Kebakaran di TN Way Kambas Ancam Keselamatan Satwa Liar

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS – Kebakaran hutan di Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, hingga kini masih belum padam. Kebakaran sudah berlangsung tiga pekan dan mengancam keselamatan satwa liar di dalamnya.

Ketua Forum HarimauKita drh Sugeng Dwi Hastono mengatakan, kebakaran hutan tidak hanya menghancurkan vegetasi tanaman yang ada di dalam hutan. Habitat dan keselamatan berbagai jenis satwa liar, termasuk harimau juga terancam.

“Tumbuhan yang habis menjadi arang dan abu, membuat habitat harimau dan satwa lainya musnah. Tidak ada lagi tempat yang nyaman untuk harimau bersembunyi, beristirahat, dan berkamuflase,” kata Sugeng pada Selasa (20/10/2026).

Menurut dia, kebakaran hutan menimbulkan asap yang dapat menganggu pernafasan satwa dan memicu stres. Musim kemarau juga membuat sumber air dan pakan di dalam hutan semakin menipis. Satwa liar yang tidak mampu bertahan di dalam hutan berpotensi pergi keluar hutan atau mati.

“Api juga meningkatkan risiko luka bakar dengan berbagai tingkat keparahan hingga kematian bagi satwa liar. Hilangnya habitat membuat satwa sulit mendapat sumber pakan dan air minum hingga dapat mengalami gangguan kesehatan akibat terpapar asap karhutla,” katanya.

Selain upaya pemadaman api, pemerintah juga perlu melibatkan tim penyelamatan satwa untuk melakukan mitivasi dan evakuasi jika ditemukan adanya satwa yang terdampak karhutla. Pemerintah juga harus menjamin ketersediaan peralatan dan fasilitas medis.

“Tim penyelamatan perlu dipersiapkan dalam upaya menghadapi berbagai kondisi satwa jika dibutuhkan penanganan yang lebih lanjut, misalnya operasi, perawatan intensif dan lainnya,” katanya.

Sejauh ini, memang belum ada laporan terkait satwa dilindungi yang terdampak karhuta di TNWK. Namun, deteksi dini munculnya hotspot dan kegiatan patroli lapangan harus ditingkatkan untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan. Petugas juga perlu melakukan identifikasi tumbuhan yang terbakar dan melakukan penanaman kembali.

Selama ini, TNWK memang menjadi benteng bagi penyelamatan sejumlah satwa dilindungi. TN Way Kambas menjadi kawasan konservasi dan pengembangbiakan gajah Sumatera dan badak Sumatera.

Dari pengamatan kemera pemantau maupun pengamatan langsung, sejumlah satwa liar, seperti harimau Sumatera dan tapir, ditemukan hidup dalam TNWK. Hutan konservasi itu juga menjadi rumah bagi satwa lain, seperti burung, rusa, kukang, buaya, dan berbagai jenis primata lainnya.

Sepanjang Januari hingga awal Oktober 2026, kebakaran hutan berulangkali terjadi di TNWK. Merujuk data TNWK, setidaknya terjadi 21 kali insiden kebakaran hutan dengan luas kawasan hutan yang terbakar sepanjang tahun 2026 mencapai 7.000 hektar.

Baca JugaKebakaran 204 Hektar di TN Way Kambas Lampung hingga Juli 2025, Terbanyak Semak Belukar
Pemadaman

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Aswarodi mengatakan, pemantauan titik panas terus dilakukan melalui citra satelit, aplikasi Pusdalops, serta laporan masyarakat dan BPBD kabupaten/kota. Data tersebut terus diperbaharui setiap hari untuk memantau perkembangan karhutla.

Saat ini, petugas gabungan masih berupaya memadamkan api di kawasan TNWK. “Upaya pemadaman dari darat telah menjangkau sekitar 192 hektar. Operasi water bombing atau pengeboman air juga terus dilakukan dengan estimasi area jankauan mencapai 124 hektar,” katanya.

Data per Senin (19/10/2026), masih terdapat sekitra 30 hektar area yang terbakar dan berasap. Area tersebut tersebar sejumlah lokasi berbeda sehingga memerlukan upaya pemadaman dari jalur darat dan udara.

Kawasan yang terbakar didominasi oleh vegetasi semak belukar dengan karakteristik tanah gambut. Kondisi itu membuat proses pemadaman membutuhkan suplai air dan waktu yang lebih lama. Selain itu, api juga bisa kembali muncul di lokasi yang sudah dipadamkan akibat embusan angin kencang.

Selain pemadaman melalui jalur darat dan udara, pemerintah juga melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk memicu turunnya hujan. Akan tetapi, tidak adanya pertumbuhan awan hujan membuat operasi modifikasi cuaca masih dihentikan sementara, BMKG Lampung masih memantau kondisi cuaca dan pertumbuhan awan hujan.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meminta upaya penanganan karhutla diperkuat hingga ke tingkat desa. Dia menyebut, data titik panas harus digunakan sebagai dasar mitigasi. BPBD Lampung juga diminta menyusun pola persebaran titik panas dan menyampaikan hasilnya kepada pemerintah kabupaten/kota agar kepala desa dapat mengidentifikasi kebiasaan pembakaran di wilayahnya masing-masing. Pemerintah kabupaten/kota juga agar meningkatkan sosialisasi dan mencegah aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran selama musim kering.

Baca JugaKebakaran 204 Hektar di TN Way Kambas Lampung hingga Juli 2025, Terbanyak Semak Belukar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sakit atau Sedang PKL Saat TKA 2026? Ini Syarat Mengajukan Ujian Susulan
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
BI Purwokerto perkuat ekosistem ekonomi syariah Banyumas Raya
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Singkong Cuma Laku Rp 2.000 per Kg, Warga Keladen Cari Cara Tambah Penghasilan
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Rupiah Dibuka Naik ke Rp18.024/USD
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Massa Mahasiswa dan Aliansi Masyarakat Gelar Aksi di Tugu Tani Jakpus
• 13 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.