuk dalam pembiayaan operasional dan subsidi.

”Mobilitas warga setiap hari sudah melintasi batas administrasi. Karena manfaatnya dirasakan bersama, pemerintah daerah terkait juga perlu menyepakati pembagian tanggung jawab pelayanan dan subsidi secara adil,” ujarnya.

Untuk itu, Taufik mendorong Pemprov Jakarta menginisiasi kesepakatan pembiayaan yang transparan dan terukur dengan pemerintah daerah terkait. Kontribusi setiap daerah, menurut dia, dapat mempertimbangkan kebutuhan layanan, pola perjalanan penumpang, manfaat yang diterima, serta kemampuan fiskal masing-masing daerah.

Kerja sama itu juga perlu mencakup pengembangan jaringan angkutan di wilayah penyangga agar layanan lintas daerah tidak hanya menghubungkan satu kota dengan kota lain, tetapi juga terintegrasi dengan kawasan permukiman dan pusat aktivitas warga.

”Jakarta tetap berkepentingan mendukung angkutan lintas wilayah karena manfaatnya juga kembali kepada Jakarta. Namun, keberlanjutan layanan akan lebih kuat jika ditopang komitmen dan pembiayaan bersama. Pembahasannya harus berorientasi pada keberlangsungan layanan dan keterjangkauan tarif bagi penumpang,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jika Perang Kembali Pecah, Garda Revolusi akan Targetkan Kabel Internet di Selat Hormuz
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
16 Ilmuwan BRIN Masuk Daftar 2 Persen Ilmuwan Terbaik Dunia 2026, Jumlahnya Naik 33,3 Persen
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Kemensos dan CIMA Bakal Wadahi Lulusan Sekolah Rakyat di Industri Maritim
• 6 jam laludetik.com
thumb
2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Deretan Alutsista Baru Perkuat Pertahanan Indonesia
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Jadwal KRL Hari Ini 20 Oktober 2026 Rute Nambo-Jakarta Kota, Cek Sebelum Berangkat
• 17 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.