Kebakaran pada Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi terjadi pada Selasa sore, 20 Oktober 2026, di perairan sekitar Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten. Kapal tersebut tengah dalam proses bersandar setelah menyeberang dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung, dengan membawa ratusan penumpang.
Sekitar pukul 16.15 WIB, percikan api mulai muncul di buritan bagian belakang kapal, tepatnya di dek atas yang digunakan untuk memuat kendaraan kecil.
Api kemudian dengan cepat menyebar hingga menghasilkan kepulan asap hitam tebal yang terlihat dari daratan. Kondisi kapal saat kebakaran berlangsung adalah sedang menunggu jadwal berlabuh sehingga api dan asap mudah terdeteksi oleh petugas di sekitar Pelabuhan Merak.
Penyebab pasti kebakaran saat ini masih dalam penyelidikan oleh pihak berwenang. Proses investigasi akan fokus pada sebab munculnya percikan api pertama yang memicu kebakaran ini.
Proses Evakuasi Penumpang dan Awak KapalEvakuasi berlangsung cepat dan terkoordinasi berkat kerja sama Tim SAR gabungan yang terdiri dari Badan SAR Nasional (Basarnas) Banten, Polairud, Lanal Banten, serta sejumlah kapal nelayan setempat. Peran aktif masyarakat dan sejumlah pihak terkait sangat membantu dalam proses penyelamatan ratusan penumpang tersebut.
Evakuasi dilakukan melalui tiga titik utama, yaitu Jetty Medaksa, Pelabuhan Mabak, dan Pelabuhan ASDP. Penumpang dan awak kapal dievakuasi menggunakan sekoci serta kapal nelayan, kemudian diarahkan ke posko darurat yang berada di Mall Sosoro, Dermaga Eksekutif Pelabuhan Merak, untuk pendataan dan pemeriksaan lebih lanjut.
Selain itu, sekitar 5 hingga 10 unit ambulans disiagakan untuk mengatasi kemungkinan adanya korban yang membutuhkan penanganan medis.
Beruntung, insiden ini tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Penumpang yang dievakuasi dalam kondisi aman, meskipun ada beberapa luka ringan yang umumnya akibat benturan saat proses evakuasi.
Kerusakan kapalnya sendiri cukup signifikan, khususnya di area dek atas yang terbakar dan sejumlah bagian lain yang terdampak asap dan panas.
Meskipun terjadi kebakaran, operasional Pelabuhan Merak tetap berjalan tanpa gangguan berarti. Jalur utama pelayaran Merak-Bakauheni tetap aman dan aktif karena posisi kapal yang terbakar tidak menghalangi lintasan kapal lain.
Baca Juga:Pemerintah Tanggapi Aksi Greenpeace di Bundaran HI, Bagian Kebebasan Berpendapat
Pemadaman kebakaran di tengah laut menghadirkan sejumlah tantangan. Tim pemadam yang terlibat meliputi personel dari Basarnas, Polairud, Angkatan Laut, dan kapal-kapal lain yang beroperasi di perairan Merak. Mereka terus menyiramkan air agar api tidak semakin membesar dan mengurangi risiko kebakaran yang lebih parah.
Tantangan utama adalah lokasi kebakaran yang berada sekitar 2,5 mil dari daratan, yang memperlambat akses penanganan dan menyebabkan asap tebal menyebar ke area sekitar. Selain itu, selama proses pemadaman terjadi beberapa ledakan kecil dari dalam kapal, yang membuat petugas mengimbau kapal nelayan kecil agar tidak terlalu mendekati kapal yang terbakar demi keselamatan.
Pengamanan wilayah pun dilakukan dengan ketat untuk menjaga kelancaran aktivitas pelayaran di jalur utama Merak-Bakauheni. Meski kebakaran terjadi, alur pelayaran tetap terjaga aman karena kapal yang terbakar terbawa arus ke arah pesisir Pantai Merak sehingga tidak menghambat arus kendaraan dan kapal lain yang melintas.
Baca Juga:Pertamina Tambah Pasokan BBM Hingga 700 KL per Hari Guna Kurangi Antrean Di SPBU Jember





